Minum air rebusan daun (herbal) itu budaya kita. Dari daun sirsak, kumis kucing, sampai akar bajakah.
"Lebih aman. Alami. Gak ada kimianya." Mohon maaf itu keliru. Segala sesuatu di bumi ini adalah kimia. Herbal itu aman jika dan hanya jika kamu mematuhi protokolnya.
Baca juga: PT Sukses Genggam Semesta Ekspor Obat Herbal ke Arab Saudi
Jika asal rebus? Kamu sedang memasak "sup racun" untuk ginjalmu. Mari kita bahas syarat mutlak agar rebusanmu menjadi obat, bukan penyakit.
Ini kesalahan fatal nomor satu. Merebus jamu pakai panci aluminium. Kenapa bahaya? Zat aktif dalam herbal (Alkaloid, Flavonoid, Asam) itu keras. Saat mendidih, dia bisa bereaksi dengan logam aluminium. Logamnya larut, masuk ke air rebusan.
Niat hati minum obat, malah minum heavy metal (logam berat). Halo, alzheimer dan ginjal rusak.
Gunakan panci stainless steel, kaca, atau kasta tertinggi: kendi tanah liat. Tanah liat itu netral dan stabil terhadap panas. Nenek moyang kita jenius.
Rebus sekalian sepanci besar buat 3 hari, taruh kulkas. Jangan improvisasi. Kenapa bahaya? Rebusan herbal itu tidak pake pengawet.
Air + sari pati tanaman = pesta pora bakteri. Dalam hitungan jam (terutama di suhu ruang), bakteri sudah dugem disana. Mungkin rasanya belum basi, tapi isinya sudah penuh mikroba. Selain itu, zat aktifnya gampang teroksidasi (rusak) kena udara.
Masak sekali minum. Maksimal simpan 12 jam di kulkas (wadah tertutup rapat). Lebih dari 24 jam? Buang. Itu air comberan.
Makin pekat makin mantap! Kalau perlu sampai airnya item! Kenapa bahaya? Konsep makin banyak makin bagus itu sesat.
Contoh: kumis kucing. Bagus buat kencing batu. Tapi kalau kamu minum terlalu pekat dan terlalu lama, sifat diuretiknya malah bikin ginjalmu kerja rodi sampai kering dan iritasi.
Daun sirsak. Kalau overdosis, dia membunuh bakteri baik di usus. Kamu diare parah. Ikuti takaran umum (misal: 3-5 lembar daun untuk 2 gelas air, direbus jadi 1 gelas). Jangan bikin Espresso Herbal.
Herbal rebusan bukan nasi yang harus dimakan tiap hari seumur hidup. Kenapa bahaya? Banyak herbal mengandung senyawa yang menumpuk di tubuh (akumulatif).
Contoh: Ginseng atau akar-akaran tertentu bisa menaikkan tensi kalau diminum nonstop setahun. Gunakan sistem jeda (cycling). Minum rutin 2 minggu, stop 1 minggu. Biarkan liver dan ginjalmu istirahat (bilas racun).
Kalau keluhan hilang, ya sudah stop. Jangan diteruskan cuma karena "sayang sisa daunnya".
Ini peringatan keras. Jika kreatinin-mu sudah tinggi (Ginjal bermasalah/gagal ginjal), stop rebusan. Kenapa? Ginjal yang rusak itu saringannya jebol. Dia tidak bisa memilah ampas-ampas mikroskopik dari rebusan herbal. Ampas itu akan menyumbat saringan yang tersisa.
Pasien cuci darah yang nekat minum herbal biasanya berakhir di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan sesak napas karena cairan menumpuk. Konsultasi dokter dulu. Jangan berjudi dengan sisa ginjalmu.
Herbal itu anugerah Tuhan. Tapi Tuhan juga memberimu akal untuk mengolahnya.
Rebusan itu aman jika: pancinya stainless/tanah liat. Sekali masak sekali minum. Tidak overdosis (pekat). Tahu kapan harus berhenti. Jangan sampai niatnya "Back to Nature", eh malah "Back to God." (*)
*) Source : Apt. Andi Permana
Editor : S. Anwar