Selain swasembada beras, Presiden Republik Indonesia, Soeharto juga punya angan-angan swasembada sapi. Lalu pada tahun 1974, di lereng Gunung Gede Pangrango, Desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, dibangun Peternakan Tapos seluas 750 hektar oleh PT Rejo Sari Bumi (RSB) - perusahaan Sigit Harjojudanto, anak kedua Soeharto.
Soeharto kepengin peternakan ini jadi pusat riset, penghasil ternak unggulan-yang kemudian bakal ditransmigrasikan, serta cetak biru peternakan modern Indonesia. Di sisi lain, Peternakan Tapos juga dianggap sebagai inner child-nya beliau hidup di pedesaan sebagai petani.
Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia
Peternakan Tapos pada akhirnya terbengkalai dan swasembada sapi tidak pernah tercapai. Pada April 1975, Presiden Soeharto diajak Perdana Menteri Australia Gough Whitlam berkeliling di perkebunan lepas pantai Townsville, Queensland.
Soeharto kagum melihat sapi-sapi di perkebunan tersebut. Bobotnya berton-ton, dagingnya tebal-tebal. Gagah. King sapi. la pun menyatakan keinginannya mendatangkan sapi jenis Brahman ke Perkebunan Tapos.
Lewat operasi Andhini Bakti (Andhini dalam sansekerta berarti sapi), Armada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) menjemput sapi-sapi tersebut
Mungkin bukan Soeharto sebagai Presiden maupun jenderal yang mengelus punggung sapi-sapi di peternakan itu, melainkan Soeharto kecil yang sejak awal bermimpi hidup di alam pedesaan sebagai petani.
Peternakan ini bak tempat kesayangan Soeharto. Saking seringnya berkunjung, beredar kabar burung bahwa ia membangun Kistana tersembunyi di sana. Seolah ingin memperlihatkan bahwa ia adalah petani yang jadi Presiden (bukan Presiden yang jadi petani), Soeharto kerap adu knowledge peternakan dengan tamu undangan yang ia ajak ke Tapos. Salah satunya Margaret Thatcher.
Baca juga: Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani
Saat si “Wanita Besi mengunjunginya pada 5 Desember 1992, Soeharto mengajaknya melihat-lihat sekitar 800 sapi dan 1.700 ekor domba di peternakan itu.
Dengan menggunakan bibit unggul, kata Presiden Soeharto, bisa didapatkan seekor sapi dengan berat badan 450 kilogram dalam waktu dua tahun. Presiden lantas secara rinci menjelaskan bagaimana cara mendapatkan bibit unggul itu, antara lain dengan sistem silang. Dari sini presiden masuk dalam uraiannya mengenai perkembangan peternakan di Tapos yang kemudian disebarkan ke seluruh Indonesia.
Satu-kosong. Mungkin itu yang diucapkan beliau dalam hati. Siapa tahu.
Peternakan Tapos ikut runtuh bersama Orde Baru. Swasembada sapi pun gak pernah tercapai karena kenyataannya pemerintah terus mempertahankan kebijakan impor. Peternakan kini hanya mengandalkan pemerahan sapi.
Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar
Luas lahannya juga berkurang dari 750 hektar menjadi 650 hektar.
Foto atau gambar sapi masih terpampang di sekitar jalan masuk. Terdapat foto sapi Brangus, jenis sapi unggulan kebanggaan Soeharto. Sebuah sapi silangan dari Australia berbobot 2-3 ton per ekor.
"Brangus sudah tak ada lagi di sini sejak 6-7 tahun lalu. Sekarang kami hanya memilihara sapi perah untuk dijual susunya ke PT Indomilk. Tak ada lagi pembibitan sapi Brangus. Saya dengar, di beberapa daerah yang pernah dapat bantuan presiden masih ada Brangus turunan dari sini," ujar H Yanwar, kepala bagian ternak. (*)
Editor : Bambang Harianto