Sebelum nama-nama Wali Songo dikenal luas sebagai tokoh penyebaran Islam di Jawa, ternyata terdapat seorang ulama yang dalam tradisi Jawa dianggap sebagai salah satu punjer atau leluhur jaringan para wali tersebut?
Tokoh itu adalah Syekh Jumadil Kubro, yang dalam sejumlah tradisi nasab dikenal pula dengan nama Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini. Nama Syekh Jumadil Kubro sangat erat dengan sejarah perkembangan Islam di Jawa pada masa Majapahit. Namun, kisah beliau bukanlah sejarah yang sederhana. Berbagai babad, tradisi pesantren, catatan nasab, dan penelitian modern memberikan versi yang tidak selalu sama mengenai asal-usul, tahun kehidupan, maupun hubungan keluarganya dengan para Wali Songo.
Baca juga: Vonis Ringan Pembunuh Wartawan
Salah satu penelitian mengenai jejak ulama Uzbekistan di Nusantara, bahkan mencatat bahwa identitas Syekh Jumadil Kubro masih menjadi bahan perdebatan. Ada tradisi yang menghubungkannya dengan nama Jamaluddin Akbar al-Husaini, sementara nama tersebut dalam sejumlah rekonstruksi nasab muncul pada masa yang lebih kemudian.
Meski demikian, dalam tradisi Islam Nusantara, Syekh Jumadil Kubro dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam jaringan awal ulama yang menghubungkan dunia Islam dengan Jawa.
Berdakwah di Tengah Majapahit
Syekh Jumadil Kubro sering dikaitkan dengan wilayah Trowulan, Mojokerto, kawasan yang sekarang dikenal sebagai salah satu pusat peninggalan Kerajaan Majapahit.
Konteks sejarahnya sangat menarik.
Islam sebenarnya telah hadir di Jawa jauh sebelum masa Wali Songo. Balai Pelestarian Kebudayaan mencatat adanya bukti material Islam di Jawa Timur sejak abad ke11, antara lain makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, bertahun 1082 Masehi. Di Trowulan sendiri ditemukan kompleks makam Troloyo dengan sejumlah nisan bertanggal abad ke14.
Artinya, kedatangan Islam ke pusat kekuasaan Majapahit bukanlah sebuah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba.
Dalam tradisi yang berkembang kemudian, Syekh Jumadil Kubro ditempatkan sebagai salah satu ulama yang berperan dalam jaringan dakwah Islam di lingkungan Majapahit.
Dakwah tersebut dipercaya berlangsung melalui pendekatan yang tidak hanya mengandalkan pengajaran agama, tetapi juga perdagangan, hubungan sosial, pendidikan, perkawinan, dan pendekatan budaya.
Pola seperti ini memang sejalan dengan gambaran umum proses Islamisasi Jawa Timur. Sumber kebudayaan pemerintah menyebut perdagangan, perkawinan, politik, kebudayaan, tasawuf, dan pendidikan sebagai sejumlah jalur masuk dan berkembangnya Islam di Jawa Timur.
Mengapa disebut leluhur Wali Songo?
Inilah bagian yang membuat nama Syekh Jumadil Kubro begitu penting dalam tradisi Wali Songo. Dalam sejumlah sumber tradisional, Syekh Jumadil Kubro ditempatkan sebagai bagian dari jaringan genealogis yang kemudian melahirkan beberapa tokoh besar penyebaran Islam di Jawa.
Salah satu riwayat menyebut Syekh Jumadil Kubro mempunyai putra bernama Maulana Ibrahim Asmaraqandi dan Maulana Ishaq. Dalam tradisi tersebut, Maulana Ibrahim Asmaraqandi kemudian menjadi ayah Raden Rahmat atau Sunan Ampel, sementara Maulana Ishaq dikenal sebagai ayah Raden Paku atau Sunan Giri. Dengan demikian, Syekh Jumadil Kubro ditempatkan sebagai leluhur Sunan Ampel dan Sunan Giri.
Namun, hubungan genealogis ini tidak sepenuhnya seragam dalam sumber-sumber sejarah.
Baca juga: Polda Sumut Gelar Rekonstruksi Kebakaran Rumah Sempurna Pasaribu
Sebuah kajian mengenai Islam pada masa hegemoni Majapahit menyebut bahwa kisah Syekh Jumadil Kubro memiliki beberapa versi. Dalam Kronika Banten, beliau dikaitkan sebagai nenek moyang Sunan Gunung Jati. Sementara Kronika Gresik memberikan hubungan yang berbeda dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel.
Babad Tanah Jawi juga mempunyai versi tersendiri.
Karena itu, lebih tepat apabila Syekh Jumadil Kubro disebut sebagai tokoh leluhur atau salah satu punjer dalam tradisi genealogis Wali Songo, bukan secara mutlak sebagai leluhur biologis seluruh Wali Songo.
Jejak yang Menyebar Jauh
Menariknya, tradisi mengenai Syekh Jumadil Kubro tidak hanya ditemukan di Jawa.
Jejak yang dinisbahkan kepada beliau juga terdapat dalam tradisi Islam di berbagai wilayah Nusantara dan Semenanjung Melayu. Bahkan terdapat beberapa makam yang dikaitkan dengan nama beliau.
Salah satunya berada di kawasan Trowulan, Mojokerto, sedangkan tradisi lain mengaitkannya dengan makam di Gresik. Ada pula makam yang dinisbahkan kepada Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini di Tosora, Wajo, Sulawesi Selatan. Perbedaan lokasi makam ini semakin menunjukkan bahwa sejarah Syekh Jumadil Kubro berkembang melalui berbagai tradisi lokal.
Dalam tradisi lain, jaringan keturunannya bahkan dihubungkan dengan wilayah Kelantan dan Pattani. Namun hubungan genealogis tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks tradisi nasab dan penelitian yang masih memiliki perbedaan pendapat.
Warisan yang Lebih Besar daripada Sebuah Nama
Terlepas dari perbedaan mengenai silsilah dan kronologi, ada satu hal yang sangat menarik dari sosok Syekh Jumadil Kubro. Beliau berada dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai bagian dari generasi awal jaringan ulama Islam yang menghubungkan Jawa dengan dunia Islam yang lebih luas.
Jika Wali Songo kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh utama Islamisasi Jawa, maka dalam tradisi masyarakat, Syekh Jumadil Kubro ditempatkan jauh di belakang jaringan tersebut, sebagai salah satu tokoh yang menjadi mata rantai awalnya.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang Syekh Jumadil Kubro, kita sebenarnya tidak hanya sedang membicarakan satu makam atau satu tokoh.nKita sedang membicarakan sebuah jaringan panjang perjalanan Islam di Nusantara.
Dari pusat-pusat perdagangan, pelabuhan, pesantren, hingga lingkungan kekuasaan Majapahit, Islam berkembang secara bertahap dan melibatkan banyak tokoh.
Dan diantara nama-nama yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Jawa adalah Syekh Jumadil Kubro, sosok yang oleh tradisi dikenang sebagai salah satu punjer Wali Songo, sekaligus simbol dari generasi awal ulama yang meletakkan fondasi jaringan dakwah Islam di Jawa.
Sejarah mungkin masih menyisakan banyak pertanyaan tentang siapa sebenarnya Syekh Jumadil Kubro, kapan tepatnya Syekh Jumadil Kubro hidup, dan bagaimana hubungan genealogisnya dengan setiap anggota Wali Songo.
Tetapi justru di situlah menariknya sejarah Nusantara. Di antara prasasti, makam, babad, tradisi lisan, dan silsilah, kita menemukan jejak sebuah perjalanan panjang: perjalanan Islam dari dunia luar menuju jantung Nusantara. (*)
Editor : S. Anwar