Ada sebuah pertanyaan yang jarang diajukan dalam ruang-ruang diskusi sejarah kita, mengapa kita begitu mudah memercayai narasi yang ditulis oleh pihak yang berkuasa atas pihak yang dikalahkan? Setiap kali nama Pakubuwono IV disebut, yang muncul adalah bayangan seorang raja ambisius, licik, dan manipulatif. Narasi itu begitu kuat terpatri, begitu mulus diterima, seolah sejarah adalah cermin yang adil, bukan alat kekuasaan.
Saya ingin mengajak Anda berhenti sejenak. Kita harus bertanya : narasi itu datang dari mana? Siapa yang menulisnya? Atas kepentingan siapa sejarah itu dicipta?
"Sejarah bukan cermin yang adil. Sejarah adalah kemenangan orang yang memegang pena dan dalam abad ke-18, pena itu ada di tangan VOC."
I. Sunan Bagus : Lahir di Antara Dua Dunia yang Sedang Runtuh
Raden Mas Subadya lahir pada 2 September 1768, di saat Mataram telah remuk redam oleh Perjanjian Giyanti (1755). Ayahnya, Pakubuwono III, adalah sosok yang digambarkan sejarawan sebagai raja yang "kurang cakap", raja yang menerima kehancuran warisan leluhurnya tanpa perlawanan berarti. Ketika Raden Mas Subadya naik tahta pada 29 September 1788 dalam usia 20 tahun, ia mewarisi bukan saja singgasana, tetapi juga luka: sebuah kerajaan besar yang telah dipotong menjadi setengahnya oleh tangan-tangan asing.
Namanya kemudian dikenang sebagai Sunan Bagus, tampan wajahnya, muda usianya, dan yang sering terlupakan, tajam pikirannya. Tapi kecerdasan seorang raja muda yang terlalu berani sering kali ditulis ulang menjadi "kelicikan" dalam catatan musuh-musuhnya.
Fakta Sejarah
Pakubuwono IV naik tahta pada usia 20 tahun, enam hari setelah wafatnya ayahandanya Pakubuwono III. Gelar lengkapnya adalah Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah. Kata Abdurrahman (hamba Allah Yang Maha Pemurah) dan Panatagama (pengatur agama) bukan sekadar ornamen protokoler, itu adalah deklarasi ideologis tentang siapa dirinya dan ke mana arah pemerintahannya.
II. Revolusi Diam-Diam: Islam sebagai Ideologi, Bukan Sekadar Ritual
Inilah yang paling jarang dibicarakan tentang Pakubuwono IV: ia adalah seorang pemikir politik Islam yang serius. Hermanu Joebagio dalam kajiannya yang terbit di Millah: Journal of Religious Studies (2009) menegaskan bahwa Pakubuwono IV memperkenalkan konsep din-dawlah, integrasi agama dan negara, ke dalam tata kelola Kasunanan Surakarta. Ini bukan sekadar tindakan pribadi seorang raja yang saleh; ini adalah sebuah program transformasi struktural.
Begitu ia naik tahta, Pakubuwono IV mengangkat para ulama ke posisi-posisi strategis di istana sebagai abdi dalem kinasih, penasihat kepercayaan raja. Sumber-sumber yang dikompilasi dalam Serat Wulangreh dan sumber pendamping menyebut sejumlah nama : Raden Santri, Raden Panengah, Raden Wiradigda, Kiai Balkan, dan Kiai Nur Saleh. Para ulama ini, menurut Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia since c. 1200, terdeteksi sebagai bagian dari jaringan tarekat sufi Syathariyah, sebuah ordo yang telah mengakar di pesantren-pesantren Jawa dan Madura sejak abad ke-17.
Di mata kaum priyayi lama yang terbiasa dengan mistisisme Kejawen sebagai corak spiritual istana, langkah ini adalah ancaman eksistensial. Bukan karena Islam itu sendiri asing bagi Jawa, istana Mataram telah menggunakan gelar-gelar Islam selama berabad-abad. Yang mengancam adalah keberanian Pakubuwono IV untuk mengisi gelar-gelar itu dengan isi yang sesungguhnya.
"Para pejabat senior istana yang tersisih bukan menentang Islam. Mereka menentang perubahan struktur kekuasaan. Dan VOC bersedia menjadi senjata mereka."
Debat Ilmiah
M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia since c. 1200 menulis bahwa kepentingan-kepentingan pribadi yang sudah mapan di istana dapat mendorong bahkan keluarga terdekat seorang raja untuk menentang usaha perubahan yang dilakukannya. Pernyataan ini secara implisit mengakui bahwa Peristiwa Pakepung 1790 bukanlah murni reaksi terhadap ancaman keamanan, melainkan perlawanan elit yang merasa terancam oleh reformasi. Pertanyaannya: mengapa narasi dominan masih menempatkan Pakubuwono IV sebagai pihak yang "bersalah" dalam peristiwa itu?
III. Pakepung 1790: Ketika Tiga Kekuatan Bersatu untuk Menghancurkan Satu Raja
November 1790. Baru dua tahun Pakubuwono IV memerintah. Tiba-tiba keraton Surakarta dikepung oleh kekuatan gabungan yang tidak terbayangkan sebelumnya: pasukan VOC dari barat dengan serdadu Madura, Bugis, Melayu, dan Eropa; pasukan Kasultanan Yogyakarta dari selatan di bawah Hamengkubuwono I; dan pasukan Kadipaten Mangkunegaran dari utara di bawah Mangkunegara I. Tiga kekuatan yang dalam kurun hampir 40 tahun tidak pernah bersepakat, kini bersatu karena satu alasan, menghentikan seorang raja muda yang terlalu berani.
Ricklefs mencatat dalam bukunya yang telah diterjemahkan sebagai Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 bahwa Hamengkubuwono I dan Mangkunegara I, untuk pertama kalinya dalam hampir empat dekade, sepakat bekerja sama karena keduanya percaya ancaman dari rencana Pakubuwono IV akan sedemikian dahsyatnya. Ini bukan koalisi yang lahir dari persahabatan, ini adalah koalisi yang lahir dari ketakutan bersama terhadap satu raja yang berniat mengubah tatanan.
Dari dalam istana sendiri, para pejabat senior yang tersisih turut menekan sang raja. Mereka menuntut para ulama penasihat disingkirkan. Pada 26 November 1790, Pakubuwono IV menyerah. Para ulama itu diserahkan kepada VOC dan diasingkan. Peristiwa ini dicatat dalam Babad Pakepung, sebuah dokumen sastra yang ditulis dari perspektif pihak yang menang.
Titik Balik
Pakepung 1790 adalah momen paling tragis dalam sejarah Kasunanan Surakarta, pertama kali dalam sejarah Jawa pasca-Giyanti, tiga kekuatan politik (VOC, Yogyakarta, Mangkunegaran) bersatu melawan satu raja tunggal. VOC bahkan kemudian memastikan Mangkunegaran menjadi entitas permanen pada 1792 dengan menjamin pewarisan wilayah 4.000 cacah kepada keturunan Mangkunegara I, sebuah imbalan atas keterlibatan mereka dalam menekan Pakubuwono IV. Fakta ini memperlihatkan bahwa VOC mengeksploitasi konflik internal Jawa demi agenda kolonial yang jauh lebih besar.
IV. Serat Wulangreh: Pedang yang Ditempa di Dalam Penjara Politik
Di sinilah letak paradoks paling mengharukan dalam hidup Pakubuwono IV. Setelah dikalahkan secara militer dan politik pada 1790, setelah para ulama kepercayaannya dibuang, setelah ambisi politiknya dipasung oleh berbagai perjanjian yang dipaksakan kolonial, ia justru menghasilkan karya terbesar yang pernah ditulis oleh seorang raja Jawa.
Serat Wulangreh. Sebuah teks sastra dalam bentuk tembang macapat yang terdiri dari 13 pupuh: Dhandhanggula, Kinanthi, Gambuh, Pangkur, Maskumambang, Megatruh, Durma, Wirangrong, Pucung, Mijil, Asmarandana, Sinom, dan Girisa.
Mustopa dalam kajiannya yang diterbitkan jurnal Tsaqafah (Universitas Darussalam Gontor, 2021) menegaskan bahwa Serat Wulangreh bukan sekadar karya sastra, ini adalah media dakwah; Islamizasi Jawa melalui pendekatan budaya. Pakubuwono IV menggunakan bahasa Jawa, tembang macapat, dan referensi kultural lokal sebagai saluran untuk menyampaikan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis, mencakup aspek ketuhanan, hukum, etika, kebajikan, dan hubungan sosial.
Bayangkan ini: seorang raja yang baru saja kalah perang, yang penasihat-penasihat rohaninya dibuang ke pengasingan, yang ambisi besarnya dihancurkan, ia duduk dan menggubah syair. Bukan syair keluhan. Bukan syair kebencian. Tapi syair yang mengajarkan umat manusia bagaimana hidup dengan bermartabat, bagaimana mencari ilmu, bagaimana berbakti kepada Tuhan dan raja, bagaimana menjaga keluhuran jiwa.
"Pakubuwono IV menulis Serat Wulangreh bukan meski ia kalah, tetapi justru karena ia tahu bahwa kekuatan sejati tidak pernah muat dalam perjanjian-perjanjian VOC."
Kajian etika sufistik dalam Serat Wulangreh telah dilakukan oleh sejumlah peneliti. Artikel terbaru dalam jurnal Suhu (Vol. 1, No. 1, 2025) menegaskan bahwa Pakubuwono IV membangun tatanan pemerintahannya di atas landasan Islam kaffah, dan bahwa Serat Wulangreh merupakan ekspresi etika-sufistik yang menempatkan sufisme sebagai arketipe pandangan dunia sang raja. Yasadipura I, pujangga keraton Surakarta saat itu, bahkan turut mendampingi dalam menghasilkan ensiklopedi sastra Islam Jawa yang tiada tandingannya: Serat Centhini.
Fakta Sejarah
Serat Wulangreh terdiri dari 13 pupuh tembang macapat dan secara substantif memuat ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis, mencakup aspek ketuhanan, etika, hukum, dan hubungan sosial. Karya ini disebarkan ke seluruh Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan menjadi salah satu teks piwulang paling berpengaruh dalam tradisi sastra Jawa. Kajian akademis terhadapnya telah dilakukan dari berbagai pendekatan: stilistika, linguistik, psikologi, pendidikan karakter, hingga etika sufistik.
V. Konspirasi Sipahi 1812: Ambisi Terakhir yang Dihancurkan
Sejarah sering lupa bahwa Pakubuwono IV tidak pernah menyerah pada mimpinya. Dua puluh dua tahun setelah Pakepung, ia masih berjuang. Kali ini dengan strategi yang lebih kompleks dan berbahaya.
Konteks berubah drastis: VOC bangkrut, Belanda kalah dari Napoleon, Jawa jatuh ke tangan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles (1811). Di tengah kekacauan transisi kekuasaan inilah Pakubuwono IV bergerak. Sejak 1811 hingga 1812, ia menjalin korespondensi rahasia dengan Hamengkubuwono II, Sultan Yogyakarta, mengajak bersama-sama melawan Inggris secara militer. Sebuah perjanjian rahasia diratifikasi pada Maret 1812.
Bersamaan dengan itu, melalui Mangkubumi dan Baurekso, ia menjalin kontak dengan pasukan sipahi, tentara bayaran India yang ditempatkan Inggris di Jawa dan khawatir akan nasib mereka di bawah pemerintahan Belanda yang hendak kembali berkuasa. Dhaukul Singh mengunjungi Sunan di keraton, memuja-mujanya sebagai keturunan pemuja Rama yang agung. Pakubuwono IV memberikan hadiah 300 dolar Spanyol. Ripaul Singh memberikan pertunjukan di kamar pribadi Sunan. Mata Deen, yang fasih berbahasa Melayu, menjadi penghubung.
Rencana itu berjalan di tepi jurang yang sangat curam. Ketika Raffles menyerang Keraton Yogyakarta pada Juni 1812, Pakubuwono IV tidak mengirimkan bantuan, ia menunggu, menghitung. Tapi salinan korespondensi rahasianya dengan Hamengkubuwono II jatuh ke tangan Inggris dalam penjarahan keraton Yogyakarta. Raffles nyaris menyerang Surakarta dan menggulingkan Pakubuwono IV. Namun ia diampuni dengan syarat, Patih Surakarta Raden Adipati Cokronegoro, yang menjadi otak persekongkolan, harus dicopot.
Debat Ilmiah
Sejarawan Peter Carey, sebagaimana dikutip dalam disertasi lintas-kolonial dari Washington State University, menegaskan bahwa Pakubuwono IV tidak pernah melupakan tujuan jangka panjangnya untuk menghancurkan Kesultanan Yogyakarta dan memulihkan supremasi Surakarta di Jawa Tengah. Ini adalah klaim keras. Pertanyaan yang perlu diajukan: apakah ambisi reunifikasi wilayah yang pernah bersatu di bawah Mataram, ambisi yang sama dimiliki oleh raja-raja Eropa dalam menyatukan wilayah yang terpecah, layak dicap sebagai "kelicikan"? Atau ini adalah standar ganda historiografi kolonial?
VI. Pesantren Jamsaren: Warisan yang Hampir Terlupakan
Di antara semua yang dilakukan Pakubuwono IV, ada satu tindakan yang paling berbicara tentang siapa sebenarnya ia: mendirikan Pesantren Jamsaren. Ia memberikan izin dan donasi tahunan kepada Kyai Jamsari untuk membangun lembaga pendidikan Islam di Surakarta, di tengah tekanan kolonial yang terus-menerus mencurigai setiap pergerakan ulama.
Pesantren ini kemudian ditutup oleh pemerintah kolonial karena dianggap terlibat dalam Perang Diponegoro (1825–1830). Selama kurang lebih 40 tahun ia mati suri. Baru di masa Pakubuwono X pesantren ini hidup kembali. Bayangkan: sebuah lembaga pendidikan yang didirikan seorang raja dengan visi Islam dan kemerdekaan, dibubarkan paksa karena murid-muridnya bergabung dengan perlawanan nasional. Apakah ini tanda sebuah sekolah yang gagal, atau tanda bahwa ia terlalu berhasil menanamkan keberanian?
"Pesantren Jamsaren ditutup bukan karena gagal mendidik, tapi karena terlalu berhasil melahirkan pejuang."
VII. Orgel Napoleon dan Simbol Kedaulatan yang Bertahan
Ada sebuah benda kecil yang tersimpan di Museum Radya Pustaka, Surakarta, yang jarang mendapat perhatian sepadan nilainya: sebuah orgel atau kotak musik, hadiah dari Napoleon Bonaparte untuk Pakubuwono IV. Objek ini bukan sekadar benda antik. Ia adalah simbol bahwa di tengah tekanan kolonial Belanda dan kemudian Inggris, Pakubuwono IV masih berdiri cukup tinggi untuk menerima pengakuan dari seorang kaisar Eropa yang sedang mengubah peta dunia.
Kita perlu memikirkan apa artinya ini: Napoleon Bonaparte, musuh terbesar Belanda pada masa itu, memberikan hadiah kepada seorang raja Jawa yang sedang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman VOC. Apakah ini kebetulan? Atau ini adalah bagian dari permainan diplomatik yang jauh lebih besar, di mana Pakubuwono IV bukan sekadar pion, melainkan pemain?
Batas Klaim
Tidak ada sumber akademis yang saat ini dapat dikonfirmasi membuktikan adanya hubungan diplomatik langsung antara Pakubuwono IV dan Napoleon Bonaparte selain keberadaan orgel tersebut di Museum Radya Pustaka. Penulis tidak menarik kesimpulan melampaui yang dapat dibuktikan oleh artefak ini. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk menelusuri jalur masuknya hadiah ini ke Surakarta.
VIII. Raja yang Dicuri dari Kita
Pakubuwono IV wafat pada 2 Oktober 1820. Ia memerintah selama 32 tahun, salah satu masa pemerintahan terpanjang di Kasunanan Surakarta. Dari tahta itu ia menyaksikan pergantian tiga pemerintah penjajah: VOC, Inggris di bawah Raffles, lalu kembali Belanda. Ia tidak pernah digulingkan. Ia tidak pernah menyerah sepenuhnya. Ia dikubur di Astana Kaswargan, Imogiri, satu makam dengan raja-raja Mataram lain yang memimpikan dunia yang belum pernah benar-benar ada.
Tiga putranya meneruskan dinasti: Pakubuwono V, VII, dan VIII. Warisan intelektualnya Serat Wulangreh masih dibaca, dikaji, dan dinyanyikan hingga hari ini. Pesantren Jamsaren yang ia dirikan telah hidup kembali. Masjid yang ia bangun masih berdiri. Ajaran tasawufnya masih mengalir dalam urat nadi budaya Jawa.
Tapi narasi dominan tentang dirinya masih sebuah narasi yang ditulis oleh musuh-musuhnya: seorang raja ambisius, manipulatif, licik. Narasi VOC. Narasi pemenang.
Sudah saatnya kita menulis ulang narasi itu, bukan dengan memutihkan kesalahannya, bukan dengan mitologisasi yang naif, tapi dengan kejujuran sejarah yang berani melihat konteks: bahwa seorang raja muda yang ingin mengintegrasikan Islam ke dalam tata negara, yang ingin memulihkan kedaulatan bangsanya, yang menulis syair-syair indah tentang keluhuran jiwa di tengah kepungan musuh, raja seperti ini layak mendapatkan lebih dari sekadar catatan kaki.
"Kita tidak sedang membela Pakubuwono IV. Kita sedang membela hak kita sendiri untuk memiliki sejarah yang jujur."
Bibliografi Dan Sumber
Joebagio, Hermanu. (2009). "Islamic Political Thought of Pakubuwana IV." Millah: Journal of Religious Studies, VIII(2), 350–362. Universitas Islam Indonesia.
Joebagio, Hermanu. (2015). "Politik Simbolis Kasunanan." Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 9(2), 179–192. Universitas Negeri Malang.
Mustopa. (2021). "Serat Wulangreh: Islamization in Java Through Cultural Approach." Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam, Universitas Darussalam Gontor.
Wiratama, Rudy. (2021). "Pakubuwana IV Sebagai Maecenas: Tinjauan Kritis Beberapa Teks Pengetan Sejarah Wayang." Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 12(1), 105. Perpustakaan Nasional RI.
Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. (Terjemahan dari A History of Modern Indonesia since c. 1200, edisi ketiga.)
Carey, P.B.R. & Noor, Farish A. (2022). Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda, 1808–1830. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-656-8.
Darusuprapto. (1992). Serat Wulangreh Anggitan Dalem Pakubuwana IV. CV Jaya Mukti.
Anonim. (2025). "Etika Sufisme Pakubuwana IV: Piwulang dalam Serat Wulangreh." Suhu: Jurnal Studi Sufi, 1(1), 45–57.
*) Source : Mohammad Basyir Zubair
Editor : Bambang Harianto