Tragedi pengusiran paksa bangsa Sirkasia—atau yang kini dikenang dunia sebagai Genosida Sirkasia—mencapai puncak nestapanya pada tanggal 21 dan 22 Mei 1864. Peristiwa ini berdiri sebagai salah satu coretan tinta paling hitam, sebuah pembersihan etnis terbesar dan paling kejam dalam sejarah peradaban modern manusia.
Akhir Perang 101 Tahun : Runtuhnya Benteng Kaukasus
Baca juga: Letkol Inf Redi Dwi Yuda Kurniawan Resmi Jabat Dandim Mimika
Pada tanggal 21 Mei 1864, Kekaisaran Rusia dengan pongah mengumandangkan kemenangan resminya atas Perang Kaukasus, sebuah perang brutal yang telah berdarah-darah selama hampir 101 tahun. Namun, pekik kemenangan Rusia adalah lonceng kematian bagi bangsa Sirkasia.
Pengumuman tersebut menjadi pemantik badai pengusiran paksa massal yang mengerikan. Ratusan ribu jiwa tercerabut paksa dari tanah kelahiran mereka di Kaukasus Utara, digiring tanpa ampun menuju pelabuhan-pelabuhan dingin di tepian Laut Hitam.
Pelayaran Maut di Laut Hitam
Pesisir Pelabuhan Sukhumi dan Sochi seketika berubah menjadi lautan penderitaan. Ratusan ribu warga Sirkasia telantar dalam kondisi kemanusiaan yang teramat hancur, meratap di bawah langit kelam sembari menanti kapal-kapal Utsmaniyah dan Rusia yang akan membawa mereka pergi menjauh dari Tanah Air untuk selamanya.
"Wabah cacar dan tifus merajalela, merenggut nyawa puluhan ribu jiwa sebelum mereka sempat menginjakkan kaki di geladak kapal. Sementara mereka yang berhasil berlayar harus bertaruh nyawa di atas kapal-kapal Utsmaniyah yang sarat muatan melebihi kapasitas. Banyak kapal karam ditelan ombak, hingga menorehkan julukan memilukan bagi perairan itu: 'Kuburan Massal Bangsa Sirkasia'."
Terpencar di Bawah Panji Utsmaniyah
Melihat gelombang manusia yang sekarat, Kesultanan Utsmaniyah bergerak mendirikan komite kemanusiaan khusus yang dikenal sebagai Komisyon-u Muhacirin (Komisi Migran) demi menyalurkan tenda, makanan, dan perawatan medis darurat.
Pemerintah Utsmaniyah kemudian menyebarkan para pengungsi Sirkasia ini ke wilayah-wilayah perbatasan dan titik pertahanan strategis. Keberanian dan kecakapan tempur mereka yang legendaris dimanfaatkan untuk melindungi kekaisaran :
- Perbatasan Balkan: (Bulgaria, Serbia, dan Kosovo) guna menjadi perisai hidup di garis depan Eropa.
- Anatolia: (Samsun, Tokat, dan Amasya).
- Negeri Syam: (Yordania, Suriah, dan Palestina). Di tanah pengasingan ini, mereka membangun kembali peradaban dari puing-puing keputusasaan. Mereka menghidupkan kembali kota modern Amman pada tahun 1878, menghidupkan kota Quneitra di Dataran Tinggi Golan, serta mendirikan desa Kafr Kama dan Rehaniya di Palestina.
Luka yang Tak Kunjung Sembuh: Hari Berkabung Sedunia
Para sejarawan memperkirakan bahwa Kesultanan Utsmaniyah telah menampung antara 800.000 hingga 1,5 juta jiwa warga Sirkasia selama era eksodus kelam tersebut.
Kini, setiap tanggal 21-22 Mei, dunia mengheningkan cipta. Hari itu telah menjelma menjadi "Hari Berkabung Sirkasia Sedunia", dimana jutaan keturunan mereka yang tersebar di seluruh penjuru bumi merawat ingatan tentang desa-desa leluhur yang lumat dihancurkan, dan para pendahulu mereka yang tewas ditelan dinginnya dasar laut akibat kekejaman tirani Rusia. (*)
Editor : Bambang Harianto