Kisah Tentara Jepang Yang Tanganya Putus Membela Indonesia

Reporter : Redaksi
Shigeru Ono

​Ketika badai Perang Dunia II mereda dan Jepang dinyatakan kalah oleh Sekutu, sebuah perintah pemulangan bergema bagi seluruh serdadu Negeri Sakura. Namun, bagi seorang pria bernama Shigeru Ono, tanah tempatnya berpijak bukan lagi sekadar wilayah taklukan. Di sanalah nuraninya tertambat.

​Ia menolak pulang. Bersama sekelompok prajurit setia yang memilih jalan sunyi, Shigeru Ono meleburkan diri dengan rakyat Indonesia yang sedang berdarah-darah merebut kemerdekaan. Mereka membentuk Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) di bawah komando Untung Surapati—sebuah pasukan elite yang kehadirannya bak hantu menakutkan bagi penjajah.

Baca juga: Alasan Adolf Hitler Membantai Orang Yahudi

​Darah di Ujung Katana dan Kehilangan yang Abadi

​Sebelum takdir merenggut lengan kirinya, Shigeru Ono adalah seorang maestro pedang. Katana di tangannya bukan sekadar senjata, melainkan perpanjangan dari jiwa ksatria (Bushido) yang ia dedikasikan untuk Ibu Pertiwi yang baru.

​Suatu hari, dalam sebuah penyergapan yang nyaris mustahil di Pajaran, Malang, Shigeru Ono dan seorang rekannya dikepung oleh sekitar 20 tentara Belanda. Di tengah desing peluru, hanya bermodalkan kilatan Katana dan keberanian yang membakar dada, mereka berhasil menumbangkan seluruh pasukan musuh.

Shigeru Ono juga menjadi guru, melatih para pejuang muda TNI di kaki Gunung Semeru yang dingin, menempa mental mereka agar sekeras baja. Namun, perjuangan menuntut harga yang teramat mahal. Dalam sebuah pertempuran sengit, sebuah pelontar granat meledak terlalu dekat. Dentuman keras itu tidak hanya mengguncang bumi, tapi juga merenggut tangan kiri Shigeru Ono selamanya. Cacat fisik itu menjadi tanda jasa paling jujur yang terukir di tubuhnya demi kemerdekaan Indonesia.

​Surat Kematian Palsu dan Kerinduan Seorang Ibu

​Setelah badai peperangan mereda dan kedaulatan Indonesia diakui pada Juli 1950, Shigeru Ono merajut hidup baru. Ia menikahi seorang wanita lokal bernama Darkasih. Setahun kemudian, tangis bahagia pecah di rumah mereka dengan lahirnya putri pertama yang diberi nama Tutik.

​Namun, di balik kebahagiaan itu, ada rahasia pilu yang dipendam Shigeru Ono. Demi melindungi keluarga di kampung halamannya dari aib dan kejaran politik, Shigeru Ono pernah mengirimkan sepucuk surat ke Jepang yang berisi kabar bohong: bahwa ia telah tewas di medan perang.

​Bayangkan remuknya hati seorang ibu yang bertahun-tahun meratapi kematian putranya.

​Mukjizat terjadi pada tahun 1952. Saat dipanggil ke Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, Shigeru Ono berhasil terhubung kembali dengan ibunya lewat sambungan telepon. Tangis haru dan kerinduan yang membuncah menembus batas samudra. Sang ibu, yang menyadari putranya masih bernapas di tanah seberang, meminta satu hal sebagai pengikat batin mereka: mengubah nama sang cucu, Tutik, menjadi Atsuko.

​Menjadi Indonesia hingga Akhir Hayat

​Pada tahun yang sama, status Shigeru Ono dikukuhkan. Ia resmi menjadi warga negara Indonesia, sebuah pengakuan formal atas jiwa dan raganya yang memang sudah lama menjadi milik Nusantara.

​Namun, takdir kembali menguji ketabahannya. Pada tahun 1982, Darkasih, wanita yang setia menemani masa-masa sulitnya, wafat akibat kanker. Shigeru Ono kembali kehilangan belahan jiwanya.

​Kisah hidup pria yang melepaskan segalanya demi bangsa lain ini akhirnya diabadikan oleh Eiichi Hayashi dalam sebuah buku berjudul "Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik".

​Hingga mengembuskan napas terakhirnya pada 25 Agustus 2014 di usia 95 tahun, Mayor (Purn) H. Rahmat Shigeru Ono meninggalkan warisan yang hidup : 4 anak, 10 cucu, dan 6 cicit. Ia bukan lagi orang asing. Ia adalah seorang ayah, kakek, dan pahlawan yang cintanya pada Indonesia dibayar tunai dengan darah, air mata, dan sebelah tangannya yang hilang. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru