Kisah Tragis Sintong Panjaitan yang Tersandung Tragedi Santa Cruz

Reporter : Redaksi
Sintong Panjaitan

Dunia militer Indonesia tidak akan pernah melupakan nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sintong Hamonangan Panjaitan. Bagi generasi yang tumbuh di era Orde Baru, nama Sintong adalah jaminan mutu di medan laga. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) 1963 ini adalah potret nyata seorang prajurit komando sejati: tangguh, taktis, dan sarat prestasi. Sepanjang kariernya, ia mengantongi 20 perintah operasi militer, sebuah bukti otentik betapa negara sangat mengandalkan kemampuannya.

Namun, roda nasib berputar dengan kejam. Sejarah mencatat perjalanan hidup Sintong bagaikan sebuah drama tragis. Ia yang terbang begitu tinggi di puncak kejayaan Korps Baret Merah, harus terhempas keras ke bumi dalam semalam akibat pusaran badai politik internasional.

Baca juga: Prada Lucky Tewas Disiksa Senior, Ayah Korban : Saya Tuntut Keadilan, Nyawa Saya Jadi Taruhannya

Melesat Tinggi: Dari Penemu Lubang Buaya hingga Heroisme Operasi Woyla

Karier Sintong muda melesat bak meteor. Sebagai perwira pasukan elit RPKAD (kini Kopassus), ia selalu berada di garis depan momen-momen krusial sejarah bangsa. Saat badai G30S berkecamuk pada tahun 1965, Sintong adalah sosok yang memimpin peletonnya merebut kembali gedung RRI pusat dari tangan pemberontak. Tak hanya itu, ia dan anak buahnya pula yang berhasil menemukan sumur tua di Lubang Buaya, tempat para jenderal TNI AD dikuburkan secara tragis.

Puncak keemasan karier Sintong terjadi pada 31 Maret 1981. Sebuah drama penyanderaan pesawat Garuda DC-9 "Woyla" di Bandara Don Mueang, Bangkok, mengejutkan dunia. Sintong, yang saat itu menjabat sebagai Komandan Grup-1 Para Komando berpangkat Letnan Kolonel, memimpin langsung operasi pembebasan antiteror tersebut.

Dalam hitungan menit, operasi berlangsung kilat dan taktis. Seluruh penumpang berhasil diselamatkan. Keberhasilan gemilang ini melambungkan nama Sintong ke panggung internasional. Ia dianugerahi tanda kehormatan Bintang Sakti dan pangkatnya dinaikkan satu tingkat. Pintu menuju puncak tertinggi militer terbuka lebar, hingga akhirnya ia dipercaya menjabat sebagai Danjen Kopassus (1985–1987) dan kemudian Panglima Kodam IX/Udayana.

Terhempas Keras: Badai Berdarah di Makam Santa Cruz

Baca juga: Sidang Vonis Perkara Korupsi Koneksitas Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat

Sebagai Pangdam IX/Udayana, wilayah tugas Sintong mencakup daerah yang paling bergejolak saat itu: Provinsi Timor Timur. Di sinilah garis takdirnya berubah total.

Pada 11 November 1991, sebuah aksi demonstrasi massa di pemakaman Santa Cruz, Dili, berakhir dengan tragedi mematikan. Rentetan tembakan dari aparat keamanan menyebabkan jatuhnya korban jiwa warga sipil. Sial bagi Indonesia, insiden tersebut terekam dengan jelas oleh jurnalis asing dan meledak menjadi skandal kemanusiaan internasional yang masif.

Sebagai pemegang tongkat komando tertinggi di wilayah tersebut, Sintong harus menelan pil pahit. Prinsip akuntabilitas komando membuatnya dicopot seketika dari jabatan Pangdam. Pencopotan ini menjadi hantaman fatal yang menghentikan langkah Sintong untuk meraih pangkat jenderal bintang empat atau posisi Panglima ABRI, sebuah posisi yang awalnya diprediksi banyak pihak sangat dinamis untuk ia raih.

Baca juga: Ikut Rapat PRRI Tapi Menolak Perang, Inilah Kisah Mayjen Nurmathias

Penderitaan pasca-tragedi tidak berhenti di tanah air. Pada tahun 1992, keluarga dari salah satu korban tewas menggugat Sintong di pengadilan Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, pengadilan AS menjatuhkan vonis default judgment yang mewajibkan Sintong membayar ganti rugi astromonis sebesar 14 juta dolar AS (atau setara ratusan miliar rupiah). Karakter dan reputasi militernya diuji habis-habisan di dunia internasional.

Akhir Perjalanan Sang Elang

Sintong Panjaitan akhirnya memasuki masa purnawirawan dengan pangkat Letnan Jenderal (bintang tiga). Meski karier komando militernya tamat secara tragis di Santa Cruz, integritas dan ketajaman berpikir Sintong tidak lantas pudar. Di masa pensiunnya, ia masih dipercaya memegang jabatan sipil strategis, termasuk menjadi penasihat militer kepercayaan Presiden B.J. Habibie. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru