Warok berasal dari kata wewarah yang berarti pengajaran, sehingga seorang warok diharapkan mampu memberikan tuntunan hidup yang baik kepada masyarakat. Sejarah warok berkaitan dengan sejarah Kabupaten Ponorogo yang dahulu dikenal sebagai Wengker, wilayah kekuasaan Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V.
Pada masa itu, Ki Ageng Kutu mendirikan perguruan yang mengajarkan ilmu bela diri, kekebalan, dan kesempurnaan hidup kepada para pemuda. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, mereka disebut warok dan menjadi pasukan pengikut Ki Ageng Kutu.
Baca juga: Suro Menggolo, Legenda Kolosal Warok
Islamisasi Ponorogo
Berbeda dengan daerah pesisir utara yang menceritakan Islamisasi dengan cara damai. Di daerah pedalaman seperti Ponorogo. Kisah Islamisasi masih terselimuti sejarah pertempuran. Hadirlah tokoh bernama Bathara Katong yang menerima titah untuk meng-Islamkan Ponorogo. Di daerah ini, Bathara Katong menghadapi tokoh bernama Ki Ageng Kutu pemimpin tyang Budho (orang Buddha). Peperangan tidak terhindarkan dan diakhiri dengan Bathoro Katong yang berhasil menang dengan bantuan Ki Selo Aji dan Ki Ageng Mirah. Bathoro Katong hingga sekarang dianggap sebagai pendiri Ponorogo.
Sang Tangan Kanan Bathoro Katong
Ki Ageng Mirah adalah tokoh pembawa Islam pertama di Ponorogo. Ki Ageng Mirah merupakan komandan pasukan dan tangan Bathoro Katong. la membantu usaha perlawanan melawan Ki Ageng Kutu. Ki Ageng Mirah diceritakan memiliki garis keturunan Sunan Giri, dan diklaim nenek moyang para Bupati Ponorogo dan pendiri desa perdikan Tegalsari dan Banjarsari.
Menurut kisah lokal, pasca kemenangan Bathoro Katong para Warok yang dulunya pengikut Ki Ageng Kutu menjadi pengikut Bathoro Katong. Tetapi menurut Pigeud (1938) para Warok banyak menjadi murid Ki Ageng Mirah yang mulai menyebar di padepokan dan pondok.
Warok Dalam Konsep Kepemimpinan Desa Pasca 1830
Sistem pemimpin desa di daerah Brang Wetan biasanya dipimpin oleh para Jago Desa. Jago Desa biasanya dianggap memiliki kemampuan bertarung dan kepemimpinan. Jago Desa selain berfungsi sebagai alat pengatur di tingkat desa, juga berkembang menjadi perantara dengan Bupati. Warok di Ponorogo pasca Perang Jawa terafiliasi sebagai pemimpin pertunjukan penari bertopeng. Warok dihormati karena dipercaya memiliki kekuatan magis dan spiritual. Di era ini banyak kelompok Warok yang diawasi oleh otoritas kolonial
Warok dalam Kelompok Kesenian
Warok sebagai pemimpin kelompok Djatilan, Gemblakan, Reog, biasanya berbadan besar, memakai celana hitam panjang, dan berikat taling besar. Biasanya mempekerjakan anak-anak umur 15 tahun untuk menjadi penari Jatilan. Javaanse volksvertoningen - Pigeud
Para warok tampaknya hidup sebagai kelompok pengembara atau orang-orang yang berada di luar tatanan sosial biasa. Mereka sering bepergian jauh untuk berdagang, bekerja, atau belajar agama kepada guru tertentu. Karena kehidupan mereka nomaden, vierk mereka jarang membawa keluarga dan lebih sering ditemani pemuda-pemuda yang membantu mereka selama perjalanan. Sebagian warok juga memilih hidup bebas daripada terikat aturan masyarakat. (*)
Editor : Bambang Harianto