Dilahirkan di Probolinggo dengan akar keluarga dari Pamekasan, Madura, KH Anwar Nur merupakan sosok kiai yang mendedikasikan seluruh napasnya untuk ilmu. Putra dari kiai bernama Nur ini tumbuh tanpa mengecap pendidikan formal, namun beliau melanglang buana menimba ilmu ke berbagai pesantren besar seperti Siwalan Panji Sidoarjo dan Sidogiri Pasuruan demi menyerap samudera pengetahuan agama.
Langkah dakwah KH Anwar Nur di Bululawang bermula dari sebuah petunjuk spiritual sang guru. Sambil menyebarkan ajaran agama, KH Anwar Nur dengan rendah hati meracik dan menjual jamu tradisional ke desa-desa untuk menjalin kedekatan lahir dan batin dengan masyarakat. Kegigihan ini membuahkan hasil dengan berdirinya Pesantren An-Nur pada tahun 1942 bersama sang istri, Nyai Marwiyah.
Baca juga: Pendiri Yayasan Panca Wahana Tuding Pemilihan Rektor UNUBA Cacat Hukum
Berkat keikhlasan dan manajemen yang apik, pesantren ini pun tumbuh pesat hingga ditetapkan sebagai "Pilot Proyek" pesantren percontohan oleh pemerintah daerah pada tahun 1973.
Di luar kiprahnya sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang, KH Anwar Nur dikenal sebagai ahli mujahadah yang sangat kharismatik. Salah satu karomah beliau yang paling masyhur adalah saat menunjuk sebidang tanah di Malang yang kelak terbukti menjadi lokasi berdirinya Pesantren Al-Hikam asuhan muridnya, KH Hasyim Muzadi.
Baca juga: Pelantikan Pengurus Nahdlatul Ulama Burneh Bangkalan
Kedekatan batin KH Anwar Nur dengan Sang Khalik sangatlah kuat; bahkan saat tidur sekalipun, lisan beliau masih terdengar lirih melantunkan surah Yasin.
KH Anwar Nur yang bersahaja ini berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1992 dan disemayamkan di kompleks Pesantren An-Nur Bululawang. KH Anwar Nur meninggalkan warisan tujuh putra-putri yang semuanya meneruskan estafet perjuangan dengan mendirikan pesantren di berbagai daerah. Lahumul fatihah...
Baca juga: Surat Terbuka untuk Gus Ulil dari Social Movement Institute
*) Source : Pecinta Ulama Nusantara
Editor : Bambang Harianto