Profil Margarito Kamis, Putra Ternate Pertama Peraih Doktor Hukum UI

Reporter : M Ruslan
Margarito Kamis

Di panggung hukum nasional, nama Margarito Kamis dikenal sebagai salah satu pakar hukum tata negara yang paling vokal, tegas, dan berkarakter. Lahir di Gambesi, Ternate, Maluku Utara pada 27 April 1965, Margarito Kamis adalah sosok akademikus sekaligus praktisi senior yang pandangan-pandangan hukumnya sering kali menjadi rujukan penting dalam berbagai dialektika ketatanegaraan di Indonesia.

Sentuhan Tangan Dingin Tokoh Hukum Legendaris Nusantara

Baca juga: Kisah Dokter Hampir Menyerah Saat Ujian Alih Program, Lulus Berkat Tawakkal

Perjalanan Margarito Kamis menjadi seorang pakar hukum kelas atas tidak terjadi dalam semalam. Pria asal Maluku Utara ini menempa ilmu hukumnya melalui jaringan guru dan mentor yang bukan kaleng-kaleng.

Margarito Kamis mengawali langkah akademisnya dengan menguji diri di tanah kelahiran, merampungkan gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Khairun (Unkhair), Ternate. Luar biasanya, saat menempuh konsentrasi Ilmu Hukum Pidana, ia dibimbing langsung oleh Baharuddin Lopa, sosok Jaksa Agung legendaris yang dikenal sebagai simbol integritas dan antikorupsi Indonesia.

Haus akan ilmu, Margarito Kamis kemudian merantau ke Makassar untuk melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan mendalami Hukum Agraria.

Puncak pencapaian akademisnya diraih saat ia menembus Universitas Indonesia (UI) untuk program doktoral. Di kampus jaket kuning tersebut, Margarito Kamis dibimbing oleh trio raksasa hukum Indonesia: Ismail Suny, Jimly Asshiddiqie, dan Adnan Buyung Nasution. Keberhasilannya meraih gelar Ph.D ini menorehkan tinta emas dalam sejarah lokal.

"Margarito Kamis berhasil mencatatkan sejarah sebagai putra asli Ternate pertama yang sukses menyandang gelar Doktor Hukum dari Universitas Indonesia."

Menembus Lingkar Istana dan Pengawal Seleksi Lembaga Tinggi

Baca juga: Kisah Mochtar Kusumaatmadja, sang Penggagas Wawasan Nusantara

Kombinasi antara ketajaman analisis dan pemahaman hukum ketatanegaraan yang mendalam membuat Margarito ditarik ke Ibu Kota untuk memperkuat birokrasi pusat. Pada periode 2006 hingga 2007, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg).

Tak hanya itu, di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), integritas Margarito diuji melalui berbagai posisi krusial di balik layar pembentukan lembaga hukum negara, di antaranya:

Pansel Komisioner KPK : Ikut serta dalam mempersiapkan Panitia Seleksi Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi di lingkungan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Timsel Hakim Mahkamah Konstitusi: Menjadi anggota Tim Seleksi Hakim Mahkamah Konstitusi di bawah Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada tahun 2007 dan 2008.

Baca juga: Kisah Hariman Siregar dan Mahasiswa UI Mengguncang Jakarta 1974

Tetap Setia pada Dunia Edukasi

Meskipun wajahnya kerap wara-wiri di berbagai stasiun televisi nasional sebagai pengamat dan saksi ahli dalam berbagai sidang sengketa hukum tingkat tinggi, Margarito tidak pernah melupakan akar asalnya.

Hingga kini, di tengah kesibukannya yang padat di Jakarta, Margarito Kamis tetap mendedikasikan waktunya sebagai staf pengajar dan dosen di Fakultas Hukum Universitas Khairun, Ternate. 

Bagi Margarito Kamis, mentransfer ilmu kepada generasi muda di daerah adalah cara terbaik untuk melahirkan "Margarito-Margarito Baru" yang siap mengawal konstitusi dan masa depan hukum di Indonesia. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru