Kisah Achmad Mochtar yang Menukar Nyawanya Demi Kolega

Reporter : Redaksi
Prof. Dr Achmad Mochtar

Bagi masyarakat Sumatera Barat, nama Prof. Dr Achmad Mochtar abadi sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) terbesar di Kota Bukittinggi. Namun, di balik nama yang terukir di dinding rumah sakit tersebut, tersimpan salah satu kisah kepahlawanan paling memilukan sekaligus paling mulia dalam sejarah kelam pendudukan Jepang di Indonesia.

Lahir di Bonjol, Pasaman pada 10 November 1890, Achmad Mochtar adalah seorang jenius kedokteran, orang Indonesia pertama yang memimpin Lembaga Eijkman, dan seorang martir yang memilih dipancung demi menyelamatkan nyawa rekan-rekan sesama ilmuwan.

Jejak Anak Guru Bonjol yang Mendunia

Achmad Mochtar lahir dari pasangan Omar Sutan Nagari dan Roekajah. Ayahnya adalah seorang guru HIS (Hollandsch-Inlandsche School) yang berdedikasi tinggi dan sering berpindah tugas demi memajukan pendidikan pribumi.

Mengikuti jejak intelektual sang ayah, Mochtar muda berhasil menembus STOVIA, sekolah kedokteran elit di Batavia, dan lulus tepat waktu pada tahun 1916. Karier awalnya dimulai di desa terpencil Panyabungan, Mandailing Natal.

Di sanalah ia bertemu dengan mentornya, seorang peneliti malaria asal Belanda, W.A.P Schüffner. Pertemuan ini mengubah jalan hidup Mochtar. Atas rekomendasi Schüffner, Mochtar dikirim untuk mengambil program doktoral di Universitas Amsterdam.

Mematahkan Teori Dunia

Melalui disertasinya pada tahun 1927, dr Achmad Mochtar berhasil mematahkan teori kedokteran dunia saat itu dengan membuktikan bahwa demam kuning bukan disebabkan oleh bakteri leptospira. Sekembalinya ke tanah air, ia menjadi peneliti yang sangat produktif dan karya-karyanya kerap menghiasi jurnal sains internasional.

Menjadi Direktur Pertama dan Tragedi "Vaksin Maut" Klender

Pada tahun 1937, Mochtar bergabung dengan The Central Medical Laboratory (yang kemudian berganti nama menjadi Lembaga Eijkman). Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942 dan menawan ilmuwan Belanda, dr Achmad Mochtar diangkat menjadi Direktur Lembaga Eijkman. Ia mengukir sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menduduki posisi prestisius tersebut.

Namun, masa jabatan ini justru membawanya ke pusaran tragedi kemanusiaan yang kejam:

Tahun 1944: Tentara Jepang memerintahkan pembuatan vaksin tetanus untuk mengobati para pekerja paksa (romusha).

Petaka Vaksin: Sekitar 90 romusha yang disuntik justru tewas seketika. Peneliti Eijkman yang mengotopsi jaringan tubuh korban menyimpulkan bahwa vaksin tersebut telah sengaja dicemari oleh toksin tetanus.

Kekejaman Kenpeitai: Sialnya, militer Jepang (Kenpeitai) justru menjadikan Lembaga Eijkman sebagai kambing hitam. Pada Oktober 1944, Achmad Mochtar beserta staf peneliti dan tenaga medis ditangkap atas tuduhan sabotase. Mereka disiksa secara keji—dipukul, dibakar, hingga menggunakan metode waterboarding. Beberapa dokter bahkan tewas di dalam sel.

Negosiasi Maut demi Menyelamatkan Kolega

Melihat rekan-rekan kerjanya disiksa tanpa ampun atas kesalahan yang tidak mereka perbuat, nurani dr. Achmad Mochtar tergerak. Pada Januari 1945, sang direktur mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya.

Ia melakukan negosiasi rahasia dengan Kenpeitai. Mochtar menawarkan sebuah kesepakatan: ia bersedia mengaku bersalah melakukan sabotase sendirian, dengan syarat seluruh staf dan ilmuwan Lembaga Eijkman yang tersisa dibebaskan seketika.

Jepang menyetujui syarat tersebut. Rekan-rekan Mochtar dibebaskan, namun sang martir harus membayar mahal keputusannya. Pada 3 Juli 1945, tepat sebulan sebelum Indonesia merdeka, Prof. Dr. Achmad Mochtar dieksekusi mati dengan cara dipancung. Menurut catatan harian tentara Jepang, jasadnya dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang secara keji ke liang kubur massal.

Misteri 65 Tahun yang Terungkap di Ancol

Selama lebih dari enam dekade, keberadaan jasad dr. Achmad Mochtar menjadi misteri besar. Baru pada tahun 2010, melalui investigasi gigih yang dilakukan oleh penerusnya, Direktur Lembaga Eijkman Prof. Sangkot Marzuki dan Kevin Baird, teka-teki itu terjawab.

Makam sang pahlawan ditemukan di Ereveld (Taman Makam Kehormatan) Ancol, Jakarta. Ia dimakamkan secara massal dalam satu liang lahat bersama sembilan korban kekejaman Jepang lainnya.

Warisan Intelektual dan Keluarga

Atas pengorbanan sucinya, Pemerintah Indonesia menganugerahinya Bintang Jasa Nararya pada tahun 1972. Selain namanya yang diabadikan sebagai RSUD di Bukittinggi, darah intelektual dan seni dr. Achmad Mochtar juga mengalir deras dalam lingkaran keluarganya.

Ia menikah dengan Siti Hasnah dan merupakan paman dari tokoh-tokoh besar bangsa, termasuk Abu Hanifah (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI 1949-1950) serta Usmar Ismail, sutradara legendaris yang kini bergelar Pahlawan Nasional.

Prof. Dr. Achmad Mochtar adalah simbol tertinggi dari integritas seorang ilmuwan dan jiwa ksatria seorang pemimpin yang rela hancur demi menyelamatkan masa depan sains Indonesia. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru