Tejatat Tejasen, Profesor Anatomi asal Thailand

Reporter : Redaksi
Tejatat Tejasen

Nama Prof Tejatat Tejasen pernah menjadi perhatian dalam berbagai forum yang membahas hubungan antara ilmu pengetahuan dan Al-Qur’an. Profesor anatomi asal Thailand tersebut disebut mengalami ketertarikan mendalam terhadap Islam setelah mempelajari ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang fungsi kulit manusia dalam merasakan sakit.

Tejasen dikenal sebagai akademisi di Chiang Mai University dan memiliki latar belakang kuat di bidang kedokteran anatomi. Dalam sejumlah kisah yang banyak beredar di media dakwah Islam, ia menghadiri konferensi medis di Arab Saudi yang mempertemukan ilmuwan dengan para ulama untuk membahas kesesuaian penemuan sains modern dengan isi Al-Qur’an.

Perhatian Tejasen tertuju pada Surah An-Nisa ayat 56 yang menjelaskan bahwa kulit manusia akan diganti agar penghuni neraka kembali merasakan azab. Ayat tersebut kemudian dikaitkan dengan pengetahuan medis modern mengenai reseptor rasa sakit yang berada pada lapisan kulit dan jaringan saraf tertentu.

Dalam dunia kedokteran, luka bakar berat memang dapat merusak saraf sensorik sehingga kemampuan tubuh merasakan nyeri menurun. Penjelasan itulah yang disebut membuat Tejasen terkejut karena menurutnya konsep mengenai fungsi kulit sebagai pusat rasa sakit baru dipahami ilmu medis modern setelah perkembangan teknologi dan penelitian anatomi.

Beberapa sumber menyebut Tejasen kemudian mempelajari lebih banyak literatur tentang Al-Qur’an dan sains selama beberapa tahun. Ia juga dikabarkan berdiskusi dengan sejumlah ilmuwan Muslim mengenai embriologi, anatomi, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang dianggap memiliki kesesuaian dengan temuan ilmiah modern.

Pada salah satu konferensi di Riyadh, Arab Saudi, Tejasen disebut menyampaikan pandangannya bahwa informasi tertentu dalam Al-Qur’an sulit dijelaskan apabila hanya dianggap sebagai pengetahuan manusia biasa pada masa lampau. Di hadapan para peserta konferensi dan ulama yang hadir, ia dikabarkan mengucapkan syahadat dan menyatakan diri memeluk Islam.

Meski kisah tersebut sangat populer di berbagai media keislaman, dokumentasi akademik independen mengenai detail perpindahan agama Tejasen masih terbatas. Sebagian besar informasi berasal dari artikel dakwah, rekaman ceramah, dan situs yang membahas mukjizat ilmiah Al-Qur’an. Karena itu, beberapa bagian cerita masih menjadi perdebatan terkait tingkat verifikasi sejarahnya.

Terlepas dari kontroversi yang ada, kisah Prof Tejatat Tejasen tetap sering dijadikan contoh dalam diskusi mengenai hubungan antara agama dan sains. Cerita tersebut juga memunculkan perdebatan panjang tentang bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dipahami melalui sudut pandang ilmu pengetahuan modern. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru