Di dunia advokasi Indonesia, nama Profesor Dr. Otto Cornelis Kaligis, atau yang lebih populer dengan panggilan O.C. Kaligis, adalah sebuah legenda hidup. Lahir pada 19 Juni 1942, pengacara senior berkacamata ini telah melewati asam garam peradilan Indonesia selama lebih dari setengah abad.
Wajahnya telah ratusan kali menghiasi tajuk utama media, mulai dari menangani skandal megabintang, kasus korupsi pejabat tinggi, hingga pembelaan terhadap lingkaran terdalam kekuasaan.
Baca juga: Faktor Penyebab Banyak Eksekutif Kalah di Meja Perundingan
Namun, di balik barisan klien elitenya yang mentereng, Kaligis menyimpan sisi kemanusiaan yang sangat kontras di balik toga hukumnya.
Dari Pembela Kaum Marjinal hingga Aksi Protes Bayar Pensiun
Kaligis bukanlah tipikal pengacara yang hanya mau bergerak demi pundi-pundi rupiah. Rekam jejaknya mencatat pembelaan habis-habisan untuk kaum akar rumput: dari buruh pabrik, kuli bangunan, hingga rakyat miskin yang buta hukum. Ia bahkan pernah membela seorang residivis bernama Sudarto yang ditembak polisi secara cuma-cuma (pro bono).
Salah satu aksi paling heroik sekaligus fenomenal dalam sejarah hukum Indonesia terjadi ketika Kaligis mendampingi 35 orang sopir PPD yang menuntut hak dana pensiun mereka. Ketika Mahkamah Agung (MA) memutuskan mereka kalah, Kaligis merasa keadilan telah mati.
Sebagai bentuk aksi protes keras dan tamparan terhadap putusan Mahkamah Agung tersebut, O.C. Kaligis memilih membayar sendiri uang pensiun ke-35 sopir tersebut menggunakan kantong pribadinya hingga para kliennya itu meninggal dunia. Langkah perlawanan ini juga ia gaungkan secara masif lewat tulisan-tulisan tajam di berbagai surat kabar dan majalah nasional.
Baca juga: Notula Suap Hakim Minyak Goreng di Tangan Zarof
Magnet Penguasa dan Deretan Artis Papan Atas
Di sisi lain mata uang kariernya, O.C. Kaligis adalah pengacara kepercayaan para penguasa negara. Reputasinya yang gigih membuatnya ditunjuk menjadi kuasa hukum para mantan Presiden Indonesia, mulai dari H.M. Soeharto hingga B.J. Habibie, serta tokoh-tokoh besar seperti Samadikun Hartono.
Tak hanya di panggung politik, kantor hukumnya juga menjadi pelindung bagi deretan selebritas dan seniman legendaris tanah air saat tersandung masalah. Nama-nama besar seperti Ida Iasha, Lydia Kandou, Onky Alexander, mendiang Nike Ardilla, hingga Zarima tercatat pernah berdiri di bawah perlindungan hukumnya.
Fondasi Karier dari Meja Magang Notaris
Baca juga: Sempat Divonis Bebas, AKBP Achiruddin Ditangkap Lagi
Karier cemerlang ini tidak didapatkan Kaligis secara instan. Usai menggondol gelar Sarjana Hukum dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, ia memulai langkah pertamanya dari titik paling bawah.
Ia magang sebagai asisten dari Notaris Tumbunan yang berkantor di kawasan Jalan Pegangsaan, Jakarta. Berkat ketekunan dan ketajaman berpikirnya, status magang tersebut dengan cepat naik menjadi asisten notaris resmi, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mendirikan firma hukum sendiri dan bertransformasi menjadi salah satu mentor hukum terbesar yang melahirkan pengacara-pengacara kondang masa kini (termasuk Hotman Paris Hutapea). (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : Bambang Harianto