Budiman Sudjatmiko Ingatkan Kau Terhadap Bima

Reporter : Mula Eka P.
Bima Petrus Anugrah

Budiman Sudjatmiko menduduki posisi sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) di pemerintahan Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming. Posisi nyaman yang dijabat Budiman Sudjatmiko dianggap telah melupakan jati dirinya sebagai aktivis 1998. 

Ingatan tragedi kelam pada tahun 1998 ini ditekankan lagi oleh Herry Tjahjono. 

Baca juga: Budiman Sudjatmiko, dari Penjara Orde Baru hingga Universitas Cambridge

"Budiman, ingatkah kau akan Bima?" demikian penekanan Herry Tjahjono.

Katanya, Bima Petrus Anugrah adalah adik kelasnya di SMAK St Albertus (SMAK Dempo), Malang. Arema!

Kiprah, perjuangan, dan pengorbanan Bima luarbiasa. Dia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair) tahun 1993. Menjelang lahirnya era reformasi 1998, Bima Petrus Anugrah salah satu aktivis, pejuang yang mencuat ke permukaan. Bima Petrus Anugrah pernah dipenjara selama 60 hari karena terlibat pengorganisasian massa. 

Dia sempat berjanji pada ibunya untuk pulang merayakan Paskah pada tanggal 12 April 1998. Namun sejak Maret 1998, penculikan biadab telah bergulir. Dan pada tanggal 1 April 1998, Bima telah hilang diculik.

Bima sempat berpesan pada kawan-kawannya semasa gerakan perjuangan : "Kalau satu jam setelahnya aku tidak bisa dihubungi, aku hilang". 

Pesan yang menggetarkan, merefleksikan kesiapannya untuk berjuang sampai batas terjauh, sampai titik darah terakhir, demi kebaikan negerinya.

Bima Petrus Anugrah, adik kelas Herry Tjahjono yang "minoritas ganda" itu rela menjadi tumbal reformasi bersama rekan-rekan perjuangannya dari berbagai latar belakang suku dan agama. Mereka bersatu. Mereka berkorban. Mereka hilang.

Ayahanda Bimo pernah berkata atau lebih tepat meratap, saking pedih dan lelahnya menanti kabar tentang nasib anaknya : 

"Jangan terlalu berharap dia (Bima) pulang. Kalau dia dipanggil oleh Tuhan, ya sudahlah, selamat jalan anakku". Pesan yang pedih.

Sampai kini, bahkan jasadnya pun tak diketahui rimbanya. 

Sampai kini, dia tak bisa menepati janji merayakan Paskah bersama ibunda. 

Sampai kini, Ibu Pertiwi hanya bisa berduka menatap kebiadaban yang menimpa anak-anaknya.

“Melihat Budiman Sudjatmiko di tahun 2026 ini, saya malah teringat Bima Petrus di tahun 1998. Budiman, ingatkah kau akan Bima?” ungkap Herry Tjahjono. (*)

 

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru