Penyebab Keretakan Hubungan Soeharto Dan Benny Moerdani

Reporter : Mula Eka P.
Benny Moerdani

Hubungan antara Presiden Soeharto dan Jenderal TNI L.B. "Benny" Moerdani pernah menjadi duet paling kuat sekaligus paling ditakuti di era Orde Baru. Benny adalah pengawal setia kebijakan Pak Harto, sedangkan Pak Harto adalah payung politik tertinggi bagi sang Spymaster. 

Namun, tak ada kawan abadi dalam politik. Hubungan yang awalnya sedekat nadi itu perlahan retak, menjauh, dan berakhir dengan pembersihan Benny dari lingkaran utama kekuasaan.

Baca juga: Misteri Sapi Kurban Presiden Republik Indonesia

Banyak pengamat sejarah menyebut pergantian jabatan Panglima ABRI pada tahun 1988 sebagai titik awalnya. Namun, jarang ada yang tahu bahwa keretakan hubungan kedua tokoh paling berpengaruh di Indonesia ini ternyata bermula dari momen yang sangat kasual : sebuah obrolan di samping meja biliar di kediaman pribadi Jalan Cendana.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi malam itu hingga membuat Pak Harto tersinggung berat? Yuk, kita ulas kronologinya!

Meja Biliar Cendana: Tempat Curhat yang Berujung Petaka

Sebagai salah satu orang kepercayaan terdekat, Benny Moerdani memiliki akses istimewa ke kediaman pribadi Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Di sana, keduanya kerap menghabiskan waktu luang dengan bermain biliar bersama—sebuah momen santai di mana protokol kepresidenan yang kaku biasanya mencair.

Namun, pada suatu malam di pertengahan tahun 1980-an, suasana santai itu mendadak berubah tegang. Benny Moerdani, yang dikenal memiliki karakter jujur, tegas, dan blak-blakan, memutuskan untuk menyampaikan sebuah kegelisahan intelijen langsung kepada sang Presiden.

Sembari memegang stik biliar, Benny dengan berani mengingatkan Pak Harto mengenai sepak terjang anak-anak Cendana di dunia bisnis. Sebagai Kepala Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat), Benny menangkap sinyal bahaya: masyarakat dan internal militer mulai resah serta tidak menyukai gurita bisnis keluarga presiden yang dinilai sudah keterlaluan dan memanfaatkan fasilitas negara.

Baca juga: Jenderal Basuki Rahmat, Saksi Kunci Pembawa Surat Supersemar

Reaksi Dingin Pak Harto: Isyarat Berakhirnya Sebuah Kepercayaan

Mendengar teguran lisan yang sangat menohok itu, Pak Harto terdiam. Menurut saksi sejarah, sang Presiden langsung menghentikan permainannya, menaruh stik biliar, dan masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bagi orang yang paham karakter Soeharto, diamnya "The Smiling General" adalah sinyal bahaya terbesar. Pak Harto merasa Benny telah melintasi batas aman dengan mencampuri urusan domestik keluarganya. Kritik Benny, meski demi kebaikan rezim, dianggap sebagai bentuk pembangkangan dan ancaman bagi keluarga Cendana.

Sejak malam di meja biliar itulah, "tembok raksasa" ketidakpercayaan mulai dibangun di antara keduanya.

Baca juga: Alasan Harmoko Berbalik Arah dan Tikam Soeharto di Tahun 1998

Pencopotan Mendadak dan Operasi Pembersihan di Panggung Politik

Dampak dari obrolan biliar tersebut langsung terasa menjelang Sidang Umum MPR 1988. Hanya beberapa minggu sebelum sidang digelar, Soeharto mengambil keputusan mengejutkan dengan mencopot Benny Moerdani dari jabatan Panglima ABRI. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai strategi Pak Harto untuk mempreteli kekuatan Benny agar tidak bisa mengendalikan militer saat transisi kekuasaan.

Meski Benny kemudian diberi jabatan "hiburan" sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), ruang geraknya sudah dipersempit. Puncaknya, pada tahun 1993, nama Benny Moerdani benar-benar didepak dari kabinet, menandai berakhirnya karier politik sang maestro intelijen.

Kisah dari meja biliar Cendana ini menjadi salah satu bukti paling ikonik dalam sejarah Indonesia, betapa sebuah kejujuran dari seorang pelayan setia bisa seketika meruntuhkan karier puncaknya ketika berhadapan dengan sensitivitas bisnis keluarga penguasa. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru