Klinik Nayaka Husada Gelar Edukasi kepada Pasien PROLANIS
Klinik Nayaka Husada mengadakan edukasi kesehatan kepada para anggota PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis), bertempat di Klinik Nayaka Husada, Jalan Krikilan KM 15, Desa Krikilan, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, pada Selasa, 20 Januari 2026. Edukasi disampaikan oleh dr Agatha Yudiaputra.
Sebelum dilaksanakan edukasi, para anggota PROLANIS dilakukan tensi darah, senam, dan tes darah. Hal tersebut menjadi bagian dari pilar PROLANIS yang diprogramkan oleh Klinik Nayaka Husada, yakni edukasi, pengaturan pola makan, olah raga, minum obat, dan konsultasi pada Dokter .
Salah satu pilar yang ditekankan oleh dr Agatha Yudiaputra melalui arahannya ialah pilar olah raga. Olahraga bisa dilakukan dengan senam Ling Tien Kung, yakni senam kesehatan dan penyembuhan tanpa pengobatan yang diciptakan oleh Fu Laoshi (Guru) Fu Long Swie. Fu Long Swie ialah mantan atlit lari 100 meter dan lompat jauh pada era 1960 –an yang hobi membaca buku-buku klasik Tiongkok.
Fu Long Swie mempelajari gerakan Ling Tien Kung sudah 20 tahun –an. Kemudian diperkenalkan ke masyarakat umum pada tahun 200.
Fu Laoshi (Fu Long Swie) terinspirasi sebuah buku klasik Tiongkok “Tao De Ching“, yang salah satu bab dalam buku tersebut dijelaskan bahwa tubuh manusia mempunyai energi yang tidak bisa habis dan terus memperbaharui diri. Adapun sifat energi ini tidak berbentuk seperti halnya nyawa yang terus menggerakkan jantung.
Salah satu temuan Fu Long Swie sebagai pencipta senam Ling Tien Kung yang selalu diajarkan kepada para peserta senam ini adalah letak kutub negatif (katoda) dan kutub positif (anoda) dalam tubuh manusia. Menurut Fu Laoshi, kutub positif manusia terdapat pada “anus”, sedangkan kutub negatif terdapat pada “pusar”.
Otot otot di sekitar anus mempunyai peranan yang sangat penting sebagai pengikat energi bidang kotak kutub tersebut. Semakin tua manusia, semakin mengendor. Apalagi jika tidak pernah melatih organ tersebut, membuat manusia semakin tua semakin drop fungsi organnya dan semakin melemah.
“Ini akan menambah bonus macam-macam penyakit. Mulai reumatik, pegel linu, darag tinggi (hipertensi ), diabetes militus, jantung, kolesterol, ginjal dan penyakit kronis lain,” ungkap dr Agatha Yudiaputra.
Fu Loashi menciptakan tehnik baru dengan melatih otot-otot anus yang diberi nama Ling Tien Kung. Ling “nol“, Tien “titik”, dan Kung berarti “ilmu”. Jadi Ling Tien Kung sering disebut orang “ilmu titik nol”.
Salah satu buku klasik Tiongkok “Tao De Ching” menyebutkan bahwa tubuh manusia punya sumber energi yang tak pernah padam. Kualitas darah, sirkulasi darah, pun bisa diperbaiki dengan metode latihan yang baik dan benar serta kesungguhan.
Fu Long Swie dengan berbekal buku–buku referensi sebelumnya mengembangkan tehnik latihan sederhana yang dia sebut “empet empet anus” dan “jinjet-jinjet“, seperti orang berusaha menahan BAB (buang air besar) dalam waktu lama. Tehnik ini dilakukan dalam beberapa macam gerakan khas Ling Tien Kung. Metode akhirnya disempurnakan hingga tahun 2003, dan kemudian diperkenalkan ke masyarakat luas pada tahun 2005.
Harapan dr Agatha Yudiaputra, sinergi antara senam Ling Tien Kung dengan PROLANIS di Klinik Nayaka Husada, peserta akan mengurangi beban penderitaan penyakit kronis yang dideritanya, khususnya pasien diabetes millitus dan hipertensi.
“Karena salah satu program ini termasuk perhatian khusus Klinik Nayaka Husada. Karena peserta semakin bertambah, usia pasien semakin rentan akan berbagai penyakit,” ujar dr Agatha Yudiaputra.
Untuk diketahui, Klinik Nayaka Husada merupakan Klinik Pratama Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat pertama BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Klinik Nayaka Husada adalah salah satu klinik penyelenggara program PROLANIS (Program Pengelolahan Penyakit Kronis) yang sudah diprogramkan Pemerintah Pusat.
Adapun penyakit yang termasuk katagori kronis adalah diabetes millitus, hipertensi, jantung, asma, epilepsi. PROLANIS yang dikembangkan khusus peserta BPJS Kesehatan di Klinik Nayaka Husada peserta kesehatan yang menyandang diabetes millitus dan hipertensi. (*)
Editor : Bambang Harianto