Mengungkap Rahasia Konglomerat Punya Yayasan Atas Nama Mereka Sendiri

avatar Mula Eka P.
  • URL berhasil dicopy
Yayasan Konglomerat
Yayasan Konglomerat
grosir-buah-surabaya

Pernah tidak kalian berpikir, kenapa hampir semua konglomerat baik di Amerika maupun Indonesia punya yayasan atas nama mereka sendiri? Bill Gates punya Gates Foundation, Mark Zuckerberg punya Chan Zuckerberg Initiative, dan di Indonesia kalian pasti familiar lihat yayasan-yayasan atas nama keluarga konglomerat besar. 

Kelihatannya mulia dan dermawan, tapi ada sisi gelap di baliknya yang perlu kalian pahami. Rahasianya ada di struktur pajak. 

Di Amerika, kalau orang kaya mau wariskan hartanya langsung ke anaknya, Pemerintah potong 50% sebagai pajak warisan. Punya 1 miliar dolar mau diwariskan ke anak anaknya cuma terima 500 juta. 

Tapi kalau uang itu dimasukkan ke yayasan pribadi, pajaknya cuma 1% yang sifatnya simbolik. Yayasannya bisa diwariskan ke anak dengan kendali penuh, dan modal aslinya tetap utuh 1 miliar dolar. Dari 1 miliar itu mereka investasikan dan dapat return 100 juta dolar pajaknya tetap cuma 10.000 dolar dari modal awal. 

Ini bukan kedermawanan. Ini adalah tax avoidance yang sangat legal dan sangat cerdik. Dan faktanya bicara sangat jelas. Lebih dari 75% orang kaya Amerika yang bergabung di organisasi Giving Pledge organisasi yang anggotanya berjanji menyumbangkan setengah kekayaannya justru hartanya naik dua kali lipat sejak mereka bergabung di tahun 2010. 

Mereka berjanji beramal, tapi kekayaannya malah makin menggila. Karena uang itu tidak benar-benar keluar. Uang itu masuk ke yayasan yang mereka kendalikan sendiri, keluarga mereka yang pegang, dan investasinya terus menghasilkan return tanpa pajak yang berarti. 

Yang membuat ini semakin menarik dan relevan untuk konteks Indonesia adalah polanya sama persis. Yayasan konglomerat Indonesia bukan sekadar kegiatan sosial ini adalah instrumen perencanaan keuangan dan warisan yang sangat powerful. Dengan struktur yayasan yang tepat, aset bisa dipindahkan antar generasi dengan kewajiban pajak yang jauh lebih kecil dibanding transfer langsung. 

Dan di saat yang sama mereka dapat reputasi sosial yang sangat berharga ; citra dermawan, filantropis, pemberi beasiswa yang justru memperkuat brand bisnis utama mereka. 

Yang perlu dikritisi bukan bahwa yayasan mereka tidak melakukan kebaikan. Sebagian besar memang melakukan hal baik, yang nyata dan berdampak. 

Yang perlu dikritisi adalah narasi bahwa ini murni ketulusan tanpa kepentingan finansial. Itu tidak jujur. Ini adalah win-win yang sangat asimetris rakyat dapat sedikit bantuan, konglomerat dapat tax efficiency besar plus reputasi emas plus kendali aset tetap di tangan keluarga. 

Siapa yang paling diuntungkan sudah sangat jelas. Dan konteks globalnya makin memperparah gambarannya. 

Saat ini 1% orang terkaya di dunia menguasai dua pertiga dari total kekayaan global. Sistem yayasan filantropi ini bukan memecahkan ketimpangan itu sistem ini justru membantu melanggengkannya dengan cara yang kelihatan mulia di permukaan. 

Selama sistem pajaknya punya celah sebesar ini, konglomerat tidak akan pernah benar-benar kehilangan kekayaan mereka hanya karena berderma. Mereka sudah hitung semua angkanya jauh sebelum pengumuman donasi itu dibuat. (*)