Mak Katik, Maestro Adat Minang yang Diakui Dunia
Menjaga nyala api adat dan kebudayaan di tengah derasnya arus modernisasi bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto—atau yang lebih karib disapa Mak Katik—tugas tersebut telah menjadi jalan hidup yang ia tapaki dengan penuh totalitas. Pria kelahiran Batipuh, Tanah Datar, 18 Agustus 1949 ini dikenal luas sebagai seorang budayawan, pengajar, sekaligus aktor yang mendedikasikan seluruh hidupnya sebagai benteng pertahanan adat Minangkabau.
Reputasi intelektual Mak Katik di bidang kebudayaan tidak hanya diakui di tingkat lokal dan nasional, melainkan telah menembus batas negara. Tanpa gelar akademis formal yang berderet, kepakaran Mak Katik diakui dunia internasional hingga ia dipercaya menjadi dosen tamu di University of Hawaii, Amerika Serikat, serta Akademi Seni Warisan Budaya Kebangsaan Malaysia.
Di dalam negeri, keahliannya diakui secara luas oleh kalangan akademisi. Mak Katik aktif mengajar mata kuliah Etnologi Minangkabau dan Falsafah Adat Minangkabau di tiga universitas terkemuka di Sumatera Barat, yaitu Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Andalas (Unand), dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB).
Getir Masa Kecil dan Kegigihan Menulis di Kertas Rokok
Perjalanan Mak Katik menuju takhta sebagai maestro budaya dipenuhi oleh kisah perjuangan yang menyentuh. Lahir sebagai anak kedua dari delapan bersaudara di ranah Batipuh, himpitan ekonomi yang berat memaksa Mak Katik kecil harus mengubur mimpinya menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1963.
Keterbatasan sekolah formal tidak membendung rasa hausnya akan ilmu. Sejak tahun 1959, dalam usia yang masih sangat muda, ia mulai berguru secara mendalam kepada tiga tokoh adat terkemuka di kampungnya: Rangkai Tuah Kabun, Mak Etek Jaka, dan Datuak Tongga.
Di bawah temaram lampu minyak setiap malamnya, Mak Katik dengan telaten menyalin setiap bait pelajaran adat dan falsafah Minangkabau paragraf demi paragraf. Karena keterbatasan fasilitas, ia memanfaatkan kertas rokok sebagai media menulis naskah berharga tersebut. Kegigihan luar biasa inilah yang kelak membentuk fondasi kuat pengetahuannya.
Sang Penguasa Ragam Kesenian Ranah Minang
Dari ratusan murid yang pernah menimba ilmu pada ketiga guru legendaris tersebut, sejarah mencatat hanya Mak Katik yang berhasil menyerap seluruh khazanah ilmu adat dan seni budaya Minangkabau secara utuh. Ia menimba ilmu tanpa henti hingga ketiga mentornya wafat satu demi satu pada dekade 1980-an.
Kini, Mak Katik menguasai hampir seluruh spektrum kesenian Minang tradisional. Ia piawai merangkai bait-bait pantun sarat makna, menggubah naskah pertunjukan Randai (teater tradisional Minangkabau yang memadukan sandiwara dengan gerak silat), meniup saluang dengan syahdu, menguasai teknik silat Minangkabau yang tangguh, hingga mahir menabuh talempong. Satu-satunya cabang seni yang tidak ia kuasai hanyalah memainkan rabab, semata-mata karena instrumen gesek tersebut memang tidak pernah diajarkan oleh para gurunya.
Melalui perjalanan hidupnya dari seorang anak putus sekolah di Batipuh hingga menjelma sebagai dosen di universitas dunia, Mak Katik adalah bukti hidup bahwa dedikasi yang tulus pada kebudayaan mampu melahirkan intelektualitas tanpa batas. Bagi Ranah Minang, ia adalah pustaka berjalan yang menjaga ingatan kolektif generasi muda akan filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". (*)
Editor : Bambang Harianto