Mengenang KH Muhammad Cholil Bisri
Sejarah politik dan syiar Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama KH Muhammad Cholil Bisri (1942–2004). Tokoh kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah ini dikenal luas sebagai ulama garis depan, salah satu aktor utama di balik berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) periode 2002–2004.
Di balik jubah ulamanya, KH Cholil Bisri adalah sosok politikus tangguh yang memahat sejarah penting dalam transisi demokrasi Indonesia di era reformasi.
Masa Kecil di Pengungsian dan Didikan Singa Podium
Lahir pada 12 Agustus 1942, masa kecil Cholil Bisri tidak dilewati dengan kemewahan, melainkan di tengah desing peluru perang kemerdekaan. Beliau adalah putra sulung dari ulama legendaris Jawa, K.H. Bisri Mustofa, pengarang Tafsir Al-Ibriz yang sangat disegani.
Saat meletus pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun pada tahun 1948, K.H. Bisri Mustofa menjadi salah satu target utama yang diburu. Kondisi ini memaksa keluarga mereka mengungsi ke arah timur, tepatnya ke daerah Pare, Kediri. Di bawah asuhan sang ayah dan interaksi karib dengan Laskar Hizbullah yang mengangkat senjata, mentalitas kepemimpinan Cholil cilik mulai ditempa.
Menariknya, jiwa wirausaha Cholil Bisri justru tumbuh di masa-masa sulit pengungsian ini. Demi menyambung hidup, sang ayah membuat usaha kecil daur ulang kertas bekas koran untuk dijadikan buku catatan (notes). Cholil kecil tidak malu turun langsung ke jalanan untuk ikut menjajakan buku-buku catatan tersebut.
Unik Sejak Sekolah dan Mengembara di Pesantren-Pesantren Besar
Karakter Cholil Bisri yang tegas dan enggan mengalah sudah terlihat sejak dini. Beliau berhasil menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) 6 Kartioso hanya dalam waktu 5 tahun. Alasannya terbilang unik: beliau langsung minta melompat ke kelas dua karena ogah berada di satu kelas yang sama dengan adiknya, Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), yang saat itu baru masuk kelas satu.
Setelah situasi keamanan negara pulih, keluarga ini kembali ke Rembang pada tahun 1950. Menginjak usia remaja, pengembaraan spiritual dan keilmuan Cholil dimulai. Atas perintah sang ayah, beliau dikirim untuk nyantri di bawah bimbingan ulama-ulama besar:
Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta (1956): Di sini, beliau tinggal bersama K.H. Ali Ma'shum dan mulai menyerap nilai-nilai kehidupan yang sangat demokratis.
Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (1957): Beliau sempat diboyong oleh sahabat karib ayahnya, K.H. Mahrus Ali, untuk menimba ilmu di Kediri selama setahun, sebelum akhirnya kembali lagi ke Krapyak.
Kiprah Politik: Dari Daerah Menuju Panggung Nasional
Darah perjuangan sang ayah mengalir deras dalam diri Cholil Bisri. Namun, beliau adalah sosok yang sangat tahu membagi prioritas antara pesantren dan politik.
Pada Pemilu 1982, beliau sempat diminta untuk maju sebagai anggota DPRD Tingkat I (Provinsi). Secara mengejutkan, beliau menolak tawaran tersebut demi fokus mengurus para santri di sisa waktunya. Beliau memilih bertahan di DPRD Tingkat II (Kabupaten) Rembang. Uniknya, jatah kursi DPRD Tingkat I tersebut justru beliau serahkan kepada adiknya, Gus Mus, setelah melalui berbagai diskusi panjang.
Barulah pada tahun 1992, setelah merasa pengabdiannya di tingkat kabupaten sudah cukup, K.H. Cholil Bisri melangkah ke panggung nasional. Beliau terpilih menjadi anggota DPR RI melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Puncaknya, pasca-Reformasi, beliau menjadi salah satu pilar penting pembidang lahirnya PKB dan dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.
Akhir Hayat Sang Pengasuh "Dalam Pagar" Leteh
K.H. Muhammad Cholil Bisri wafat dalam usia 62 tahun pada 23 Agustus 2004 pukul 20.40 WIB di kediamannya di Leteh, Rembang. Sang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin ini mengembuskan napas terakhirnya dengan meninggalkan warisan keteladan yang luar biasa bagi santri dan dunia politik tanah air.
Beliau meninggalkan seorang istri, Hj. Muhsinah, delapan orang anak (termasuk K.H. Yahya Cholil Staquf dan Yaqut Cholil Qoumas yang kelak meneruskan kiprah besarnya di kancah nasional), serta sejumlah cucu. Jenazah sang ulama dikebumikan di Pemakaman Keluarga Bisri Mustofa di Kabongan Kidul, Rembang, mengakhiri perjalanan panjang seorang kiai pejuang yang konsisten mengabdi untuk umat dan bangsa. (*)
Editor : S. Anwar