Panas Dingin Hubungan Natsir dan Soekarno

avatar Ach. Maret S.
  • URL berhasil dicopy
Soekarno dan Natsir
Soekarno dan Natsir
grosir-buah-surabaya

Profesor Yusril Ihza Mahendra berhasil mempertahankan disertasi studi filsafat tentang kajian pemikiran Mohammad Natsir di Universitas Indonesia beberapa pekan lalu. Hari ini, 17 Juli, 118 tahun yang lampau, "guru" yang dikajinya lahir di Alahan Panjang, Minangkabau, medan perjuangan gerakan Islam reformis.

Mohammad Natsir merupakan Pahlawan Nasional yang kesohor sebagai politisi, ulama, dan negarawan. Ia pernah jadi Direktur Pendidikan Islam (Pendis), Wakil Ketua Hoofdbestuur Persatuan Islam (PERSIS), Menteri Penerangan, Perdana Menteri Republik Indonesia (RI), Ketua Umum Masyumi, Ketua Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, dan Vice President World Moslem Congress.

Sebagai orang Minang, Natsir tumbuh di bawah tradisi pendidikan Islam yang kuat. Meski dibesarkan secara formal menjadi murid di sekolah bikinan Belanda, profil Natsir selaku aktivis plus intellectueel Muslim dimantapkan oleh Tuan Ahmad Hassan, Syaikh Ahmad Soorkati, dan Haji Agus Salim.

Natsir menjadi ikon intelek-ulama di Indonesia. Sosoknya mulai diperhatikan ketika terlibat dalam "perseteruan" dengan Soekarno, pemimpin nasionalis sekuler yang namanya sedang naik daun pada akhir 1930-an.

Polemik antara Natsir dengan Soekarno terdokumentasikan sebagai perdebatan terbaik sebelum Indonesia merdeka. Topik polemiknya mengenai hubungan antara Islam dan negara. Perdebatan mereka berlangsung di media massa, selama berbulan-bulan.

Walau pernah bersilang pendirian, tetapi keduanya mampu bekerjasama dengan baik di awal masa kemerdekaan. Natsir mengenang momen ini dalam buku Pesan Perjuangan Seorang Bapak (2019):

"Kita memang sama-sama menghendaki kemerdekaan, tetapi motivasi kita berbeda, paham dan prinsipnya juga berbeda, tapi kita tidak bermusuhan secara pribadi. Inilah yang saya maksud dialog yang sehat. Orang bisa berbeda pendapat, bahkan berbeda 180 derajat, tapi masih dapat berkomunikasi secara terbuka."

Walhasil, Natsir dipercaya oleh Presiden Soekarno jadi Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pertama. Kedudukan ini menjadi capaian tertinggi karirnya selaku politisi sekaligus titik balik hubungannya dengan Soekarno. Rupanya di mata Sang Proklamator, Natsir terlalu patuh aturan ketika berhadapan dengan Belanda pada soal Irian Barat.

Lantaran aktivitas di Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Natsir harus mendekam di penjara. Soekarno banyak menjebloskan kawan yang dulu pernah membersamainya. Tokoh-tokoh Masyumi dan PSI dibui, sementara partainya dipaksa bubar. Mungkin waktu itu Natsir marah dan kecewa, manusiawi.

Beberapa tahun kemudian, ketika bercerita kepada para muridnya, Natsir tidak mengenang Soekarno dengan ungkapan kebencian. Ia masih mengingat momen-momen terbaik bersama Soekarno yang saat itu sudah wafat duluan.

"Perbedaan saya dengan Bung Karno jelas makin nyata, saat itu, baik yang menyangkut konstitusi maupun pandangan-pandangan lain yang menyangkut kenegaraan pemerintahan. Namun perbedaan pendapat tidak menjadi halangan untuk kami sarapan pagi bersama di Istana Yogyakarta (Gedung Agung) waktu itu. Dan kami juga ngobrol sana ngobrol sini, layaknya teman akrab."

Daftar Referensi:

Pratiknya, A. W. (2019). Pesan Perjuangan Seorang Bapak: Percakapan Antar Generasi. Jakarta: LAZNAS Dewan Da'wah dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

Puar, Yusuf Abdulah. (1978). Muhammad Natsir 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangannya. Jakarta : Pustaka Antara.

*) Source : Naufal Al-Zahra (Peneliti Sejarah Partikelir)