Radjiman Belajar Kedokteran Demi Selamatkan Warga Ngawi dari Wabah Pes

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Radjiman Wedyodiningrat
Radjiman Wedyodiningrat
grosir-buah-surabaya

Kabupaten Ngawi menyimpan banyak kisah sejarah yang menginspirasi. Salah satunya adalah pengabdian dr Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat, seorang dokter sekaligus tokoh pendiri Republik Indonesia yang rel mendalami ilmu kedokteran demi menyelamatkan masyarakat Kabupaten Ngawi dari wabah penyakit pes. 

Di balik kiprahnya sebagai Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Radjiman dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat. Bahkan, keputusan besarnya untuk menjadi dokter berawal dari keprihatinannya melihat kondisi warga Ngawi yang kala itu dilanda pandemi penyakit pes.

Pada masa penjajahan Belanda, penyakit pes menjadi salah satu wabah yang paling mematikan. Banyak warga Ngawi meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Melihat kenyataan itu, Radjiman Wedyodiningrat memilih menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Djawa di Batavia.

Keputusan tersebut bukan sekadar untuk meraih profesi bergengsi, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis. Tidak hanya itu, Radjiman juga secara khusus mendalami ilmu kandungan. Pilihan tersebut tergolong luar biasa pada zamannya karena sangat sedikit dokter laki-laki yang mempelajari bidang kebidanan.

Alasannya sederhana namun mulia. Saat itu banyak ibu meninggal dunia ketika melahirkan. la ingin menyelamatkan para ibu sekaligus generasi penerus bangsa. Usahanya membuahkan hasil. Radjiman berhasil lulus dari STOVIA pada tahun 1898 dan kemudian terus memperdalam ilmu kedokterannya hingga ke luar negeri.

Setelah memiliki bekal ilmu yang luas, Radjiman memilih mengabdikan diri kepada masyarakat. Sejak tahun 1934, ia menetap di Dusun Dirgo, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi sebagai dokter ahli penyakit pes.

 

Saat itu wabah pes masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Banyak warga meninggal dunia sehingga kehadiran Radjiman menjadi harapan besar bagi masyarakat.

Dedikasinya dalam menangani pasien tanpa mengenal lelah membuat namanya sangat dihormati oleh warga Ngawi. Pengabdiannya tidak hanya sebatas mengobati penyakit, tetapi juga memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat agar mampu mencegah penyebaran wabah.

Rumah tempat tinggal Radjiman yang dahulu difungsikan sebagai tempat pengobatan kini telah menjadi situs sejarah. Masyarakat Ngawi mengenalnya dengan sebutan Kanjengan.

Situs tersebut kini bernama Situs dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat dan berada di Dusun Paldaplang, Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi.

Bangunan yang diperkirakan telah berusia sekitar 134 tahun itu menjadi saksi bisu perjuangan seorang dokter yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Menurut berbagai kisah yang berkembang, Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, bahkan pernah dua kali berkunjung ke rumah tersebut ketika masa pergerakan nasional. Kedekatan Radjiman dengan Bung Karno menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Selain dikenal sebagai dokter, Radjiman Wedyodiningrat merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. la dipercaya menjadi Ketua BPUPKI yang memiliki peran besar dalam merumuskan dasar negara sebelum Indonesia merdeka.

Meski memiliki peran penting dalam dunia politik dan perjuangan kemerdekaan, Radjiman tidak pernah meninggalkan panggilan hidupnya sebagai seorang dokter yang mengutamakan kemanusiaan.

Semangat pengabdian, kepedulian terhadap masyarakat, serta perjuangannya melawan wabah penyakit menjadikan sosoknya sebagai teladan yang layak dikenang sepanjang masa. Hingga kini, kisah perjuangan dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat terus hidup melalui situs Kanjengan di Widodaren, Ngawi. (*)

*) Source : Jurnal ngawi