Hotel Ngamplang Garut, Tempat yang Pernah Dikunjungi Charlie Chaplin

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Hotel Ngamplang
Hotel Ngamplang
grosir-buah-surabaya

Hotel Ngamplang di Kabupaten Garut merupakan jejak masa kejayaan industri perhotelan di Indonesia yang masih tegak sampai sekarang. Hotel Ngamplang berdiri di dataran tinggi yang sejuk an asri.

Hotel Ngamplang dibangun sekitar tahun 1927 oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan arsitektur gaya kolonial yang memadukan unsur Eropa dan arsitektur tropis Nusantara — atap tinggi, teras luas, tiang kokoh, ventilasi lebar.

Dulu, Hotel Ngamplang menjadi tempat peristirahatan favorit pejabat kolonial, turis Eropa, tokoh terkenal dunia. Charlie Chaplin, komedian legendaris dunia, pernah menginap dan berlibur di Hotel Ngamplang.

Charlie Chaplin datang ke Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an dan memilih menginap di Hotel Ngamplang karena udaranya yang sejuk dan pemandangannya indah - Garut kala itu dikenal sebagai "Parijs van Java" — tempat peristirahatan paling dicari karena alamnya yang asri.

Kehadirannya menjadi kenangan abadi; namanya tercatat dalam daftar tamu istimewa hotel ini.

Dari Masa ke Masa 

Tahun tampilan 1939, kondisi bangunan masih utuh, terawat rapi, mobil-mobil mewah Belanda berhenti di depan — suasana hidup dan bergengsi. Kini, di tahun 2026, Hotel Ngamplang masih berdiri kokoh, atap dan dinding luar masih utuh. Namun bagian dalam sudah banyak rusak, cat mengelupas, tanaman liar mulai tumbuh di sekelilingnya.

Bangunan Hotel Ngamplang ini bukan sekadar tembok — ia menyimpan jejak tamu dunia, percakapan tokoh-tokoh masa lalu, dan kemegahan Garut tempo dulu. 

Hotel Ngamplang saat ini masih tegak. Struktur bangunan utama belum runtuh — bukti kualitas bangunan zaman dulu. Tapi bagian dalam rusak, lantai dan langit-langit banyak yang rapuh, belum ada pemugaran menyeluruh.

Hotel Ngamplang bukan sekadar bangunan tua — Hotel Ngamplang ini Cagar Budaya yang menyambungkan Garut dengan sejarah dunia.

Semoga Hotel Ngamplang segera mendapat perhatian untuk dipulihkan, bukan sekadar dipertahankan berdiri, tapi hidup kembali sebagai saksi sejarah yang bisa dikunjungi generasi mendatang. (*)