Kisah Dua Sahabat Dirikan Cotton Ink dengan Modal Rp 1 Juta
Modal Rp 1 juta dari pinjaman orang tua dan nekat bikin kaos sablon bergambar Barack Obama lalu dijual lewat Facebook, dua sahabat ini sukses membangun Cotton Ink, menjadi salah satu merek fashion lokal terbesar Indonesia.
Dua Sahabat, Dua Kesibukan Berbeda
Carline Darjanto dan Ria Sarwono sudah bersahabat sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat merintis Cotton Ink, Carline masih kuliah fashion di Lasalle College sambil kerja paruh waktu di perusahaan garmen milik pamannya. Ria Sarwono kuliah sambil jadi guru les piano. Keduanya sama sekali belum berniat serius membangun bisnis besar
Modal dari Kantong Orang Tua
November 2008, momentum kemenangan Barack Obama di pemilu Amerika Serikat jadi sangat populer di Indonesia, apalagi Obama pernah menghabiskan masa kecilnya di Jakarta. Carline dan Ria Sarwono melihat peluang ini, membuat kaos sablon bergambar Obama dengan modal Rp 1 juta. Uang itu hasil pinjaman dari orang tua masing-masing Rp 500 ribu.
Dua lusin kaos Obama pertama itu dijual lewat media sosial, tanpa toko fisik atau situs sendiri. Nama Cotton Ink dipilih dari gabungan kata cotton, mewakili bahan katun yang nyaman untuk iklim tropis, dan ink, merujuk pada teknik sablon yang jadi fondasi produk pertama mereka.
Produk yang Jadi Hits
Tahun 2009, mereka meluncurkan produk baru, syal serbaguna yang mereka sebut convertible scarf, bisa dipakai dengan berbagai gaya berbeda. Produk ini mendapat respons jauh di luar dugaan, jadi hits di kalangan pembeli.
Keputusan untuk Serius
Awal tahun 2010, didorong kesuksesan produk sebelumnya, Carline dan Ria Sarwono memutuskan menyeriusi bisnis ini, dari sekadar aksesori jadi merek pakaian yang utuh. Mereka melakukan survei kecil-kecilan sebelum merilis lini pakaian kasual dengan desain yang jauh dari kesan formal atau pesta.
Dari Online ke Toko Fisik
Tahun 2011, Cotton Ink baru punya situs jual beli sendiri, empat tahun setelah bisnis ini dimulai. Baru di tahun 2015, mereka membuka toko fisik pertama di kawasan Jakarta. Pertumbuhan ini berjalan pelan tapi konsisten, tanpa terburu-buru mengejar skala besar di awal.
Diakui Sampai Skala Internasional
Tahun 2016, Carline masuk daftar 30 Under 30 Asia versi Majalah Forbes. Cotton Ink kini memproduksi sampai 8.000 potong pakaian per bulan, menjangkau konsumen di Australia, Malaysia, Singapura, sampai Eropa, dengan pertumbuhan tahunan di atas 30 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Carline dan Ria Sarwono tidak memulai Cotton Ink dengan rencana besar atau modal berlebih. Mereka memulai dari kesempatan kecil yang muncul di depan mata, dua lusin kaos sablon dengan modal patungan orang tua. (*)
*) Source : The founders
Editor : Bambang Harianto