Potensi Ekspor Kayu Olahan Terbuka Lebar di Kancah Pasar Global
Permintaan kayu olahan dalam dunia perdagangan internasional semakin meningkat. Menurut rekam jejak perdagangan furniture ke Mauritius rutin dan berkelanjutan.
Produk furniture umumnya berasal dari bahan baku kayu alami seperti jati, mahoni, merbau, bambu dan lainnya. Kali ini petugas karantina yang bertugas di Pelabuhan Tanjung Emas melakukan pemeriksaan terhadap furniture sejumlah 142 m3 senilai 211 juta tujuan Mauritius dan plywood sejumlah 241 m3 senilai 1,5 miliar tujuan Malaysia, pada Senin (11/05/2026). Masing-masing kayu olahan yang diekspor tersebut memiliki desain unik hasil finishing ramah lingkungan.
Hari Yuwono Ady selaku Kepala Karantina Jawa Tengah (Jateng) menyatakan bahwa potensi ekspor kayu olahan Jateng makin meroket seiring permintaan pasar yang terus berkelanjutan. Hal ini menjadi peluang emas untuk mengembangkan industri kayu.
Produk kerajinan furniture dan olahan kayu lainnya dalam negeri yang akan diekpsor harus berpedoman pada standar kualitas internasional. Selain itu perlu adanya inovasi baru untuk menghasil produk unggulan yang tidak kalah bersaing di pasar luar negeri.
Guna mensucihamakan dan mencegah risiko serangan serangga target OPTK, sebelum berangkat dilakukan tindakan perlakuan fumigasi menggunakan methyl bromide. Hasil perlakuan fumigasi dicantumkan dalam Phytosanitary Certificate. Sertifikasi ini tidak hanya sekedar dokumen kesehatan sebagai jaminan keberterimaan di negara tujuan, tetapi berfungsi sebagai instrumen ekonomi penting dalam kancah perdagangan bebas.
Karantina Jateng berkomitmen memberikan pelayanan prima guna mendukung gebrakan ekspor di Jateng. Selain melakukan serangkaian tindakan karantina, juga melakukan pendampingan dan edukasi kepada produsen, petani, pelaku usaha sehingga dapat berkreasi sehingga produknya makin mendunia. (*)
Editor : Bambang Harianto