Wijaya Kusuma Keraton Simbol Sekar Kemenangan dari Nusakambangan

Reporter : Redaksi
Wijaya Kusuma

Di sebuah sudut paling sunyi di Pulau Nusakambangan, tersembunyi sebuah pohon yang tidak tumbuh sembarangan. Ia tidak tumbuh di tanah sembarangan. Dan bunganya—tidak mekar di waktu sembarangan.

Namanya adalah Wijaya Kusuma, sekar sakral yang sejak zaman raja-raja dahulu dipercaya membawa restu langit dan legitimasi dari dunia niskala. Konon, hanya raja yang sungguh-sungguh terpilih dan direstui leluhur yang dapat mengirim abdi dalemnya ke pulau ini untuk memetik bunga tersebut.

Baca juga: Kemenkumham Revitalisasi UPT Pemasyarakatan se Priangan Timur

Tapi sebelum tangan manusia menyentuhnya, harus dilakukan tirakat panjang: zikir malam, doa-doa suci, dan langkah yang disucikan oleh tanah leluhur. Sebab bunga ini bukan sekadar tanaman—ia adalah penjelmaan wahyu kemenangan, lambang bahwa seorang raja bukan sekadar memerintah, tetapi harus menyatu dengan alam, leluhur, dan takdir agung.

Bunganya putih, kadang bercahaya samar, seolah mengandung sinar rembulan. Saat kelopaknya terbuka, diyakini bahwa pintupintu gaib pun turut terbuka. Sebuah pertanda bahwa raja baru telah diterima oleh kekuatan gaib penjaga tanah Jawa.

Baca juga: Dirjenpas dan Kepala BNPT Tinjau Lapas di Nusakambangan

Setelah dipetik dengan tata cara yang benar, bunga itu dibawa pulang ke Keraton Surakarta atau Yogyakarta, dikawal layaknya pusaka. Diletakkan di ruang dalam keraton, di dekat singgasana atau pusaka utama.

Di situlah, Wijaya Kusuma berubah menjadi tanda restu—bunga yang menghubungkan bumi dan langit, manusia dan ilahi.

Kini, bunga itu makin langka. Namun bagi mereka yang masih memegang kunci-kunci tua budaya Jawa, Wijaya Kusuma tetap hidup—bukan hanya di hutan keramat, tapi juga dalam jiwa mereka yang menjaga harmoni antara dunia lahir dan batin. (*)

Editor : Zainuddin Qodir

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru