Thoyib Hadiwijaya, Sang Maestro Pertanian Era Orde Baru

Reporter : Mula Eka P.
Thoyib Hadiwijaya

Di balik sukses besar Indonesia mencapai swasembada pangan pada era Orde Baru, ada tangan dingin para akademisi dan birokrat ulung yang bekerja keras di balik layar. Salah satu arsitek utama di balik transformasi hijau tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Thoyib Hadiwijaya (Tojib Hadiwidjaja).

Pria kelahiran 12 Mei 1919 ini bukan sekadar pejabat biasa, melainkan seorang ilmuwan tepercaya yang mengomandoi sektor pangan Indonesia selama satu dekade penuh sebagai Menteri Pertanian (1968–1978).

Baca juga: 545 Ton Produk Unggas Asal Indonesia Diekspor ke Tiga Negara

Intelektual Kampus yang Membidani Sektor Pendidikan Tinggi

Sebelum terjun penuh mengurusi sawah dan ladang di seluruh Nusantara, Thoyib Hadiwijaya merupakan seorang akademisi tulen yang sangat dihormati. Dedikasinya di dunia pendidikan membuat Presiden Soekarno mempercayainya untuk masuk ke dalam kabinet di era Orde Lama.

Ia didaulat menjabat sebagai Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Indonesia periode 1962–1964. Di posisi ini, ia meletakkan berbagai fondasi penting bagi pengembangan kampus-kampus negeri dan riset ilmiah di tanah air, termasuk keterlibatannya dalam fase-fase awal pertumbuhan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Menembus Jembatan Diplomasi di Eropa

Kelenturan berpikir dan wawasan dunianya yang luas membuat Thoyib tidak hanya dikurung di dalam laboratorium atau ruang kuliah. Negara sempat mengutusnya ke benua Eropa untuk mengemban misi diplomatik penting.

Sepanjang tahun 1965 hingga 1966, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Luksemburg. Pengalaman diplomasi internasional ini semakin memperkaya cakrawala pandangnya dalam melihat sistem tata kelola komoditas dan teknologi modern di luar negeri.

Baca juga: Media Tempo Ajukan Kontra Memori Banding Melawan Menteri Pertanian

Satu Dekade Menakhodai Kementerian Pertanian

Memasuki era Orde Baru, fokus negara beralih total pada pemulihan ekonomi dan stabilitas pangan. Pengalaman Thoyib sebagai ahli agraria dan mantan Menteri Perkebunan (1967–1968) menjadikannya kandidat paling logis bagi Presiden Soeharto untuk memimpin sektor paling krusial saat itu.

Thoyib Hadiwijaya pun dilantik menjadi Menteri Pertanian dalam dua periode kabinet sekaligus:

Kabinet Pembangunan I (1968–1973)

Baca juga: Staf Kementerian Pertanian Lakukan Pungutan Liar ke Petani

Kabinet Pembangunan II (1973–1978)

Selama 10 tahun masa baktinya, ia menjadi motor penggerak modernisasi pertanian Indonesia. Di bawah arahannya, program-program revolusi hijau, intensifikasi pertanian (Massal/Bimas), serta penggunaan bibit unggul digalakkan secara masif. Langkah-langkah strategis inilah yang menjadi fondasi utama bagi Indonesia hingga berhasil meraih penghargaan internasional atas pencapaian swasembada beras di kemudian hari.

Legasi Abadi Sang Begawan Agraria

Prof. Thoyib Hadiwijaya mengembus napas terakhirnya pada 12 Desember 2002 di usia 83 tahun. Ia berpulang dengan meninggalkan legasi yang sangat kokoh bagi ketahanan pangan bangsa. Kisah hidupnya adalah bukti nyata bagaimana sains, diplomasi, dan kebijakan birokrasi jika disatukan di tangan orang yang tepat mampu menghidupi serta menyelamatkan jutaan perut rakyat Indonesia. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru