TB Silalahi, Penjaga Nyala Pendidikan Bona Pasogit

Reporter : Redaksi
Letnan Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Tiopan Bernhard Silalahi

Dalam konstelasi kepemimpinan nasional dan militer Indonesia, nama Letnan Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Tiopan Bernhard Silalahi, atau yang lebih karismatik dikenal sebagai T.B. Silalahi (17 April 1938 – 13 November 2023), menempati posisi yang amat dihormati. Lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) 1961 ini adalah potret paripurna seorang jenderal pemikir (soldier-statesman). Rekam jejak emasnya membentang kokoh mulai dari palagan operasi militer, misi perdamaian dunia di Timur Tengah, nakhoda reformasi birokrasi di kabinet, penasihat kepercayaan istana, hingga dedikasi tulusnya memajukan pendidikan di tanah Batak.

Satria Kavaleri: Dari Palagan Domestik hingga Penjaga Perdamaian Dunia

Baca juga: Saat Bu Tien Mengusulkan Dading Kalbuadi Jadi KASAD

T.B. Silalahi mengawali pengabdian bersenjatanya di korps baret hitam (Kavaleri) sebagai Komandan Peleton (Danton) Yonkav 4/Siliwangi dalam operasi Keamanan Dalam Negeri (Kamdagri) di Jawa Barat pada tahun 1962. Ketangguhannya di lapangan membawa dirinya dipercaya menjadi Wakil Komandan Kompi (Wadanki) dalam operasi Kamdagri di Sulawesi Selatan (1963–1965) bersamaan dengan berkecamuknya konfrontasi Dwikora.

Kariernya kian melesat hingga didaulat menjabat Komandan Yonkav 8/Tank Kostrad pada tahun 1972. Kemampuan manajerial dan diplomasinya diuji di panggung internasional ketika ia dikirim ke Timur Tengah sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB menyusul pecahnya Perang Oktober 1973 antara Israel dan Mesir. Di Kairo, ia mengemban tugas krusial sebagai Camp Commandant UNEF (United Nations Emergency Force) Middle East.

Sekembalinya dari gurun pasir, ia dipercaya mengemban berbagai posisi strategis di antaranya Dosen Seskoad (1974), Asops Kasdam XIV/Hasanuddin di Ujung Pandang (1978), Kasdam VII/Diponegoro (1982), hingga meraih pangkat Mayor Jenderal TNI sebagai Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) KASAD pada tahun 1986.

Intelektual Berpredikat Cum Laude dan Reformator Birokrasi

Di sela-sela kesibukan dinas militer yang padat, T.B. Silalahi adalah sosok yang sangat haus akan ilmu pengetahuan. Ia konsisten mengasah kemampuan akademisnya dengan menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung hingga meraih gelar Sarjana Muda (1968), dan kelak menuntaskan gelar S1 di Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM) dengan predikat Cum Laude pada tahun 1995. Atas jasanya yang luas di bidang pemerintahan, ia dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gregorio Araneta di Manila, Filipina pada tahun 1996.

Kecerdasan teknokratis ini membuat pemerintah memintanya bertugas di luar institusi militer (dikaryakan). Ia memulai karier sipilnya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertambangan dan Energi pada tahun 1988.

Puncak karier birokrasinya terjadi pada tahun 1993, ketika Presiden Soeharto menunjuknya sebagai Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) dalam Kabinet Pembangunan VI (1993–1998). Seiring jabatan menteri tersebut, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Jenderal TNI. Di pos ini, ia meletakkan dasar-dasar efisiensi kelembagaan pemerintahan dan disiplin aparatur sipil negara.

Baca juga: Puspenerbal Sabet Lima Medali di Kejurnas Pencak Silat KASAD Cup 2024

Kepercayaan Istana: Dari SBY hingga Wantimpres

Keahlian strategis T.B. Silalahi tetap dibutuhkan negara melintasi pergantian rezim. Pada tahun 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya sebagai penasihat khusus presiden. Peran diplomasinya kembali diuji saat ditunjuk menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah pada tahun 2006. Setahun kemudian, pada tahun 2007, ia resmi dilantik menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang Pertahanan dan Keamanan—sebuah bukti nyata bahwa pemikirannya selalu berharga bagi jalannya roda negara.

Membayar Utang Sejarah: Nyala Pendidikan di Balige

Meski telah menggenggam puncak karier di ibu kota, hati T.B. Silalahi tidak pernah meninggalkan tanah kelahirannya, Bona Pasogit (kampung halaman). Khawatir melihat penurunan mutu pendidikan di wilayah Sumatera Utara, ia tergerak untuk turun tangan secara nyata.

Bersama rekan-rekan masa kecilnya yang tergabung dalam Alumni SMA Soposurung, ia mendirikan Yayasan Soposurung di Balige. Yayasan ini membangun sebuah asrama modern yang menerapkan seleksi super ketat bagi lulusan SMP terbaik. Setiap tahun, putra-putri pilihan digembleng secara mental, karakter, kedisiplinan, dan kepemimpinan di asrama ini, sembari menempuh pendidikan formal di SMAN 2 Balige.

Baca juga: Danrem 084/Bhaskara Jaya Menghadiri Peresmian Sumber Air Yang Dilaksanakan Secara Virtual

Dimulai dari kuota 40 siswa, kapasitas asrama terus berkembang menjadi 80, hingga kini menampung 120 siswa terbaik per angkatan. Yayasan Soposurung menjelma menjadi salah satu inkubator penghasil sumber daya manusia unggulan yang sukses menembus perguruan tinggi top serta akademi militer/kepolisian di Indonesia.

Akhir Perjalanan sang Jenderal Bersahaja

Setelah mengarungi masa hidup yang sarat pengabdian, Letjen TNI (Purn.) T.B. Silalahi mengembuskan napas terakhirnya pada 13 November 2023 dalam usia 85 tahun.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia, khususnya korps TNI dan masyarakat Sumatera Utara. Ia meninggalkan legasi yang abadi: cetak biru reformasi birokrasi, catatan emas misi perdamaian dunia, serta yang paling hidup adalah ribuan alumni Yayasan Soposurung yang kini tersebar memajukan bangsa, meneruskan mimpi sang jenderal yang tak pernah padam. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru