Milisi Organisasi Papua Merdeka (OPM), Tim Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XVI-Yahukimo, menembaki pesawat sipil pengangkut prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat melintas di udara Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Senin (04/08/2025).
Dalam video 00.15 detik, seorang gerilyawan berdiri mengapit laras panjang mengacung ke udara, dengan posisi membidik diantara belantara Distrik Dekai. Tak lama terdengar tiga kali letusan berkala mengarah ke pesawat, yang diduga baru tinggal landas dari bandara setempat.
Baca juga: Organisasi Papua Merdeka Tuduh TNI Tembak Mati Warga Sipil
Pesawat nampak melesat tidak nggubris, bahkan menambah kecepatan dan ketinggian, lalu menjauh meninggalkan penyerang. Dalam pada itu tidak terlihat tanda-tanda peluru pemberontak tepat mengenai sasaran.
"Penembakan itu kami lakukan karena pesawat tersebut baru saja menurunkan sejumlah aparat militer Indonesia di wilayah perang Yahukimo," klaim Sebby Sambom, juru bicara TPNPB-OPM, dalam pesan pendek kepada koresponden.
Sambom mengatakan, pihaknya meminta Presiden Prabowo agar menghentikan droping prajurit TNI di wilayah perang Papua menggunakan pesawat sipil. Jika mengabaikan, kata Sambom, kombatan OPM memastikan akan melakukan serangan lebih besar.
Baca juga: Praka Aprianus Gugur Ditembak Organisasi Papua Merdeka
Seluruh milisi OPM di 36 Kodap yang tersebar di seluruh Papua, bilangnya, siap perang melawan TNI sampai negara Indonesia mengakui kemerdekaan Papua.
Ditujukan kepada Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, pasukan TPNPB Kodap XVI-Yahukimo bertanggung jawab atas penembakan pesawat sipil tersebut.
"Jadi berhenti melakukan penangkapan terhadap warga sipil. Karena penembakan pesawat itu bukan dilakukan warga sipil, melainkan milisi OPM," tutur Sambom.
Baca juga: Organisasi Papua Merdeka Bakar Gedung SMAN di Yahukimo
Kata Sambom, warga sipil yang beraktivitas di luar rumah menggunakan kendaraan bermotor roda dua maupun empat saat melintas wilayah perang, diminta agar membuka kaca mobil dan helm.
Hal itu, sebut Sambom, dimaksudkan untuk menghindari salah sasaran saat para kombatan melakukan serangan. "Agar tak salah sasaran, maka warga sipil agar membuka kaca mobil dan helm saat melewati zona perang," pintanya. (fin)
Editor : S. Anwar