Tragedi di Jalan Boboh–Kepatihan, Puluhan Nyawa Melayang

Reporter : Anang Supriyanto
Lokasi kecelakaan ditandai cat putih di Jalan Raya Gantang

Pengendara motor yang melintas jalan Boboh–Kepatihan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, perlu meningkatkan kewaspadaan. Jika lalai, Malaikat Maut siap menjemput.

Setidaknya 8 bulan terakhir ini atau sampai Agustus 2025, sudah ada 5 nyawa yang hilang akibat kecelakaan di Raya Jalan Boboh–Kepatihan, dari total 16 kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor.

Baca juga: Sopir Bus Harapan Jaya Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan di Kediri

Kecelakaan terbaru terjadi pada Rabu, 13 Agustus 2025 di Jalan Raya Gantang Baru. Korban diketahui dari Desa Morowudi, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, meninggal saat dirawat dir umah sakit. Kecelakaan melibatkan sepeda motor melawan sepeda motor yang dikendarai korban.

Selain kondisi jalan berlubang dan bergelombang serta minim penerangan, kendaraan besar sering lalu lalang di Jalan Boboh–Kepatihan.

Kepadatan di Jalan Boboh–Kepatihan karena terdapat sekolah, kawasan perdagangan dan permukiman. Warga menyebut Jalan Boboh–Kepatihan sebagai jalur “tengkorak” karena seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas, baik yang melibatkan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Menyikapi itu, Ketua Wartawan dan Aliansi Gresik Selatan (WAGS) merasa prihatin karena tidak ada upaya dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik untuk membenahi kerusakan jalan di Jalan Boboh–Kepatihan. Harusnya, sebagai jalan strategis yang dilalui berbagai kelas kendaraan, Pemkab Gresik melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik, lebih memprioritaskan perbaikan ruas jalan tersebut.

“Ini jalur vital yang menghubungkan dua wilayah, tapi kenyataannya dibiarkan rusak bertahun-tahun. Nyawa pengendara seolah bukan prioritas,” tegasnya.

Baca juga: Brio Putih Tabrak Pohon Dekat Pintu Masuk Selatan Markas Kopasgat Lanud Iswahyudi

Ketua WAGS menekankan agar perbaikan Jalan Boboh–Kepatihan dianggarkan dan diprioritaskan ketimbang memperbaiki jalan di pelosok desa yang jarang dilalui, seperti Jalan Sidoraharjo. 

“Kami bukan menolak pembangunan di desa, tapi harus ada skala prioritas. Jalan yang padat lalu lintasnya dan sering memakan korban seharusnya didahulukan,” ujarnya.

Selain kondisi jalan yang rusak, tingginya volume kendaraan dan pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi juga memperbesar risiko. Dia berharap Pemkab Gresik segera mengambil tindakan nyata, mulai dari perbaikan jalan, penambalan lubang, hingga pemasangan rambu peringatan di titik rawan.

Baca juga: Temuan Granat Aktif Menggemparkan Warga Desa Setro Menganti

Pihak Polsek Menganti mengimbau pengendara untuk selalu mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta lebih waspada, khususnya di malam hari dan saat hujan.

“Kami terus melakukan patroli dan pemasangan rambu untuk meminimalisir kecelakaan,” kata Kapolsek Menganti, AKP M. Dawud

“Dengan kondisi ini, pengendara diimbau tidak hanya mengandalkan keterampilan berkendara, tetapi juga mengutamakan keselamatan diri dan orang lain di jalan,” pungkasnya. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru