Dunia perbankan biasanya identik dengan gedung pencakar langit, setelan jas mewah, dan deretan gelar akademis yang mentereng. Namun, semua stigma eksklusif itu runtuh seketika di tangan Masril Koto. Pria bersahaja asal Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini membuktikan bahwa inovasi besar yang mengubah nasib ratusan ribu orang tidak selalu lahir dari ruang kuliah, melainkan dari empati dan kedekatan dengan masalah di lapangan.
Hanya berbekal ijazah yang tak sempat lulus Sekolah Dasar (SD), Masril sukses mendirikan "Bank Tani"—sebuah sistem Lembaga Keuangan Mikro Agrobisnis (LKMA) mandiri yang kini diadopsi menjadi program nasional.
Baca juga: Nursyirwan Effendi, Pakar Antropologi Unand Lulusan Jerman
Berawal dari Kegelisahan Petani Nagari
Langkah besar ini bermula dari realitas pahit yang disaksikan Masril di kampung halamannya, Nagari Koto Tinggi. Sebagai sesama petani dan peternak, ia tahu betul betapa sulitnya rakyat kecil mendapatkan modal usaha. Prosedur perbankan konvensional yang rumit dan berbelit-belit seringkali membuat para petani frustrasi dan akhirnya terjebak ke tangan rentenir.
Bergerak dari kegelisahan itu, pada tahun 2002, Masril Koto bersama rekan-rekan sesama petani mulai merintis sebuah lembaga keuangan mandiri. Perjalanan tersebut tidak instan. Empat tahun lamanya mereka jatuh bangun merapikan sistem perdagangan dan simpan-pinjam tradisional.
Titik balik perjuangan mereka terjadi pada tahun 2006. Melalui pelatihan akuntansi sederhana yang diberikan oleh Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA) Padang, Masril dan kawan-kawan akhirnya berhasil meresmikan LKMA Prima Tani.
Siapa sangka, sistem keuangan mikro yang fleksibel dan ramah petani ini memikat perhatian pemerintah pusat. Pola bakti LKMA gagasan Masril ini kemudian diadopsi secara resmi oleh negara dan menjadi cikal bakal Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) di seluruh Indonesia.
Menggurita di Ranah Minang, Menekan Angka Pengangguran
Kini, Masril Koto telah menjelma menjadi seorang banker bagi rakyat kecil. Di bawah bimbingan dan replikasi sistem yang ia kembangkan, LKMA tumbuh subur di berbagai pelosok daerah. Tercatat, ada sekitar 580 LKMA yang tersebar di seantero Sumatera Barat dengan total akumulasi aset yang mencengangkan—menembus angka Rp 100 miliar.
Hebatnya lagi, lembaga keuangan ini tidak sekadar memutar uang. Masril menetapkan aturan ketat: setiap LKMA wajib menyerap minimal 5 orang karyawan setempat. Lowongan ini diprioritaskan bagi anak-anak petani lokal, terutama mereka yang putus sekolah. Lewat cara ini, ribuan lapangan kerja baru tercipta langsung di jantung pedesaan.
Baca juga: Siti Nurhayati Sukses Bertani Kemangi Beromset Puluhan Juta Per Bulan
Ekspansi ke Maros dan Kuliah Umum Ber-Sandal Jepit
Keberhasilan di Sumatra Barat tidak membuat Masril berpuas diri. Ia membawa misi mulia ini menyeberang pulau ke kawasan Indonesia Timur, tepatnya di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di sana, Masril fokus membangun Bank Tani untuk mendanai para petani cabai yang selama ini kesulitan menyentuh akses Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Kiprah uniknya ini sempat mengguncang panggung akademis ketika ia diundang menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Inklusi Keuangan Kawasan Timur Indonesia di Hotel Sahid Makassar. Di hadapan para pejabat bank, ekonom senior, guru besar, dan pelaku usaha papan atas, Masril tampil apa adanya: memberikan kuliah umum dengan hanya mengenakan sandal jepit.
Filosofi Kesederhanaan sang Inovator
Anak sulung dari delapan bersaudara ini memang dikenal sangat lekat dengan kesederhanaan. Karakter fisiknya yang berperawakan kecil, berkumis lebat, berwajah ramah, dan murah senyum, berbanding lurus dengan pembawaannya sehari-hari.
Baca juga: Kisah Sukses Qomaruzzaman, Petani Melon yang Terlahir Tanpa Tangan
Publik juga tentu ingat saat Masril diundang ke acara talkshow populer Kick Andy. Di saat tamu-tamu lain tampil necis dan formal, Masril hadir dengan kaos putih balutan jaket serta celana kain hitam, menjadikannya sosok paling bersahaja namun paling memukau di studio malam itu.
Meski terpaksa meninggalkan bangku SD saat duduk di kelas 4 karena kendala ekonomi keluarga, Masril membuktikan bahwa kecerdasan tidak dibatasi oleh dinding sekolah. Ilmu manajemen keuangan justru ia serap dari Sekolah Lapangan (SL) Petani bentukan Dinas Pertanian Sumbar di Nagari Tabek Panjang.
Melalui dedikasi, konsistensi, dan keberaniannya mendobrak kebuntuan, Masril Koto kini telah memanen berbagai penghargaan bergengsi atas kontribusinya dalam inklusi keuangan. Kisahnya menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi dunia pendidikan dan perbankan modern: bahwa inovasi terbaik adalah inovasi yang lahir dari rahim kebutuhan rakyat. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar