Omar Sharif mengorbankan jauh lebih banyak dari pada yang disadari kebanyakan orang demi wanita yang dicintainya. Ia memasuki dunia ini di Alexandria, Mesir, pada tahun 1932 sebagai Michel Demitri Shalhoub, putra dari keluarga Kristen Lebanon-Suriah yang berada.
Masa depannya tampak sudah terpetakan : belajar keras, bergabung dengan bisnis kayu keluarga, dan menjalani kehidupan yang nyaman. Namun, setelah meraih gelar sarjana dalam matematika dan fisika dari Universitas Kairo, ia justru tertarik pada dunia akting. Keputusan itu mengubah segalanya.
Baca juga: Kecaman Keras Jamaah Muslimin Terhadap Tentara Israel di Atas Mushaf Al Quran
Pada tahun 1954, Sharif dipilih untuk beradegan bersama aktris paling dicintai di Mesir, Faten Hamama, dalam film The Blazing Sun. Apa yang dimulai sebagai kemitraan profesional dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Namun, hubungan mereka menghadapi rintangan besar.
Hamama adalah seorang Muslim, Sharif adalah seorang Kristen. Dan di Mesir tahun 1950-an, pernikahan antaragama sangat sulit terjadi. Daripada meninggalkan wanita yang dicintainya, ia membuat pilihan yang mengubah hidupnya. Ia memeluk Islam, mengambil nama Omar Sharif, dan menikahi Hamama pada tahun 1955.
Itu bukan sekadar perubahan nama. Itu mengubah cara dunia mengenalnya selamanya. Beberapa tahun kemudian, kesempatan lain datang yang akan mengubah hidupnya sekali lagi.
Pada tahun 1962, sutradara David Lean memilihnya sebagai Sherif Ali dalam Lawrence of Arabia. Penampilannya membuatnya dinominasikan Academy Award dan menjadikannya aktor Arab pertama yang mencapai ketenaran internasional sejati. Ia melanjutkannya dengan peran-peran tak terlupakan dalam Doctor Zhivago dan Funny Girl, menjadi salah satu aktor paling dikenal dari generasinya. Namun, kesuksesan datang dengan harga.
Baca juga: Perebutan Spanyol, Perang Agama Terlama Dalam Sejarah
Saat kariernya meluas ke berbagai benua, pembatasan perjalanan di Mesir selama era Nasser membuatnya semakin sulit menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga. Sharif akhirnya bermukim di Eropa, secara efektif hidup jauh dari negara yang ia anggap sebagai rumah. Jarak itu menimbulkan tekanan yang semakin besar pada pernikahannya, dan pada tahun 1974 ia dan Hamama bercerai.
Tapi ia tak pernah berhenti berbicara tentangnya. Bertahun-tahun kemudian, meskipun dengan ketenaran, kekayaan, dan tak terhitung orang-orang yang ditemuinya sepanjang hidup, Sharif masih menggambarkan Faten Hamama sebagai satu-satunya wanita yang pernah benar-benar dicintainya.
Bakatnya meluas jauh melampaui layar perak. Ia menjadi salah satu pemain bridge kontrak paling dihormati di dunia, menulis buku dan kolom surat kabar tentang permainan itu, dan meraih kekaguman di bidang yang sama sekali berbeda. Lalu, puluhan tahun setelah banyak orang mengira penampilan terbaiknya sudah berlalu, ia kembali dengan Monsieur Ibrahim pada tahun 2003, memenangkan penghargaan akting internasional besar dan membuktikan bahwa kecemerlangannya tak pernah pudar.
Pada tahun 2012, Sharif didiagnosis menderita penyakit Alzheimer. Tiga tahun kemudian, ia meninggal dunia di Kairo pada usia 83 tahun. Kisahnya tak pernah hanya tentang sinema. Itu tentang seorang pria yang melintasi batas-batas agama, budaya, bahasa, dan identitas demi cinta dan ambisi.
Ia menjadi ikon global, tapi wanita yang membuatnya mengubah segalanya tetap menjadi orang terdekat di hatinya. Omar Sharif menghabiskan seumur hidup menghubungkan dunia-dunia yang jarang bertemu—dan mungkin itulah mengapa kisahnya masih bergema hingga hari ini. (*)
Editor : Redaksi