Perebutan Spanyol, Perang Agama Terlama Dalam Sejarah

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Perebutan Spanyol
Perebutan Spanyol
grosir-buah-surabaya

Pada awal abad ke-8, Semenanjung Iberia masih berupa Hispania yang diperintah Kerajaan Visigothic dari Toledo. Meski berada di bawah satu mahkota, kerajaan ini terus dilanda perebutan takhta dan konflik antarfaksi bangsawan hingga memuncak setelah kematian Raja Wittiza. 

Saat kerajaan sedang terpecah, pasukan Islam di bawah Tariq ibn Ziyad menyeberangi Selat Gibraltar pada tahun 711. Dalam Pertempuran Guadalete, Raja Roderic kalah dan menghilang dari panggung sejarah, menandai runtuhnya kekuasaan Visigothic sekaligus membuka jalan bagi lahirnya kekuasaan Islam di Iberia.

Setelah Guadalete, pasukan Muslim bergerak cepat merebut pusat-pusat penting Hispania. Cordoba jatuh melalui operasi militer, Toledo ditinggalkan para elite Visigothic yang tercerai-berai. Seville ditaklukkan oleh Musa ibn Nusayr, sementara Merida menyerah setelah pengepungan panjang. 

Di tenggara, Theodemir memilih tunduk melalui perjanjian dengan Abd al-Aziz ibn Musa, sedangkan Zaragoza dan lembah Ebro ikut berada di bawah kekuasaan baru. Dalam beberapa tahun, struktur Kerajaan Visigothic runtuh dan menjadi dasar lahirnya al-Andalus. 

Meski demikian, wilayah pegunungan utara seperti Asturias, Cantabria, Galicia, dan Basque tetap bertahan sebagai pusat perlindungan dan perlawanan, tempat yang kelak melahirkan kisah Pelayo dan Covadonga sebagai api kecil awal Reconquista.

Lahirnya al-Andalus : Ketika Iberia Menjadi Pusat Dunia Islam Barat

Setelah penaklukan tahun 711, Hispania masuk ke dalam dunia Islam dan lahirlah al-Andalus sebagai provinsi paling barat Kekhalifahan Umayyah. Cordoba dijadikan pusat pemerintahan, sementara kota-kota seperti Seville, Merida, Toledo, dan Zaragoza memegang peran penting dalam administrasi dan militer. 

Di bawah pemerintahan baru, Muslim menguasai politik dan hukum. Sedangkan komunitas Kristen (Mozarab), Yahudi, dan penduduk lokal yang memeluk Islam (muwallad) tetap menjadi bagian dari kehidupan al-Andalus. Meski diwarnai ketegangan antara elite Arab dan Berber, Cordoba berkembang pesat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan.

Perubahan besar terjadi ketika Abd al-Rahman I mendirikan Emirat Cordoba pada 756, menjadikan al-Andalus sebagai pusat kekuasaan Umayyah yang mandiri. Kota Cordoba kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat peradaban terbesar di Eropa Barat melahirkan tokoh-tokoh seperti Al-Zahrawi, Maslama al-Majriti, Ibn Rushd, dan Maimonides. 

Kejayaannya mencapai puncak saat Abd al-Rahman 111 mendeklarasikan Kekhalifahan Cordoba pada 929, lalu diperkuat oleh keberhasilan militer Almanzor yang menaklukkan berbagai wilayah Kristen hingga menjarah Santiago de Compostela pada 997, menjadikan al-Andalus kekuatan dominan di Semenanjung Iberia.

Asturias, Covadonga dan Mitos Awal Reconquista

Asturias, wilayah pegunungan di utara Semenanjung Iberia, menjadi tempat bertahannya sisa-sisa kekuatan Kristen setelah runtuhnya Kerajaan Visigothic. Di sanalah muncul Pelayo, tokoh yang dalam tradisi Kristen dikenang sebagai pemimpin perlawanan terhadap kekuasaan Islam. 

Sekitar tahun 718 atau 722, pasukannya yang kecil bertahan di Covadonga dan berhasil memukul mundur ekspedisi Muslim. Meski tidak mengubah peta politik Iberia secara langsung, kemenangan ini kemudian dipandang sebagai api pertama Reconquista dan menjadi dasar moral bagi kerajaan-kerajaan Kristen untuk mengklaim bahwa mereka sedang merebut kembali tanah Hispania

Darı kemenangan di Covadonga, Asturias berkembang menjadi Kerajaan Leon, sementara Castile muncul sebagai wilayah perbatasan yang dipenuhi benteng dan Navarre tumbuh sebagai kekuatan di kawasan Pyrenees. Selama beberapa abad, kerajaan-kerajaan Kristen perlahan memperluas wilayahnya ke selatan melalui pembangunan benteng, pemukiman kembali daerah perbatasan, dan peperangan melawan al-Andalus. Hingga awal abad ke-11, mereka masih merupakan kekuatan frontier, tetapi keadaan berubah pada tahun 1031 ketika Kekhalifahan Córdoba runtuh dan al-Andalus terpecah menjadi kerajaan-kerajaan taifa.

Cordoba Runtuh : Ketika al-Andalus Terpecah Menjadi Taifa

Setelah wafatnya Almanzor pada tahun 1002, Kekhalifahan Cordoba kehilangan figur yang selama ini menjaga stabilitasnya. Perebutan kekuasaan antara keluarga Umayyah, Amirid, Berber, dan berbagai faksi memicu perang saudara yang dikenal sebagai Fitna al-Andalus sejak 1009. 

Cordoba berkali-kali berganti penguasa, mengalami pengepungan, penjarahan, dan kehancuran, hingga kewibawaan khalifah runtuh. Dari reruntuhan itu lahirlah kerajaan-kerajaan kecil yang disebut taifa, seperti Seville, Toledo, Zaragoza, Granada, dan Badajoz, yang masing-masing memiliki penguasa, tentara, dan kepentingannya sendiri.

Perpecahan taifa segera dimanfaatkan kerajaan-kerajaan Kristen di utara. Ferdinand I memaksa banyak taifa membayar parias atau upeti, yang kemudian digunakan untuk memperkuat militer dan bentengnya. Setelah Alfonso VI menyatukan León dan Castile, ia melanjutkan tekanan terhadap taifa melalui campur tangan politik dan militer. 

Kelemahan Toledo membuat penguasanya bergantung pada perlindungan Alfonso hingga akhirnya ia memilih menaklukkan kota itu, sebuah titik balik besar dalam Reconquista karena untuk pertama kalinya kota besar Muslim di jantung Iberia jatuh ke tangan kerajaan Kristen.

Toledo 1085: Kota yang Membuka Jalan ke Perang Besar

Toledo di bawah Yahya al-Qadir semakin lemah karena konflik internal dan ketergantungannya pada Alfonso VI. Setelah pengepungan yang panjang, kota itu menyerah pada Mei 1085. Alfonso VI menjadikan Toledo, bekas ibu kota Visigothic, sebagai bagian dari León-Castile. 

Kejatuhan Toledo menjadi titik balik besar karena memberi Alfonso posisi strategis di jantung Iberia sekaligus memperkuat klaim bahwa perang ke al-Andalus adalah upaya memulihkan warisan lama Hispania. Bagi kerajaan-kerajaan taifa, peristiwa ini membuktikan bahwa membayar upeti tidak lagi menjamin keselamatan.

Peristiwa jatuhnya Toledo menjadi titik awal penting bagi sejarah ilmu pengetahuan. Melalui penerjemahan massal manuskrip di kota ini, teks filsafat dan sains dari dunia Islam mulai masuk ke Eropa. Hal tersebut memicu diskusi yang sangat besar mengenai hubungan antara akal dan iman di kalangan para pemikir Abad Pertengahan. (*)

*) Source : Ardhianzy