Abdul Latief Sang Maestro Ritel yang Sukses Dirikan Pasaraya

Reporter : Redaksi
Abdul Latief

Nama Abdul Latief (lahir 27 April 1940) menempati posisi yang sangat unik dalam sejarah modern Indonesia. Publik mengenalnya lewat dua peran besar yang sama menonjolnya: sebagai taipan ritel perintis pusat perbelanjaan modern di tanah air, sekaligus politikus kawakan yang pengunduran dirinya dari kabinet ikut menjadi pematik runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998.

Perjuangan Anak Yatim dari Tanah Rencong

Baca juga: Mengenang Ibu Muslimah, Guru dalam Film Laskar Pelangi

Lahir di Banda Aceh, Abdul Latief merupakan putra dari pasangan perantau Minangkabau, Mohammad Latief Marah Datuk dan Sitti Rahmah, yang berasal dari Pasa Gadang, Padang, Sumatera Barat. Sang ayah yang merantau ke Aceh sejak tahun 1920 tidak hanya berdagang, tetapi juga aktif dalam organisasi keagamaan Muhammadiyah.

Garis hidup Latief diuji sejak dini. Saat ia baru menginjak usia empat tahun, sang ayah berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa. Latief pun tumbuh besar dalam asuhan ibunya yang tangguh. Jiwa kemandirian dan bakat dagangnya sudah terasah sejak belia; pada umur 20 tahun, ia bahkan sudah nekat berdagang telur dan bawang untuk menopang hidup.

Sembari kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan Jakarta (lulus 1963) dan melanjutkan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana (lulus 1965), Latief mulai bekerja di Toserba Sarinah. Di sana, kecerdasannya menarik perhatian manajemen hingga ia dikirim ke Tokyo untuk mempelajari sistem manajemen toserba terkemuka, Seibu.

Sepulangnya dari Jepang, Latief membawa ide segar untuk memodernisasi konsep pemasaran Sarinah. Sayang, gagasan visioner anak muda ini ditolak mentah-mentah oleh atasannya. Kecewa namun tidak patah arang, Latief mengambil keputusan berani: keluar dari kenyamanan Sarinah dan merintis jalannya sendiri.

Kekaisaran Bisnis ALatief Corporation dan Pasaraya

Bermodalkan keberanian, Latief memulai bisnis ritelnya dengan membeli sebuah toko kecil di kawasan Grogol, Jakarta. Langkah besarnya terjadi pada tahun 1974 saat ia mendirikan PT Indonesia Product Centre Sarinah Jaya—sebuah konsep swalayan yang khusus menampung dan memasarkan produk-produk industri kecil dan kerajinan tangan lokal. Setahun kemudian, swalayan ini bahkan berhasil membuka cabang di Singapura.

Pada tahun 1981, Latief melakukan lompatan besar dengan melakukan modernisasi total yang melahirkan Pasaraya, sebuah department store megah yang menjadi pelopor pusat perbelanjaan modern berskala besar di Indonesia.

Baca juga: Muhadjir Effendy Dikukuhkan Sebagai Guru Besar di Universitas Negeri Malang

Kekaisaran bisnisnya terus menggurita di bawah bendera ALatief Corporation yang merambah berbagai sektor strategis, mulai dari periklanan, properti, hotel, asuransi, agrobisnis, hingga konstruksi. Pada tahun 2001, ia juga merambah industri media dengan mendirikan stasiun televisi swasta Lativi (yang kelak bertransformasi menjadi tvOne). Kini, tongkat estafet operasional konglomerasi tersebut telah ia percayakan kepada putra-putrinya, Medina Latief Harjani dan Ahmad Dipo Ditiro.

Singgasana Politik dan Efek Domino Kejatuhan Soeharto

Kesuksesan Latief di dunia usaha membuatnya aktif dalam organisasi. Pada tahun 1973, ia mengukir sejarah sebagai salah satu pendiri sekaligus didapuk menjadi Ketua Umum pertama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), sebuah wadah yang kelak melahirkan pengusaha-pengusaha top tanah air.

Kelihaiannya memimpin dunia usaha memikat hati Presiden Soeharto. Latief ditarik ke dalam lingkaran kekuasaan dan dipercaya menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja (1993–1998) dalam Kabinet Pembangunan VI. Sebelum menduduki kursi menteri untuk kedua kalinya, ia juga sempat terpilih sebagai Anggota DPR/MPR RI periode 1997–2002 mewakili Partai Golkar untuk daerah pemilihan Sumatera Barat.

Pada Maret 1998, di tengah hantaman krisis moneter dan gelombang protes yang mulai memanas, Soeharto kembali mempercayainya untuk menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya dalam Kabinet Pembangunan VII.

Baca juga: Pembentukan Direktorat Tindak Pidana Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang

Pengunduran Diri yang Mengguncang Cendana

Jabatan tersebut ternyata hanya diembannya dalam hitungan minggu. Sadar bahwa situasi politik dan ekonomi nasional sudah berada di titik nadir, Abdul Latief mengambil keputusan dramatis dengan mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Soeharto.

Langkah berani Latief ini laksana kartu domino pertama yang jatuh; tindakannya segera diikuti oleh belasan menteri kabinet lainnya yang menolak bergabung dalam kabinet reformasi bentukan Soeharto. Aksi boikot massal para menteri ini menjadi pukulan telak yang meruntuhkan legitimasi politik Soeharto, hingga memaksa Sang Jenderal Tersenyum menyatakan mundur pada 21 Mei 1998.

Kini, Abdul Latief menikmati masa tuanya sebagai salah satu sesepuh dunia usaha Indonesia. Kisah perjalanannya dari seorang pedagang telur yatim hingga menjadi menteri penentu sejarah akan selalu menjadi legasi yang menginspirasi generasi muda tanah air. (*)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru