Tubuhmu adalah sebuah metropolis yang damai. Namun suatu hari, gerbang perbatasanmu dijebol oleh koloni perompak mikroskopis. Mereka adalah Bakteri. Mereka mendirikan tenda di paru-parumu, merampas nutrisi di aliran darahmu, dan berkembang biak tanpa membayar pajak. Suhumu mendidih, tubuhmu menggigil. Pasukan imun alamimu kewalahan.
Kita mengira Antibiotik itu seperti vitamin yang menguatkan tubuh. Padahal Antibiotik tidak peduli pada tubuhmu. Mereka adalah tentara bayaran yang didesain hanya untuk satu tujuan: Pembantaian massal. Dan mereka punya gaya membunuh yang sangat berseni.
Mari kita berkenalan dengan divisi pembunuh ini.
Divisi Pertama: (Golongan Penicillin / Amoxicillin) si palu gada. Untuk bertahan hidup di dalam tubuhmu, bakteri membangun tembok benteng yang tebal (dinding sel).
Amoxicillin tidak suka basa-basi. Ia datang membawa pasukan demolition (penghancur). Ia menyabotase semen yang mengikat bata pelindung bakteri. Hasilnya? Benteng itu runtuh, air dari tubuhmu masuk membanjiri sel bakteri, dan BAM! Tubuh bakteri meledak berkeping-keping. Tragedi yang indah.
Divisi Kedua: (Golongan Makrolida / Azithromycin) sang sabotase dapur. Bakteri ini cerdas, mereka punya pabrik kecil (ribosom) untuk memasak protein agar mereka bisa hidup dan membelah diri. Golongan ini bertindak seperti mata-mata assassin.
Mereka menyusup masuk, menaruh racun di mesin pabrik bakteri. Tiba-tiba, bakteri tidak bisa memasak protein. Mereka kelaparan, lumpuh, dan mati perlahan di tengah lautan nutrisi tubuhmu.
Divisi Ketiga: (Golongan Fluoroquinolone / Ciprofloxacin) sniper cetak biru. Ini adalah pasukan paling dingin. Mereka tidak menghancurkan tembok atau menyabotase makanan.
Mereka mengincar ruang komando. Mereka menembak langsung ke rantai DNA bakteri. Mesin fotokopi genetik bakteri dirusak. Saat bakteri mencoba membelah diri menjadi dua, DNA-nya terputus dan hancur berantakan.
Mereka dibuat mandul dan mati dalam keputusasaan genetik. Epik, bukan? Sangat badass. Kamu sebagai Dewa di tubuh sendiri, sering kali sangat ceroboh. Kamu bersin-bersin karena terinfeksi VIRUS (Flu). Virus itu ibarat hantu.
Mereka tidak punya dinding sel untuk dihancurkan, tidak punya pabrik protein untuk disabotase. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu meminum Amoxicillin! Bayangkan, kamu memanggil pasukan elit pembawa palu godam untuk memukul hantu. Pasukan antibiotikmu kebingungan mencari musuh. Karena frustrasi, mereka akhirnya membantai secara brutal bakteri-bakteri baik di ususmu yang sedang bekerja memecah makanan.
Kamu diare, dan virus flu mu tetap tertawa terbahak-bahak. Dosa keduamu jauh lebih fatal: Tidak menghabiskan resep. Dokter menyuruhmu meminumnya selama 5 hari. Tapi di hari ke-3, karena merasa sudah baikan, kamu menghentikan serangan. Kamu menarik mundur pasukan pembunuh bayaranmu.
Apa yang terjadi pada sisa bakteri di dalam sana? Mereka yang terluka parah namun selamat, akhirnya mempelajari taktik senjatamu. Mereka pergi ke gym mikroskopis, bermutasi, membuat perisai anti-peluru, dan merancang dinding sel dari titanium berbulan-bulan sampai tahunan.
Mereka mewariskan ilmu kebal ini ke anak cucunya. Selamat. Kamu baru saja menciptakan monster baru bernama Superbug (Resistensi Antibiotik). Kelak, saat mereka menyerangmu lagi, tidak ada satu pun antibiotik di bumi yang mempan membunuh mereka.
Kamu mengundang kiamatmu sendiri hanya karena malas menghabiskan dua kapsul terakhir. Antibiotik adalah salah satu mahakarya sains terindah yang pernah diciptakan umat manusia. Ia mengubah infeksi mematikan menjadi penyakit numpang lewat. Tapi ia adalah senjata tajam, bukan permen pelega tenggorokan.
Hargailah mereka seperti kamu menghargai nyawamu sendiri. Gunakan hanya saat sang ahli (dokter) memberikan perintah perang, dan bertempurlah sampai tuntas. Sebab saat pasukan bayaran ini kehilangan tajamnya karena kebodohan kita. (*)
Editor : S. Anwar