Dalam khazanah sejarah Sunda, nama Sri Baduga Maharaja menempati posisi yang sangat istimewa. Sosok yang lebih dikenal masyarakat sebagai Prabu Siliwangi ini dikenang sebagai raja besar yang membawa Kerajaan Sunda Pajajaran mencapai masa keemasan, baik dalam bidang pemerintahan, pembangunan, maupun kesejahteraan rakyat.
Berdasarkan tradisi sejarah Sunda, Sri Baduga Maharaja memerintah antara tahun 1482–1521 M. Pada masanya, Pajajaran berkembang menjadi kerajaan yang kuat dan makmur. Ia dikenal sebagai pemimpin yang arif, tegas, serta mengedepankan nilai-nilai luhur Sunda yang hingga kini masih diwariskan, yaitu Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh, yaitu saling menyayangi, saling mencerdaskan, dan saling membimbing.
Lahir di Kawali dengan nama Raden Pamanah Rasa, ia merupakan putra dari Prabu Dewa Niskala dan Dewi Mayangsari. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga dikenal dengan nama Jayadewata sebelum akhirnya dinobatkan sebagai Maharaja Sunda.
Salah satu pencapaian terbesar Sri Baduga adalah menyatukan kembali dua kerajaan besar warisan leluhur, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Penyatuan tersebut mengakhiri berabad-abad pemisahan wilayah yang berakar sejak masa Tarusbawa dan Wretikandayun pada abad ke-7. Setelah penyatuan itu, berdirilah Kerajaan Pajajaran dengan pusat pemerintahan di Pakuan Pajajaran.
Selain dikenal sebagai pemimpin politik yang ulung, Sri Baduga juga dikenang sebagai raja pembangun. Berbagai sarana kerajaan didirikan pada masa pemerintahannya, termasuk kompleks keraton Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati yang berjajar megah di pusat kerajaan. Ia juga membangun parit pertahanan, Telaga Rena Mahawijaya, kawasan hutan suci Samida yang diyakini menjadi cikal bakal Kebun Raya Bogor, petirtaan, taman keputren, hingga kawasan sakral di Bukit Badigul.
Dalam berbagai kisah rakyat Sunda, Prabu Siliwangi digambarkan sebagai raja yang sakti dan berwibawa. Sosoknya kerap dikaitkan dengan harimau putih, lambang keberanian, kewibawaan, dan kekuatan spiritual. Ia juga sering digambarkan membawa kujang dan pedang sebagai simbol kepemimpinan serta kedaulatan kerajaan.
Kehidupan keluarganya pun menjadi bagian penting dalam cerita rakyat Sunda. Di antara para permaisurinya, nama Nyimas Subang Larang, Nyimas Ambet Kasih, dan Kentring Manik Mayang Sunda merupakan yang paling dikenal. Dari keturunannya lahir tokoh-tokoh penting, termasuk Prabu Kian Santang, yang hingga kini hidup dalam berbagai legenda dan tradisi lisan masyarakat Sunda.
Menurut keterangan yang dikaitkan dengan Prasasti Batutulis, Sri Baduga Maharaja wafat pada tahun 1521 M. Setelah mangkatnya sang maharaja, tahta Pajajaran diteruskan oleh putranya, Prabu Surawisesa, yang melanjutkan pemerintahan di tengah perubahan besar yang mulai terjadi di Nusantara.
Hingga kini, nama Sri Baduga Maharaja tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai simbol kejayaan Sunda, seorang penguasa yang tidak hanya dikenang karena kebesarannya, tetapi juga karena warisan nilai-nilai luhur yang terus menjadi bagian dari identitas budaya Sunda. (*)
Editor : Bambang Harianto