Dalam lintasan sejarah dunia medis dan pendidikan tinggi di Indonesia, nama Prof. Dr. dr. Sujudi (8 September 1930 – 23 Juni 2007) menempati posisi yang sangat luhur. Sujudi bukan sekadar seorang dokter yang mengobati pasien, melainkan seorang ilmuwan visioner, pendidik tangguh, dan birokrat berwibawa yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi tegaknya pilar kesehatan nasional dan kejayaan akademis bangsa.
Pelopor Mikrobiologi yang Membesarkan Universitas Indonesia
Baca juga: Kisah Dokter Hampir Menyerah Saat Ujian Alih Program, Lulus Berkat Tawakkal
Lahir di era pergerakan, Sujudi tumbuh menjadi pemuda yang memiliki ketertarikan mendalam pada rahasia ilmu kedokteran. Setelah menyelesaikan pendidikan dokternya, ia memilih jalan yang jarang dilalui pada masanya: mendalami mikrobiologi, sebuah rumpun ilmu kedokteran yang berfokus pada riset mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur.
Dedikasinya yang tinggi membuat Sujudi dipercaya memimpin sebagai Kepala Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) selama 13 tahun (1966–1979). Di bawah arahannya, laboratorium mikrobiologi FKUI bertransformasi menjadi pusat riset dan rujukan ilmiah yang disegani di tingkat nasional.
Kecakapan kepemimpinan dan integritasnya yang tak tergoyahkan kemudian membawa Sujudi naik ke tampuk kepemimpinan tertinggi almamaternya. Pada tahun 1985, ia resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Indonesia.
Saksi Sejarah Pemindahan Kampus UI Depok
Menjabat sebagai Rektor UI pada periode 1985–1994, Prof. Sujudi memegang peran krusial dalam momen paling bersejarah bagi civitas akademika UI. Ia menjadi nakhoda utama yang memimpin proses migrasi dan konsolidasi besar-besaran pemindahan pusat kegiatan perkuliahan dari wilayah Salemba, Jakarta Pusat, menuju ke hamparan luas Kampus Hijau UI di Depok, Jawa Barat. Sebuah legasi fisik dan akademis yang manfaatnya terus mengalir hingga hari ini.
Menakhodai Kementerian Kesehatan di Era Orde Baru
Keberhasilan Prof. Sujudi dalam memimpin universitas terbesar di Indonesia tersebut membuat namanya dilirik oleh Istana. Pada 17 Maret 1993, ia dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk mengemban amanah politik-birokrasi sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Pembangunan VI untuk periode hingga tahun 1998.
Selama lima tahun memimpin Kementerian Kesehatan, Prof. Sujudi dikenal sangat vokal dalam mendorong pemerataan sarana kesehatan dasar hingga ke pelosok desa melalui optimalisasi jaringan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Ia juga berkomitmen kuat memperkuat regulasi obat-obatan nasional demi tercapainya kemandirian farmasi dalam negeri.
Baca juga: Arif Rahman Hakim Gugur di Hari Ulang Tahunnya
Atas segala jasa dan pengabdiannya yang luar biasa, negara menganugerahi Prof. Sujudi tanda kehormatan tertinggi Bintang Mahaputera Adipradana pada tahun 1996. Kiprah internasionalnya juga diakui dunia melalui penganugerahan Soka University Award of Highest Honor dari Universitas Soka, Jepang, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya pada dunia kemanusiaan dan pendidikan lintas negara.
Purnatugas yang Tetap Nyata bagi Kemanusiaan
Bagi Prof. Sujudi, mengabdi tidak mengenal kata pensiun. Usai merampungkan tugasnya di jajaran kabinet, ia dianugerahi gelar Guru Besar Emeritus Bagian Mikrobiologi FKUI.
Di masa purnatugas tersebut, ia memilih untuk menghabiskan energinya di jalur kemanusiaan. Prof. Sujudi tercatat aktif menjabat sebagai Ketua Transfusi Darah dan Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI), memastikan ketersediaan kantong darah aman bagi jutaan rakyat yang membutuhkan. Sisi humanisnya juga tersalurkan melalui perannya sebagai sesepuh Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ) serta anggota Dewan Penasihat Komite Kemanusiaan Indonesia.
Di bidang profesional, kebijaksanaannya tetap dibutuhkan sehingga ia dipercaya memegang posisi Komisaris Utama di PT Millenium Pharmacon Internasional dan PT Kosala Agung Metropolitan.
Berpulang ke Pangkuan Bumi Pertiwi
Garis pengabdian sang begawan kedokteran akhirnya purna pada 23 Juni 2007. Prof. Sujudi mengembusen napas terakhirnya pada usia 76 tahun akibat serangan jantung. Ia meninggalkan seorang istri tercinta, tiga orang anak, serta enam orang cucu.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir dari negara atas dedikasi tanpa pamrih yang telah diukirnya, jenazah Prof. Sujudi dilepas dengan upacara militer dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Walau raganya telah tiada, nama dan keteladanan Prof. Sujudi akan selalu abadi di dinding sejarah kedokteran dan dunia pendidikan Indonesia. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : Bambang Harianto