Lahir di Kampung 26 Ilir, Palembang pada 10 Oktober 1919 (bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awwal), KH Muhammad Zen Syukri —yang akrab disapa Abah Zen—adalah putra bungsu dari pasangan ulama K.H. Hasan Syakur dan Nyimas Hj. Sholhah Azhari. Tumbuh di lingkungan keluarga santri, rihlah keilmuan beliau diwarnai dengan semangat pantang menyerah yang sungguh luar biasa.
Meski awalnya memiliki impian menimba ilmu hingga ke Makkah, sang ayah menasihatinya untuk mencari ilmu kepada ulama-ulama besar di bumi Nusantara. Berbekal tekad kuat dan nekat menjual sepeda kesayangannya tanpa sepengetahuan keluarga, pemuda Zen merantau ke Pulau Jawa.
Baca juga: PLN Dukung Keandalan Listrik Penanaman Jagung Bersama Santri
Perjalanannya sangat berliku; KH Muhammad Zen Syukri sempat kehabisan bekal hingga terpaksa menjadi buruh pemotong koran di Batavia dan Tegal demi bertahan hidup. Namun, kegigihan itu menuntunnya tiba di Pesantren Tebuireng, Jombang. Di sanalah KH Muhammad Zen Syukri ditempa dan akhirnya menjadi salah satu murid kinasih (murid kesayangan) dari Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari.
KH Muhammad Zen Syukri juga memegang erat sanad Tarekat Sammaniyah yang diijazahkan langsung oleh ayahandanya.
Baca juga: Ditreskrimum Polda Jatim Tangkap Pencuri Motor di Pesantren Tebu Ireng
Sekembalinya ke Palembang, kiprah Abah Zen sangatlah monumental dalam membentangkan syiar Nahdlatul Ulama di Sumatera Selatan. KH Muhammad Zen Syukri merintis berdirinya Pondok Pesantren Muqimus Sunnah bersama putrinya. Di tengah masyarakat, sang kiai ahli sufi ini sangat dicintai karena istiqamah menghidupkan tradisi Cawisan—yakni majelis taklim dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang disampaikan dengan bahasa merakyat nan teduh, merangkul segala kalangan. Dari kedalaman keilmuannya, lahir pula karya pemikiran seperti kitab Risalatut Tauhid.
Setelah puluhan tahun menjadi pelita umat, ulama kharismatik yang sangat tawadhu' ini berpulang ke hadirat Allah SWT, pada hari Kamis, 22 Maret 2012.
Ribuan jemaah menyalatkan dan mengantarkan kepergian beliau di pelataran Masjid Agung Palembang. Warisan ilmu, pesantren, dan estafet perjuangannya kini diteruskan oleh anak-anak dan murid beliau, salah satunya adalah sang putri, Nyai Hj. Izzah Zen Syukri. Lahumul fatihah...
*) Source : Pecinta Ulama Nusantara
Editor : S. Anwar