Prof. Dr. (H.C.) dr. Bahder Djohan merupakan salah satu putra terbaik bangsa yang lahir dari Ranah Minang. Sosok yang dikenal sebagai dokter, pejuang kemerdekaan, pendidik, sekaligus negarawan ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia pada era awal kemerdekaan.
Lahir pada 30 Juli 1902, Bahder Djohan berasal dari keluarga terpandang Minangkabau. Ia merupakan anak kelima dari sepuluh bersaudara pasangan Mohamad Rapal gelar Sutan Boerhanoedin, seorang jaksa asal Koto Gadang, Agam, dan Lisah, perempuan asal Alang Laweh, Padang. Dalam adat Minangkabau, Bahder Djohan memperoleh gelar Marah Besar setelah menikah dengan Siti Zairi Yaman.
Baca juga: Surat Perpisahan Anies Baswedan Sebagai Mendikbud
Masa Kecil dan Pendidikan
Pendidikan Bahder Djohan dimulai di sekolah Melayu di Kampung Pondok, Padang. Karena mengikuti penugasan ayahnya, ia sempat berpindah ke Payakumbuh sebelum melanjutkan pendidikan di 1e Klasse Inlandsche School di Bukittinggi pada tahun 1913.
Di Bukittinggi, Bahder Djohan berkenalan dengan Mohammad Hatta, yang kemudian menjadi sahabat dekatnya, baik dalam dunia pendidikan maupun perjuangan kebangsaan. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di HIS Padang dan kemudian ke MULO Padang.
Kecerdasannya membawanya diterima di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Batavia pada tahun 1919. Setelah menempuh pendidikan kedokteran selama kurang lebih delapan tahun, ia berhasil menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Indisch Arts pada 12 November 1927.
Aktif dalam Pergerakan Nasional
Sejak muda, Bahder Djohan telah menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan bangsa. Ia aktif dalam organisasi Jong Sumatranen Bond, salah satu organisasi kepemudaan yang berperan besar dalam membangkitkan kesadaran nasional.
Dalam Kongres Pemuda I, Bahder Djohan menyampaikan pidato berjudul Di Tangan Wanita yang menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa. Pidato tersebut dianggap terlalu progresif oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda hingga dilarang untuk diedarkan.
Keterlibatannya dalam berbagai aktivitas kebangsaan menjadikan Bahder Djohan sebagai salah satu intelektual muda yang disegani pada masanya.
Peran dalam Pembentukan Palang Merah Indonesia
Sesaat setelah Indonesia merdeka, Bahder Djohan turut berkontribusi dalam pembentukan Palang Merah Indonesia (PMI). Pada 17 September 1945, ia menjadi salah satu anggota panitia persiapan PMI bersama Dr. R. Mochtar, Dr. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, dan Dr. Sitanala.
Baca juga: Nadiem Makarim Diantara Neoliberalisasi Pendidikan dan Krisis Rule of Law
Peran ini menunjukkan dedikasinya yang besar dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan di masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia.
Menteri Pendidikan dan Tokoh Akademik
Karier Bahder Djohan mencapai puncaknya ketika dipercaya menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pada Kabinet Natsir (1950–1951) dan kembali menjabat pada Kabinet Wilopo (1952–1953).
Sebagai menteri, ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia dan kemajuan pendidikan nasional. Setelah mengakhiri masa jabatannya di pemerintahan, Bahder Djohan dipercaya menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Tak lama kemudian, Bahder Djohan juga terpilih sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI). Namun, pada tahun 1958, sebelum masa jabatannya berakhir, ia memilih mengundurkan diri sebagai bentuk sikap moral dan politik. Bahder Djohan menentang penyelesaian konflik PRRI melalui jalur militer dan lebih mengedepankan pendekatan dialog serta persatuan bangsa.
Dedikasi untuk Kepanduan Indonesia
Baca juga: Aturan tentang Guru Honorer Dilarang Ngajar di Sekolah Negeri
Selain aktif di dunia pendidikan dan pemerintahan, Bahder Djohan juga memiliki perhatian besar terhadap gerakan kepanduan. Pada tahun 1951, ketika sejumlah organisasi kepanduan Indonesia bersatu membentuk Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo), Bahder Djohan dipercaya sebagai Presiden Kehormatan.
Peran tersebut memperlihatkan komitmennya dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia melalui pendidikan nonformal dan kepanduan.
Warisan Seorang Tokoh Bangsa
Bahder Djohan wafat pada 8 Maret 1981, meninggalkan jejak panjang sebagai dokter, pendidik, pejuang, dan negarawan. Sosoknya dikenang sebagai intelektual Minangkabau yang tidak hanya mengabdikan diri pada dunia kesehatan dan pendidikan, tetapi juga aktif memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan persatuan Indonesia.
Hingga kini, nama Bahder Djohan tetap tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam pembangunan pendidikan nasional dan perjalanan intelektual bangsa pada masa awal kemerdekaan. (*)
Editor : Bambang Harianto