Kisah Teladan Mohammad Hatta hingga Akhir Hayat

Reporter : Redaksi
Mohammad Hatta

Di tengah panggung politik modern yang kerap dipenuhi perebutan takhta dan fasilitas mewah, sejarah Indonesia pernah melahirkan seorang pemimpin yang jalannya 180 derajat berbeda. Ia adalah Mohammad Hatta atau yang akrab kita sapa Bung Hatta.

Bagi Bung Hatta, jabatan bukanlah segalanya. Ketika prinsip dan nurani tidak lagi sejalan dengan kekuasaan, ia memilih melangkah mundur tanpa ragu. Sebuah keteladanan langka yang menjadikannya abadi sebagai "Hati Nurani Bangsa".

Baca juga: Prospek Gerakan Gibran Jadi Wapres 2 Periode

Retaknya Dwi-Tunggal : Saat Prinsip Di atas Kekuasaan

Selama bertahun-tahun, Soekarno dan Hatta adalah lambang kesatuan yang tak terpisahkan—Dwi-Tunggal. Namun, memasuki pertengahan tahun 1950-an, arah politik negara mulai berubah. Bung Hatta melihat adanya pergeseran ke arah kabinet yang mulai memasukkan unsur komunis, sesuatu yang sangat bertentangan dengan prinsip demokrasinya.

Bagi Hatta, dalam sistem parlementer yang sehat, posisi Wakil Presiden juga tidak lagi krusial jika hanya dijadikan pajangan atau simbol belaka.

Tepat pada 1 Desember 1956, Hatta membuktikan kata-katanya. Ia resmi mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia. Jabatan tertinggi kedua di republik ini ia lepaskan begitu saja, demi menjaga integritas dan prinsip hidup yang ia yakini.

Hidup Bersahaja Setelah Angkat Koper dari Istana

Setelah mundur, Hatta tidak mendapatkan fasilitas mewah layaknya mantan pejabat era modern. Ia memboyong keluarganya pindah ke rumah di Jalan Diponegoro 57. Di sanalah lembaran baru kehidupan bersahaja seorang proklamator dimulai.

Baca juga: Sejarah Adam Malik Mendirikan Media Antara

Untuk menyambung hidup dan membiayai keluarganya, Bung Hatta kembali ke dunianya: menulis buku dan mengajar. Pendapatannya murni dari honorarium tulisan dan kuliah-kuliah umum.

Ada satu kisah menyentuh yang terus dikenang hingga hari ini: Sampai akhir hayatnya, Bung Hatta tidak pernah mampu membeli sepatu Bally—sepatu impian yang guntingan iklannya ia simpan rapat-rapat di dalam dompetnya. Uang pensiunnya yang pas-pasan selalu ia utamakan untuk membayar tagihan air, listrik, dan keperluan rumah tangga yang mendesak.

Bung Hatta tak pernah menyesali keputusannya. Baginya, kemiskinan materi jauh lebih mulia daripada kemiskinan moral.

Tetap Kritis dan Dicintai Dunia

Baca juga: Calon Perwira Remaja TNI Polri Tahun 2024 Terima Pembekalan Dari Wapres RI

Meski hidup sebagai warga biasa, karisma Bung Hatta tidak pernah pudar. Saat ia mengunjungi Tiongkok pada tahun 1957, Perdana Menteri Zhou Enlai menyambutnya dengan upacara megah layaknya seorang kepala negara aktif. Dunia tahu, yang datang bukan lagi seorang wakil presiden, melainkan seorang "anak hebat" dari bangsa Indonesia.

Di dalam negeri, Hatta tetap menjadi kritikus yang disegani. Bersama Jenderal A.H. Nasution, ia mendirikan Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi untuk mengkritik penyalahgunaan Pancasila oleh rezim Orde Baru yang mulai otoriter. Hatta membuktikan bahwa untuk berjuang bagi rakyat, seseorang tidak harus memiliki kursi kekuasaan.

Warisan Abadi Sang Guru Bangsa

Hatta mengembuskan napas terakhirnya pada 14 Maret 1980. Sebelum wafat, ia meninggalkan wasiat yang sangat menyentuh: Ia menolak dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata. Hatta memilih untuk dikebumikan di TPU Tanah Kusir, karena ia ingin jasadnya menyatu dengan rakyat biasa yang ia bela sepanjang hidupnya. (*)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru