Yang Membunuh Husain Bukan Syiah, Tetapi Kekuasaan Zalim

Reporter : Redaksi
Husain

Ada banyak tulisan yang tampak penuh referensi, tetapi miskin akal. Ia menumpuk kutipan, menampilkan nama kitab, menyebut halaman, lalu melompat pada kesimpulan yang dipaksakan: 

"Syiah membunuh Husain."

Baca juga: Narasi Sektarian Syiah dan Sunni untuk Melemahkan Umat Islam

Ini bukan kesimpulan sejarah. Ini propaganda.

Kesalahan pertamanya bahkan sangat mendasar: ia menyebut Imam Husain sebagai "Imam ke-2 kelompok Syiah". Dalam mazhab Imamiyah Itsna 'Asyariyah, Imam kedua adalah Imam Hasan bin Ali, sedangkan Imam Husain adalah Imam ketiga.

Semua data sejarah pun menyebut Imam Husain sebagai Imam ketiga dalam tradisi Syiah. Kalau menghitung urutan Imam saja sudah keliru, bagaimana ia berani mengadili sejarah sebesar Karbala?

Tetapi mari kita masuk ke jantung persoalan.

Benar, sebagian penduduk Kufah mengirim surat kepada Imam Husain. Benar, sebagian dari mereka mengaku sebagai pendukung Ahlul Bait. Benar, mereka berjanji membela—lalu banyak yang takut, mundur, diam, dan berkhianat. 

Sumber-sumber Syiah sendiri tidak menyembunyikan ini. 

Justru di sinilah kejujuran sejarah Syiah terlihat: pengkhianatan Kufah dicatat, bukan ditutup. 

Catatan-catatan primer menyebut bahwa surat-surat Kufah datang setelah Imam Husain menolak baiat kepada Yazid; dan setelah Ibn Ziyad masuk dan menekan Kufah dengan ancaman dan kekerasan, mereka berbalik dari janji dan meninggalkan Imam Husain.

Pertanyaannya: kalau ini "rahasia yang ditutup rapat oleh Syiah", mengapa justru kitab-kitab Syiah yang mencatatnya dengan gamblang?

Di sinilah kebodohan argumen itu terbongkar. Ia mengutip sumber Syiah untuk membuktikan bahwa Syiah menyembunyikan sesuatu—padahal sumber yang ia kutip justru membuktikan bahwa Syiah membuka luka sejarahnya sendiri: ada penduduk Kufah yang pengecut, ada yang oportunis, ada yang berkhianat, ada yang mengundang lalu meninggalkan. Tetapi pengkhianat bukan berarti mazhab. Pengecut bukan berarti akidah. Orang yang mengaku pendukung Ahlul Bait lalu meninggalkan Imam Husain tidak otomatis menjadi representasi Syiah; justru ia gugur dari makna Syiah itu sendiri.

Syiah secara bahasa berarti pengikut. Maka pertanyaan yang harus diajukan sederhana: siapa pengikut Husain yang sesungguhnya di Karbala?

Apakah Habib bin Muzahir—yang menulis surat lalu benar-benar datang dan syahid bersama Imam Husain? 

Atau mereka yang bersembunyi di rumah, takut kepada pedang Ibn Ziyad? 

Apakah Muslim bin 'Ausajah yang gugur membela Imam? Atau para kepala kabilah yang menjual nurani demi keselamatan dunia? 

Apakah Al-Hurr yang semula menghadang lalu bertobat dan mati mulia di sisi Husain? 

Atau Umar bin Sa'd yang memimpin pasukan pembantai?

Di Karbala, Syiah sejati adalah mereka yang berdiri bersama Husain sampai darah terakhir. Yang meninggalkan Husain bukan Syiah dalam makna iman—melainkan pengkhianat terhadap klaimnya sendiri.

Kesalahan fatal tulisan-tulisan itu adalah menyamakan "orang Kufah" dengan "Syiah", lalu menyamakan "orang yang pernah mengaku mendukung Husain" dengan "mazhab Syiah". Ini seperti mengatakan bahwa karena ada orang munafik yang hidup di Madinah pada zaman Nabi, maka Islam Madinah adalah agama kemunafikan. Ini cara berpikir yang rusak dari akarnya.

Sejarah tidak boleh dibaca dengan dendam. Sejarah harus dibaca dengan rantai sebab-akibat.

Siapa yang menuntut baiat kepada Yazid?

Siapa yang mengirim gubernur keras ke Kufah?

Siapa yang menekan penduduk Kufah dengan ancaman, suap, dan kekerasan?

Siapa yang menangkap dan membunuh Muslim bin Aqil?

Siapa yang mengirim pasukan menghadang Imam Husain?

Siapa yang memutus akses air?

Siapa yang memerintahkan Husain tunduk kepada kekuasaan atau dibunuh?

Siapa yang memenggal kepala para syuhada dan menggiring keluarga Nabi sebagai tawanan?

Jawabannya bukan "Syiah". Jawabannya adalah struktur kekuasaan Umayyah.

Data-data sejarah menyebut Karbala sebagai pertempuran antara Imam Husain dan pasukan Umayyah. Imam Husain dicegat dan dikepung oleh total lebih dari 20.000 pasukan yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Kufah—dipimpin di lapangan oleh Umar bin Sa'd—untuk menghadapi rombongan Imam Husain yang hanya berjumlah 72 pejuang. Bukan kebetulan angka itu sangat timpang: lebih dari 20.000 tentara bersenjata lengkap dikerahkan untuk memaksa 72 orang agar tunduk atau binasa. 

Setelah pembantaian, mereka menjarah kemah, memenggal jasad para syuhada, dan menawan keluarga Imam Husain.

Wilferd Madelung juga menegaskan bahwa setelah Imam Husain tiba di Karbala, kontingen dari pasukan Yazid datang, memaksa rombongan kecil itu mengakui otoritas Yazid, dan memutus akses mereka kepada air sungai Furat.

Lebih telak lagi: Encyclopaedia Iranica dalam entri khusus tentang Ubaidullah bin Ziyad menyebutnya sebagai gubernur Umayyah yang bertanggung jawab atas kematian Imam Husain. Ia menekan Kufah, mengeksekusi agen-agen Imam Husain, lalu ketika Imam Husain tiba di Irak, Ibn Ziyad mengirim pasukan Umar bin Sa'd. Bahkan penelitian Iranica itu menyatakan terdapat bukti kuat bahwa Ibn Ziyad sangat bertanggung jawab atas hasil akhir tragedi Karbala.

Maka tuduhan "Syiah membunuh Husain" runtuh pada satu pertanyaan sederhana:

Jika Syiah yang membunuh Husain, mengapa yang membawa nama negara adalah Yazid? 

Mengapa gubernurnya Ibn Ziyad? 

Mengapa panglimanya Umar bin Sa'd? 

Mengapa eksekutor lapangannya Syimr? 

Mengapa keluarga Nabi digiring ke istana kekuasaan, bukan ke majelis Syiah?

Bahkan sumber-sumber Sunni yang cenderung membela Yazid sekalipun tetap mengakui bahwa Yazid memerintahkan agar gerak Imam Husain dihalangi, bahkan jika itu berarti memeranginya. Ini pengakuan yang penting: meskipun mereka berusaha menjauhkan Yazid dari perintah pembunuhan langsung, mereka tetap tidak bisa menghapus fakta bahwa kekuasaan Yazid adalah konteks politik yang melahirkan pengepungan, peperangan, dan pembantaian itu.

Adapun penduduk Kufah yang berkhianat—Syiah tidak pernah membela mereka. Justru tragedi Karbala melahirkan gerakan Tawwabin: orang-orang yang bangkit dalam tobat karena merasa bersalah telah meninggalkan Husain, lalu menuntut balas atas darahnya. 

Setelah itu, Mukhtar ats-Tsaqafi memimpin gerakan pembalasan terhadap para pelaku pembunuhan Husain; dalam rangkaian itu Ibn Ziyad akhirnya terbunuh.

Ini pukulan paling telak bagi tuduhan tersebut: jika "Syiah membunuh Husain", mengapa gerakan Syiah awal justru bangkit memburu para pembunuhnya?

Mereka yang mengirim surat lalu berkhianat adalah dosa sejarah Kufah. Tetapi yang membunuh Husain adalah aparat kekuasaan. Dalam logika hukum sekalipun, pengkhianat, provokator, penakut, pembiar, komandan, dan eksekutor tidak boleh dicampuradukkan secara sembrono. Orang yang mengundang lalu meninggalkan memang bersalah secara moral. Tetapi orang yang mengepung, memutus air, menyerang, menebas, memenggal, menawan, dan mengirim kepala ke penguasa adalah pembunuh—secara langsung dan tanpa keraguan.

Karbala bukan sekadar tragedi karena ada orang Kufah yang berkhianat. Karbala adalah tragedi karena kekuasaan bersenjata memaksa cucu Nabi memilih antara kehinaan baiat kepada tirani atau kematian mulia.

Imam Husain memilih kematian mulia.

Karena itu, duka Syiah atas Karbala bukan sandiwara. Ia adalah ingatan sejarah atas kezaliman yang ditimpakan kepada keluarga Nabi. Sayyid Sistani menjelaskan bahwa tujuan azadari—peringatan Asyura—adalah menghidupkan simbol-simbol agama, mengenang penderitaan Imam Husain dan para sahabatnya, serta kebangkitan beliau untuk mempertahankan Islam dari kehancuran di tangan dinasti Bani Umayyah.

Tentang tatbir, tulisan itu juga melakukan generalisasi yang murahan. Tidak semua Syiah melakukan tatbir. Bahkan di kalangan ulama Syiah sendiri terdapat perbedaan pandangan yang nyata. Kantor perwakilan Sayyid Sistani menegaskan bahwa beliau tidak mengeluarkan fatwa khusus mengenai tatbir dan mempersilakan pengikutnya merujuk kepada marja lain dalam masalah tersebut. 

Menjadikan tatbir sebagai wajah seluruh Syiah adalah kecurangan retoris:

mengambil praktik sebagian kecil, lalu memukulkannya kepada seluruh mazhab.

Pada akhirnya, tuduhan "Syiah membunuh Husain" bukan hanya lemah. Ia terbalik.

Syiah adalah nama bagi mereka yang tetap bersama Husain ketika dunia meninggalkannya. 

Syiah adalah Habib bin Muzahir yang datang. 

Syiah adalah Muslim bin 'Ausajah yang gugur. 

Syiah adalah Abbas yang menjaga kehormatan di tepi sungai. 

Syiah adalah Zainab yang berdiri di hadapan tiran dan membongkar kepalsuan kemenangan itu. 

Syiah adalah tangisan yang berubah menjadi perlawanan. 

Syiah adalah ingatan yang menolak tunduk kepada narasi penguasa.

Yang membunuh Husain adalah mereka yang berdiri di bawah panji kekuasaan zalim. 

Yang membunuh Husain adalah mereka yang menganggap baiat kepada tirani lebih berharga daripada darah cucu Rasulullah. Yang membunuh Husain adalah mereka yang memutus akses air, menyerang kemah, membunuh anak-anak keluarga Nabi, dan menggiring putri-putri Rasul sebagai tawanan.

Maka jangan membalik sejarah.

Kufah memang berkhianat. Tetapi Karbala dibantai oleh negara.

Sebagian orang yang mengaku pendukung Husain di Kufah itu memang pengecut. Tetapi pembunuh Husain adalah pasukan Umayyah.

Ada yang mengundang lalu diam. Tetapi yang menghunus pedang adalah tentara Yazid, Ibn Ziyad, Umar bin Sa'd, dan Syimr.

Dan sampai hari ini, siapa pun yang berusaha mencuci tangan Yazid dengan menuduh Syiah sedang melakukan kejahatan kedua terhadap Karbala: 

membunuh kebenaran setelah tubuh Husain dibunuh.

Padahal darah Husain tidak pernah bisa ditutup oleh propaganda.

Ia mengalir melewati zaman, menyingkap wajah setiap tirani, dan mempermalukan setiap pena yang membela pembunuh atas nama sejarah. (*)

*) Source : Hasyim Arsal Alhabsi (Dehills Institute)

Editor : Bambang Harianto

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru