Di tengah panasnya kota Mekkah, ketika kaum Quraisy memburu siapa saja yang berani memeluk Islam, hiduplah seorang budak miskin bernama Khabbab bin Al-Arat.
Ia bukan bangsawan. Bukan pemimpin suku. Tidak punya harta ataupun pelindung. Namun, justru namanya kelak dikenang langit karena keteguhan imannya.
Baca juga: Ayub, Warga Krembangan Bhakti Surabaya Gelar Aqiqah, Dihadiri Habib Musthofa Jamal Al Aydrus
Khabbab bekerja sebagai pandai besi. Tangannya kasar oleh bara api dan besi panas. Hidupnya keras sejak kecil. Tetapi ketika dakwah Rasulullah SAW mulai tersebar diam-diam di Mekkah, hati Khabbab tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi Muhammad.
Tanpa ragu, ia memeluk Islam. Keputusan itu mengubah hidupnya menjadi lautan penderitaan.
Majikannya yang kejam murka mendengar Khabbab mengikuti agama baru. Kaum Quraisy ingin menjadikannya contoh agar budak-budak lain takut masuk Islam.
Suatu hari, Khabbab diseret ke tengah padang pasir. Batu-batu dipanaskan hingga membara merah. Tubuhnya ditelentangkan di atas bara itu. Dadanya ditekan keras agar punggungnya tak bisa bergerak.
Api membakar kulitnya. Lemak dan daging punggungnya meleleh di atas batu panas. Namun di tengah siksaan itu, Khabbab tidak menarik kembali keimanannya.
Ia hanya mengucap kalimat tauhid dengan suara lemah namun penuh keyakinan.
“Ahad... Ahad...”
Hari demi hari penyiksaan terus berlangsung. Kadang tubuhnya dipukul, kadang rantai besi dipasang di lehernya. Tetapi setiap kali kaum Quraisy mengira Khabbab akan menyerah, justru imannya semakin kuat.
Suatu ketika, Khabbab datang menemui Rasulullah SAW yang sedang berada di dekat Ka’bah. Tubuhnya penuh luka. Air matanya jatuh menahan sakit.
Baca juga: Air Mata Nabi : Tragedi Husain di Karbala
Dengan suara gemetar ia berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami?”
Maka Rasulullah SAW menatapnya penuh kasih lalu bersabda bahwa umat sebelum mereka bahkan ada yang digergaji tubuhnya namun tetap mempertahankan iman. Beliau mengabarkan bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Kata-kata itu menjadi kekuatan besar bagi Khabbab.
Sejak saat itu, ia tidak hanya menjadi Muslim yang sabar, tetapi juga menjadi salah satu guru Al-Qur’an pertama di Mekkah. Secara sembunyi-sembunyi ia mengajarkan ayat-ayat Allah kepada orang-orang yang baru masuk Islam.
Salah satu rumah yang pernah ia datangi adalah rumah Umar bin Khattab sebelum Umar masuk Islam. Saat itu Khabbab sedang mengajarkan Surah Thaha kepada adik Umar. Dari bacaan Al-Qur’an itulah hati Umar mulai luluh hingga akhirnya memeluk Islam.
Baca juga: Bani Shaybah Penjaga Kunci Kabah
Tahun-tahun berlalu. Islam menang.
Mekkah yang dulu menyiksa kaum Muslim akhirnya tunduk kepada cahaya tauhid. Khabbab yang dahulu hanyalah budak hina kini dimuliakan oleh kaum beriman.
Pada masa tua, bekas luka di punggungnya masih terlihat jelas. Suatu hari ia memperlihatkan punggungnya kepada para sahabat. Kulitnya hitam dan rusak akibat bara api bertahun-tahun lalu. Namun Khabbab tidak menangis karena sakit.
Ia menangis karena takut seluruh pahala perjuangannya telah dibalas Allah di dunia. Begitulah Khabbab bin Al-Arat.
Tubuhnya pernah dibakar manusia, tetapi imannya justru semakin bercahaya. Namanya menjadi bukti bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan tubuh, melainkan hati yang tetap setia kepada Allah meski dunia menyakitinya. (*)
Editor : S. Anwar