Tiar Ramon, Sang Maestro Musik Pemersatu Ranah Minang

Reporter : Redaksi
Tiar Ramon

Musik modern Minangkabau tidak akan pernah lengkap tanpa menyebut nama Bachtiar Rachman, atau yang lebih abadi dikenal publik dengan nama panggung Tiar Ramon. Lahir di Batu Basa, Padang Pariaman pada 12 Januari 1941, sang maestro telah mengabdikan seluruh hela napasnya untuk merawat kebudayaan melalui untaian nada.

Meskipun ia telah berpulang pada Sabtu, 21 Oktober 2000 dini hari di Rumah Sakit Ibnu Sina, Pekanbaru akibat komplikasi diabetes dan jantung, karya-karyanya seperti lagu legendaris "Badindin" tetap abadi, bergema melintasi generasi dan batasan geografis Indonesia.

Baca juga: SiLPA RSUD Ibnu Sina sebesar Rp 38,7 Miliar Digunakan Tidak Sesuai Peruntukkan 

Akar Tradisi, Juara Azan, hingga Gejolak PRRI

Bakat seni Tiar Ramon sejatinya mengalir deras dari darah sang ayah, Abdurrahman (Tirahman), seorang seniman suku Koto yang berprofesi sebagai tukang Dikia—sebuah kesenian religius bernuansa Arab di Padang Pariaman. Bersama sang ibu, Tiraya yang bersuku Piliang, Tiar dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai religius dan tradisi.

Sisi spiritualitas dan olah vokal Tiar sudah teruji sejak belia. Pada tahun 1956, ia berhasil menyabet gelar juara pertama perlombaan azan tingkat Kabupaten Padang Pariaman sekaligus tingkat Provinsi Sumatra Barat.

Namun, garis hidup kemudian membawanya masuk dalam pusaran sejarah kelam tanah kelahirannya. Pada tahun 1958, di masa remajanya, Tiar sempat bergabung dengan gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di kampung halamannya, sebuah fase pergolakan politik yang kelak menempa mentalitas dan kedalaman karakternya.

Titik Balik di Padang dan Era Emas RRI

Memasuki era 1960-an, Tiar Ramon memutuskan untuk fokus menata masa depannya. Bersama sahabat karibnya yang kelak menjadi maestro musik Minang, Yusaf Rahman, Tiar menumpang hidup di kediaman Pak Hamier, Kepala Jawatan Kebudayaan Sumatra Barat kala itu. Di kota Padang inilah, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Rimbo Kaluang.

Dunia tarik suara tampaknya menjadi magnet yang terlalu kuat bagi Tiar. Sembari sekolah, ia terus mengasah vokal emasnya hingga memuncak pada tahun 1961, di mana ia berhasil menjuarai festival lagu bergengsi yang diadakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Padang. Kemenangan di RRI inilah yang menjadi karpet merah bagi Tiar untuk menembus industri musik profesional tanah air.

Baca juga: Rekaman Video Mengungkap Jika Ahmad Dibunuh

Melahirkan "Badindin" dan Duet Abadi Bersama Elly Kasim

Nama Tiar Ramon melesat menjadi ikon pop Minang dan Melayu berkat produktivitasnya dalam melahirkan karya-karya monumental. Kontribusi terbesarnya bagi kebudayaan Nusantara adalah ketika ia menciptakan sekaligus memopulerkan lagu "Badindin". Lagu bernuansa ceria dengan ketukan rebana yang dinamis ini sukses menjadi salah satu identitas musik Sumatra Barat yang paling dikenal di seluruh dunia, bahkan kerap menjadi pengiring wajib tari-tarian tradisional Minang.

Selain "Badindin", suara berat dan penuh penghayatan milik Tiar juga sukses memopulerkan lagu-lagu melankolis-tradisional seperti Risaulai dan Usah Diratoki.

Dunia musik Indonesia juga mencatat Tiar Ramon sebagai rekan duet terbaik dari Ratu Pop Minang, Elly Kasim. Kolaborasi keduanya dalam lagu "Bapisah Bukannyo Bacarai" (Berpisah Bukannya Bercerai) menjadi salah satu tembang duet paling legendaris dan best seller pada masanya. Lagu tersebut bahkan menjadi "lagu wajib" yang menyuarakan kerinduan dan perpisahan bagi masyarakat perantau Minangkabau.

Baca juga: Warga Desa Pranti Digegerkan Penemuan Mayat dengan Mulut Tertancap Pisau

Dedikasi Tanpa Batas hingga Akhir Hayat

Kecintaan Tiar Ramon terhadap dunia musik tidak pernah luntur oleh usia. Ia tidak hanya aktif di depan mikrofon sebagai penyanyi, melainkan juga berjuang di jalur organisasi demi kesejahteraan sesama musisi. Atas dedikasinya tersebut, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Sumatra Barat pada tahun 1997.

Di usia 59 tahun, sang maestro mengembuskan napas terakhirnya di perantauan, Pekanbaru, Riau. Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke tanah rahim tempat ia pertama kali belajar berdendang, dan dimakamkan dengan khidmat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lambeh, Malai III Koto, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman.

Meski raganya telah lama bersatu dengan tanah, legasi Tiar Ramon tetap hidup. Dari surau-surau kecil di Padang Pariaman hingga panggung-panggung festival internasional, petikan lirik "Balari-lari si anak ruso..." dalam lagu Badindin ciptaannya akan selalu hidup, menjaga ingatan bangsa akan kebesaran sang maestro. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru