Jagat raya selalu menyimpan misteri yang mahaluas, namun siapa sangka salah satu kunci rahasia di jantung galaksi kita berhasil dibongkar oleh seorang putra asli Minahasa, Sulawesi Utara? Dia adalah Prof. Dr. Mezak Arnold Ratag (1962–2020), seorang astronom genius Indonesia yang namanya harum dan disegani di dalam lingkaran elit sains global.
Bukan sekadar mengamati langit malam, Mezak Arnold Ratag berhasil melakukan pencapaian ekstrem yang membuat para astronom Barat tercengang: menemukan dan memetakan lebih dari 100 planetary nebulae (nebula planeter)—alias sisa-sisa megah dari kabut gas yang dipancarkan oleh bintang-bintang yang mati—tepat di Galactic Bulge (tonjolan pusat galaksi Bima Sakti).
Baca juga: Tentang Purbaya, Kaya Bersama dan Musuh Bernama Bersama Sama
Perjalanan Si Genius dari Manado Menuju Jantung Galaksi
Ketertarikan Mezak Arnold Ratag pada rumitnya matematika dan benda-benda langit sudah membara sejak ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Manado. Di era saat astronomi belum menjadi tren atau bidang yang populer di Indonesia, Mezak justru melihatnya sebagai tantangan.
Kecerdasannya terbukti nyata saat ia langsung diterima di Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) tanpa tes, dan berhasil lulus pada tahun 1985 dengan predikat Cum Laude.
Lompatan besar dunia sains terjadi ketika ia melanjutkan studi doktoral di University of Groningen, Belanda. Di bawah bimbingan langsung pakar astronomi dunia, Stuart Robert Pottasch, Mezak Arnold Ratag meluncurkan riset besar untuk membedah wilayah paling padat dan misterius di galaksi kita, yaitu pusat Bima Sakti.
Melalui disertasinya yang rilis pada tahun 1991, dunia dikejutkan oleh data baru yang dibawa Mezak. Ia berhasil mendeteksi keberadaan ratusan objek nebula planeter baru yang sebelumnya luput dari pengamatan teleskop canggih dunia. Penemuan ini menjadi sumbangsih luar biasa bagi umat manusia untuk memahami bagaimana bintang berevolusi, mati, dan membentuk struktur kimia galaksi tempat kita tinggal saat ini.
Baca juga: Aturan Baru tentang Pelaksanaan Pembukuan dan Audit di Kepabeanan dan Cukai
Diakui Dunia, Mengabdi untuk Tanah Air
Berkat penemuan fenomenal yang mengubah peta astronomi dunia tersebut, nama Mezak Arnold Ratag dicatat resmi dalam AstroGen (Astronomy Genealogy Project), sebuah basis data internasional yang berisi silsilah akademik para astronom paling berpengaruh di dunia.
Meski memiliki karier internasional yang cemerlang di Eropa, jiwa nasionalisme Prof. Mezak memanggilnya pulang. Ia mendedikasikan sisa hidupnya untuk membangun pendidikan di dalam negeri. Tak hanya aktif mengajar generasi muda, Mezak Arnold Ratag juga dipercaya mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada periode 2017–2019 demi memajukan kualitas akademis di tanah kelahirannya, Sulawesi Utara.
Baca juga: Kemenkeu Sumut Hibahkan BMN ke Ponpes dan Panti Asuhan di Medan
Warisan yang Abadi di Langit Malam
Pada 22 Februari 2020, sang penemu bintang itu mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 57 tahun. Walau sosoknya telah tiada, warisan ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya akan abadi selamanya.
Kini, setiap kali para ilmuwan dunia mengarahkan teleskop tercanggih mereka ke arah jantung Bima Sakti, jejak penemuan sang putra Minahasa ini akan selalu ada di sana—sebuah bukti nyata bahwa dari pelosok Nusantara, lahir otak kelas dunia yang mampu menembus batas miliaran tahun cahaya. (*)
Editor : Bambang Harianto