Lulusan Harvard. Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Ditawari jadi Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sebulan kemudian mati mendadak. Tanpa otopsi. Tidak ada yang diadili. Tidak ada yang diselidiki. Yang membongkar korupsi militer Rp 189 miliar itu dikubur di Kalibata, Jakarta. Kasusnya dikubur lebih dalam.
Agus Wirahadikusumah bukan jenderal biasa yang naik karena diam dan patuh. Dia lulusan Universitas Harvard, tahun 1992. Master of Public Administration. Satu-satunya jenderal Angkatan Darat era itu yang bawa gelar dari Kennedy School. Akabri tahun 1973, satu angkatan dengan Ryamizard Ryacudu.
Baca juga: Mayjen TNI Primadi Saiful Sulun Jabat Panglima Divif 2 Kostrad
Karir Ryamizard Ryacudu : Pangkostrad, lalu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Lalu Menteri Pertahanan.
Karis Agus Wirahadikusumah : Pangkostrad selama 4 bulan, lalu dicopot dan diparkir. Kemudian meninggal dunia. Bedanya bukan soal kemampuan. Bedanya soal apa yang ia lakukan ketika menemukan brankas Kostrad hampir kosong.
Maret 2000, Agus Wirahadikusumah dilantik jadi Pangkostrad oleh Presiden Abdurrahmad Wahid alias Gus Dur . Laporan pertama yang ia terima : dana Yayasan Dharma Putra Kostrad tinggal Rp 189,5 miliar. Pendahulunya, Djadja Suparman, sudah menarik Rp 135 miliar dari Mandala Airlines milik yayasan itu. Rp 28,9 miliar lagi tidak jelas ke mana.
Kostradgate
Agus Wirahadikusumah panggil Auditor Publik. Dia membuat laporan. Agus Wirahadikusumah tidak diam. Respons Mabes TNI AD : audit internal menyimpulkan "tidak ada korupsi, hanya ketidaksempurnaan administrasi."
Tapi yang kena ialah Bendahara Yayasan Dharma Putra Kostrad, Kolonel Fahmi.
Djadja Suparman dinyatakan bersih. Tapi Agus Wirahadikusumah dicopot. Wiranto yang saat itu menjabat Panglima ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) memanggil Agus Wirahadikusumah "bad apple." Di institusi yang benar, jenderal yang membongkar korupsi ratusan miliar rupiah dapat bintang. Di institusi ini, Agus Wirahadikusumah dapat surat pencopotan.
Setelah dicopot, Agus Wirahadikusuma tidak dapat jabatan baru. Tidak ada penugasan. Hanya titel "perwira tinggi Mabes TNI". Kode untuk : kami parkir kamu sampai pensiun atau mati.
Harley Davidson-nya dijual. Mobilnya dijual. Perhiasannya dijual. Semua disumbangkan untuk prajurit dan pembangunan masjid di Aceh.
Baca juga: Prada Lucky Tewas Disiksa Senior, Ayah Korban : Saya Tuntut Keadilan, Nyawa Saya Jadi Taruhannya
"Saya tak punya apa-apa lagi. Ibaratnya saya ini tengah menjalankan pati geni," kata Agus Wirahadikusuma semasa hidupnya.
“90 persen jenderal tidak menyukai saya,” kata Agus Wirahadikusuma sambil terkekeh.
Agus Wirahadikusuma tahu persis apa yang ia lawan. Tapi Ia tetap maju.
Pada 23 Juli 2001. Paman Agus Wirahadikusuma, mantan Wakil Presiden (Wapres), Umar Wirahadikusumah, mengonfirmasi bahwa jabatan Panglima TNI sudah ditawarkan kepada Agus Wirahadikusuma.
30 Agustus 2001. Pukul 05.30 WIB, Agus Wirahadikusuma membangunkan istrinya untuk salat. Olahraga pagi. Kemudian istri masuk kamar mandi. Keluar. Tapi suaminya tidak bisa dibangunkan.
Pukul 06.19 tiba di Rumah Sakit (RS) Pertamina. Agus Wirahadikusuma sudah meninggal dunia di usianya 49 tahun.
Baca juga: Sidang Vonis Perkara Korupsi Koneksitas Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat
Agus Wirahadikusuma aktif berolahraga. Tidak ada riwayat sakit. Tidak ada otopsi.
Djadja Suparman, yang dana di Yayasan Dharma Putra Kostrad sempat Agus Wirahadikusuma bongkar, akhirnya memang masuk penjara pada tahun 2013. Bukan karena kasus Yayasan Dharma Putra Kostrad, tapi karena kasus korupsi lain di tempat lain.
Kasus Yayasan Dharma Putra Kostrad? Tidak ada yang diadili sampai hari ini.
Indonesia punya satu aturan tidak tertulis yang konsisten: Orang yang membongkar korupsi militer tidak pernah selamat kariernya. Agus Wirahadikusumah tahu itu dari awal.
Ia buka brankasnya juga. Itu mungkin kesalahannya. Atau mungkin itu satu-satunya hal benar yang pernah dilakukan seorang jenderal Indonesia di era reformasi. (*)
Editor : S. Anwar