“Ketika banyak manusia memanggil anak dan keluarganya saat ajal mendekat, Rasulullah SAW justru terus menyebut ‘Umatku… umatku…’”
Tahun ke-11 Hijriah. Kota Madinah terasa berbeda. Rumah Rasulullah SAW dipenuhi kesedihan. Beberapa hari sebelumnya, Rasulullah SAW mulai merasakan sakit demam yang sangat berat.
Baca juga: Kisah Ummu Mutiah yang Sempat Membuat Fatimah Az Zahra Cemburu
Panas tubuh beliau begitu tinggi hingga para sahabat meletakkan tangan mereka dan merasa panas itu luar biasa.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah masuk menemui Rasulullah SAW ketika beliau sedang demam keras.”
Lalu ia berkata : “Wahai Rasulullah, engkau benar-benar mengalami demam yang berat.”
Rasulullah SAW menjawab : “Benar. Aku mengalami sakit seperti dua orang di antara kalian.”
(HR. Bukhari)
Meski tubuh beliau lemah, Rasulullah SAW tetap memikirkan umatnya. Jauh sebelum wafatnya, Rasulullah SAW memang selalu memikirkan keselamatan umatnya.
Suatu hari Rasulullah SAW membaca ayat tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam :
“Barang siapa mengikutiku, maka dia termasuk golonganku…”
(QS. Ibrahim: 36)
Dan ayat tentang Nabi Isa ‘alaihis salam:
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu…”
(QS. Al-Ma’idah: 118)
Ketika membaca ayat itu, Rasulullah Rasulullah SAW menangis. Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya lalu berkata:
“Allahumma ummati… ummati…”
“Ya Allah… umatku… umatku…”
Tangisan Rasulullah SAW bukan karena dirinya. Bukan karena takut miskin. Bukan karena takut kehilangan dunia. Beliau menangis memikirkan nasib umatnya. Maka Allah Rasulullah SAW memerintahkan Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Rasulullah SAW.
Allah berfirman:
“Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan tanyakan apa yang membuatnya menangis.”
Padahal Allah Maha Mengetahui segalanya. Jibril lalu datang dan bertanya.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beliau mengkhawatirkan umatnya.
Lalu Allah berfirman:
“Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakana :
Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan Kami tidak akan mengecewakanmu.”
(HR. Muslim)
Hari-Hari Terakhir Rasulullah SAW
Semakin hari, sakit Rasulullah SAW semakin berat. Beliau tinggal di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kadang beliau pingsan karena beratnya sakit. Kadang beliau sadar lalu bertanya :
“Apakah orang-orang sudah salat?”
Bahkan ketika tubuh beliau sangat lemah, yang beliau pikirkan tetap salat umatnya. Suatu ketika Rasulullah SAW meminta air dari beberapa qirbah (kantong air). Rasulullah SAW menyiram tubuhnya agar sedikit kuat menemui para sahabat.
Dengan tubuh lemah, beliau keluar menuju masjid. Para sahabat menangis melihat Rasulullah SAW berjalan dipapah oleh Ali bin Abi Thalib dan Al-Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Baca juga: Begini Cara Dzu as Suwaiqatain Robohkan Kabah di Akhir Zaman
Kedua kaki beliau hampir tidak mampu menahan tubuhnya. Namun beliau tetap ingin menemui umatnya.
Di masjid, Rasulullah SAW duduk di atas mimbar lalu berkata :
“Semoga Allah melaknat Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”
Rasulullah SAW takut umatnya terjatuh kepada kesyirikan setelah beliau wafat. Lalu beliau juga berpesan agar kaum Anshar dijaga dan dimuliakan. Beliau memikirkan persatuan umat hingga akhir hayatnya.
Detik-Detik Terakhir
Pada hari Senin pagi. Rasulullah SAW berada di pangkuan Aisyah radhiyallahu ‘anha. Di rumah kecil itu, para sahabat diliputi kesedihan. Abdurrahman bin Abu Bakar masuk sambil membawa siwak.
Rasulullah SAW memandang siwak itu. Aisyah memahami keinginan beliau.
Ia melembutkan siwak itu lalu memberikannya kepada Rasulullah SAW.
Dengan sisa tenaga yang ada, Rasulullah SAW bersiwak. Bahkan di saat terakhir hidupnya, Rasulullah SAW tetap menjaga kebersihan dan kesucian.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya dan berdoa :
“Allahumma fir rafiqil a’la…”
“Ya Allah, bersama Ar-Rafiq Al-A’la (teman yang tertinggi).”
Dan di antara wasiat terakhir Rasulullah SAW adalah :
“Ash-shalah… ash-shalah…”
“Jagalah salat… jagalah salat…”
Baca juga: Kisah Wafatnya Fatimah Az Zahra yang Tak Lama setelah Rasulullah
Rasulullah SAW terus mengingatkan umatnya tentang salat.
Dalam banyak riwayat dan atsar disebutkan bahwa Rasulullah SAW juga sangat memikirkan umatnya di akhir hayat beliau.
Reaksi Para Sahabat
Ketika Rasulullah SAW wafat, Madinah seperti gelap. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahkan tidak sanggup menerima kenyataan itu.
Umar berkata :
“Barang siapa mengatakan Muhammad telah wafat, akan kupenggal lehernya!”
Umar begitu mencintai Rasulullah SAW hingga tidak percaya beliau telah pergi. Lalu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu datang. Abu Bakar membuka wajah Rasulullah SAW dan menciumnya sambil berkata :
“Engkau tetap indah ketika hidup maupun setelah wafat.”
Abu Bakar kemudian keluar dan berkata kepada manusia :
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”
Maka manusia pun menangis.
Penutup
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mencintai umatnya. Rasulullah SAW memikirkan kita dalam doanya. Memikirkan keselamatan kita dalam tangisannya. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, yang beliau khawatirkan tetap umatnya.
Kita yang hidup ratusan tahun setelah beliau wafat, tetap dicintai oleh Rasulullah SAW. Lalu bagaimana dengan kita?
Sudahkah kita mencintai Rasulullah SAW dengan mengikuti sunnahnya, menjaga salat, dan memperbanyak shalawat kepadanya ?
Editor : S. Anwar