Kisah Ummu Mutiah yang Sempat Membuat Fatimah Az Zahra Cemburu

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi
grosir-buah-surabaya

Di Madinah, pada masa Rasulullah SAW, hiduplah seorang wanita biasa yang namanya hampir tak pernah terdengar dalam riwayat besar peperangan atau sejarah dakwah. la bukan istri Nabi, bukan pula putri beliau.

Namanya adalah Ummu Muthiah. Namun, keistimewaannya justru membuat banyak orang kagum, termasuk putri kesayangan Nabi, Fathimah Az-Zahra.

Suatu hari, Sayyidah Fathimah mendengar kabar yang mengejutkan. Malaikat Jibril pernah datang kepada Rasulullah dan menyebut bahwa di surga kelak, Fathimah akan bertetangga dengan seorang wanita bernama Ummu Muthiah.

Fathimah heran, siapakah wanita ini? Apa amalannya sehingga mendapat kedudukan begitu tinggi?

Rasa penasaran itu membuat Fathimah mendatangi rumah Ummu Muthiah. la mengetuk pintu dengan sopan. Dari dalam, suara lembut menjawab, "Siapakah di luar sana?"

Fathimah memperkenalkan dirinya. Mendengar nama agung itu, Ummu Muthiah segera membuka pintu dengan wajah penuh hormat dan gembira.

"Wahai putri Rasulullah, apa yang membuatmu datang ke rumahku yang sederhana ini?" tanya Ummu Muthiah dengan penuh kerendahan hati.

Fathimah tersenyum, "Aku mendengar kabar engkau adalah ahli surga, bahkan aku kelak bertetangga denganmu. Maka aku ingin tahu, amalan apa yang engkau lakukan?"

Pertanyaan itu membuat wajah Ummu Muthiah merona. la menunduk, malu menceritakan amalannya. Namun dengan desakan lembut.

cctv-mojokerto-liem

Fathimah, akhirnya ia berkata, "Wahai putri Nabi, aku hanyalah wanita biasa. Aku hanya berusaha taat kepada suamiku dalam hal yang baik, melayani kebutuhannya, dan menjaga kehormatan diriku. Itulah yang selalu kupegang."

Fathimah terdiam. la yang selama ini dikenal sebagai putri terbaik, wanita paling mulia, ternyata dibuat takjub oleh kesederhanaan amal seorang istri. Ummu Muthiah tidak banyak berpuasa sunnah, tidak banyak tampil dalam peperangan, namun ketaatan dan cintanya pada suami membuatnya mendapat kemuliaan besar di sisi Allah.

Hari itu, Fathimah pulang dengan perasaan campur aduk. Ada rasa kagum, ada pula rasa "cemburu" yang mulia-bukan iri dalam arti buruk, melainkan dorongan ingin menambah amal agar bisa menyamai keutamaan seorang wanita sederhana bernama Ummu Muthiah.

Kisah ini menjadi pelajaran berharga. Bahwa dalam Islam, kemuliaan tidak selalu lahir dari kedudukan atau nasab, tetapi dari amal yang ikhlas. Ummu Muthiah yang namanya jarang disebut, justru mendapatkan jaminan surga. Rahasianya sederhana: ia menjaga hak Allah dan hak suaminya.

Rasulullah bersabda, "Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau suka." (HR. Ahmad).

Hadis ini seolah menjadi cermin kehidupan Ummu Muthiah. la bukan wanita kaya, bukan wanita terkenal, namun amalnya murni dan penuh ketulusan. Betapa banyak wanita hari ini yang mendambakan surga dengan amalan besar, padahal rahasia surga bisa saja terletak pada amal sederhana: melayani keluarga dengan ikhlas, menjaga lisan, dan menunaikan kewajiban dengan hati ridha.

Ummu Muthiah telah membuktikan, bahwa jalan menuju surga terbuka luas bagi siapa saja bahkan bagi wanita biasa yang terbuka luas bagi siapa saja, bahkan bagi wanita biasa yang hatinya penuh cinta dan kesetiaan. (*)