Ketika Ibadah Hampir Membuat Seorang Sahabat Kehilangan Keseimbangan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi Sahabat
Ilustrasi Sahabat
grosir-buah-surabaya

Madinah kala itu sunyi. Bukan karena tak ada manusia, tetapi karena sebagian malam dihabiskan oleh orang-orang yang berdiri lama di hadapan Allah.

Di antara mereka ada Abu Darda’ seorang sahabat yang dikenal sangat zuhud. Siang harinya diisi dengan puasa, malamnya dipanjangkan dengan shalat, hingga dunia terasa semakin kecil di matanya.

Ia berpuasa hampir setiap hari. Ia bangun ketika manusia terlelap. Ia menahan diri dari kelezatan yang halal, karena ingin mendekat sejengkal demi sejengkal kepada Rabb-nya. Namun di rumah yang sama, ada seorang istri yang perlahan merasa asing.

Suatu hari, Salman Al-Farisi datang berkunjung. Salman bermalam di rumahnya. Ia bukan tamu biasa. Ia sahabat, saudara seiman, dan orang yang dikenal Rasulullah SAW karena kedalaman hikmahnya.

Saat Salman masuk ke rumah Abu Darda’, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Istri Abu Darda’ menyambutnya dengan pakaian sederhana, tanpa perhiasan, tanpa raut seorang istri yang diperhatikan.

Salman bertanya dengan lembut, “Ada apa denganmu?”

Perempuan itu menjawab jujur, tanpa mengadu : “Saudaramu Abu Darda’ tidak membutuhkan dunia.”

Salman terdiam. Ia paham maksudnya. Bukan karena Abu Darda’ miskin, tetapi karena ibadah telah menyita hampir seluruh ruang hidupnya.

Ketika waktu makan tiba, hidangan dihidangkan. Salman duduk. Abu Darda’ menolak.

“Aku sedang berpuasa.”

Salman tidak mengangkat suaranya. Tidak memarahi. Ia hanya berkata dengan tenang, namun tegas:

“Aku tidak akan makan sampai engkau makan.”

Abu Darda’ terdiam. Akhirnya ia pun duduk dan makan.

Malam datang. Abu Darda’ bersiap bangun untuk shalat malam. Salman berkata:

“Tidurlah.”

Abu Darda’ menurut. Beberapa saat kemudian, ia bangun lagi.

Salman kembali berkata:

“Tidurlah.”

Baru di penghujung malam, Salman berkata:

“Sekarang bangunlah dan shalatlah.”

Setelah shalat, Salman memandang sahabatnya dan berkata kalimat yang kelak menjadi kaidah besar dalam Islam:

“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, tubuhmu memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak akan haknya.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada celaan. Hanya kebenaran yang disampaikan dengan kasih. Abu Darda’ mendengarnya dengan hati yang terbuka.

Keesokan harinya, kisah itu disampaikan kepada Rasulullah SAW. Dan Nabi SAW —yang paling mengenal keseimbangan ibadah—tidak menambah kata panjang.

Beliau hanya bersabda:

“Salman benar.” (HR. Bukhari)

Satu kalimat. Namun cukup untuk meluruskan satu cara pandang. Bahwa Islam tidak mengajarkan ibadah yang mematikan tubuh, mengeringkan jiwa, atau mengabaikan hak orang terdekat.

Bahwa mendekat kepada Allah bukan dengan melampaui batas, tetapi dengan menjaga keseimbangan yang Dia cintai. Abu Darda’ tidak dicela. Ia tidak dipermalukan. Ia hanya diarahkan kembali ke jalan yang lurus. Karena dalam Islam, bahkan ibadah pun harus adil. Adil kepada Allah. Adil kepada diri sendiri. Dan adil kepada orang yang Allah titipkan dalam hidup kita. (*)

Disarikand ari HR. Bukhari nomor 1968 

Kisah Abu Darda’ dan Salman Al-Farisi

Allahumma shalli’ala sayyidina Muhammad wa’ala aali sayyidina Muhammad