Sjamsul Arifin, Abadikan Nama Indonesia pada Senyawa Kimia Dunia

Reporter : Redaksi
Sjamsul Arifin

Indonesia sering kali disebut sebagai laboratorium alam terbesar di dunia. Namun, kekayaan hayati itu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan menyampaikannya kepada dunia. Salah satu putra terbaik bangsa yang berhasil melakukan hal tersebut adalah Prof. Sjamsul Arifin Achmad.

Lahir di Padang pada 11 April 1934, pakar kimia organik dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini bukan sekadar peneliti biasa. Ia adalah sosok di balik penemuan puluhan senyawa kimia baru berkhasiat obat, yang secara unik selalu ia beri nama dengan identitas "Indonesia".

Baca juga: Meninggalkan 'Bulu Surga' Cenderawasih, Prajurit Yonif 501 Bajra Yudha Kembali ke Markas di Madiun

Nasionalisme di Atas Karier Global: Menolak UCLA demi Pulang Kampung

Perjalanan akademik Prof Sjamsul Arifin adalah potret kejeniusan sejak muda. Setamat SMA di Bandung pada tahun 1954, ia sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, jalannya berubah ketika ia menerima beasiswa Colombo Plan ke Australia pada akhir tahun 1955 untuk mendalami ilmu Kimia di University of New South Wales (UNSW), Sydney.

Di Australia, prestasinya luar biasa. Ia lulus sebagai lulusan terbaik dengan predikat First Class Honours pada tahun 1960, lalu menyelesaikan program Ph.D pada tahun 1964. Selama riset doktornya, ia dibimbing oleh Prof. GWK Cavill, yang bekerja sama langsung dengan dua peraih Nobel dunia dari Oxford dan Harvard.

Melihat bakat besarnya, Prof. Sjamsul langsung ditawari untuk mengikuti program Post-Doctoral di UCLA, Amerika Serikat. Peluang emas untuk berkarier di pusat sains dunia sudah di depan mata. Namun, rasa cintanya pada tanah air mengalahkan segalanya. Ia menolak tawaran menggiurkan tersebut dan memilih pulang ke Indonesia pada tahun 1964 untuk mengabdi di ITB. 

Pada tahun 1977, ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Kimia Organik Bahan Alam.Menamai Senyawa Baru dengan Nama "Indonesia"

Sebagai ilmuwan, Prof. Sjamsul memiliki keyakinan kuat bahwa tanaman hutan Indonesia menyimpan sejuta khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Mulai tahun 1985, bersama tim peneliti hebat di Departemen Kimia FMIPA ITB—termasuk Dr. Euis Holisotan Hakim, Yana Maolana Syah, Lia Dewi Juliawaty, Didin Mujahidin, dan Lukman Makmur—ia mulai berburu senyawa aktif dari tanaman lokal.

Ketika berhasil menemukan senyawa-senyawa kimia baru yang belum pernah tercatat dalam sejarah sains dunia, Prof. Sjamsul menolak menggunakan nama ilmiah kebarat-baratan. Ia memilih mengabadikan nama bangsa pada penemuannya :

Nama Senyawa Baru : Diptoindonesianin (A, B, C, dst.). Diisolasi dari tanaman Meranti (Vatica) asal hutan Kalimantan. Memiliki sifat Antibakteri yang kuat.

Baca juga: Satgas Pamtas Yonif 501 Bajra Yudha Jemput Keluarga Organisasi Papua Merdeka

Artoindonesianin (A, B, C, dst.). Diisolasi dari tanaman Nangka/Cempedak (Artocarpus champeden) asal Sumatra Barat. Memiliki sifat Antikanker.

Langkah ini membuat nama "Indonesia" melekat secara permanen di jurnal-jurnal sains internasional. Hingga tahun 2010, dedikasi risetnya telah menelurkan lebih dari 450 publikasi ilmiah dan dipresentasikan di ratusan konferensi dunia.

Hujan Penghargaan BergengsiAtas kontribusi besarnya selama lebih dari 40 tahun di dunia kimia organik, dunia internasional dan nasional berlutut menghormati dedikasinya.

Rentetan penghargaan tertinggi pun ia raih di penghujung kariernya :

Tahun 2004 :  Meraih Honorary Doctor of Science dari Universiti Kebangsaan Malaysia, tempat ia pernah diperbantukan sebagai Associate Professor pada tahun 1975–1977.

Baca juga: Kisah Legendaris Sedyatmo, Penemu Pondasi Cakar Ayam Dunia

Tahun 2004 : Menerima Sarwono Prawirohardjo Award dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tahun 2004: Dianugerahi gelar Professor Emeritus di ITB atas pengabdian seumur hidupnya.

Tahun 2005 : Menerima penghargaan bergengsi Habibie Award dalam bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi.

Prof. Sjamsul Arifin Achmad telah berpulang, namun warisannya tetap abadi. Melalui deretan nama Artoindonesianin dan Diptoindonesianin yang diakuinya dunia, sang putra Padang ini telah membuktikan bahwa nasionalisme bisa diwujudkan lewat tabung reaksi dan dedikasi ilmmu pengetahuan. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru