Langit di jalur Gaza hampir tak pernah benar benar cerah sejak perang meledak pada Oktober 2023. Di antara reruntuhan dan debu yang terus beterbangan, Yousef Abu Hatab menjalani rutinitas yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya.
Sejak sekitar 15 Oktober 2023, pria berusia sekitar 65 tahun itu mengaku telah menguburkan lebih dari 18 Ribu jenazah. Angka yang bagi banyak orang hanya statistic. Bagi dirinya adalah wajah-wajah yang ia angkat sendiri, liang lahat yang ia gali dengan tangan, dan doa singkat yang sering kali diucapkan dalam kelelahan. Ia bekerja hingga 14 sampai 16 jam setiap hari, tanpa jeda yang cukup, karena jenazah terus berdatangan.
Baca juga: 1 Pesawat Hercules A-1343 Diberangkatkan ke Gaza
Di jalur Gaza, sistem pemakaman praktis runtuh. Lahan penuh, alat berat nyaris tidak ada, dan waktu untuk ritual semakin sempit. Banyak jenazah dimakamkan secara massal, sebagian tanpa identitas.
Dalam kondisi seperti itu, Yousef sering menggunakan puing bangunan sebagai penutup makam karena ketiadaan material. Ia memastikan setiap tubuh tetap dikuburkan, meski tanpa nama dan tanpa keluarga yang menyaksikan.
Baca juga: Kondisi Kejiwaan Serdadu Zionis
Di tengah semua itu, satu kalimat darinya menjadi yang paling sering dikutip dari berbagai liputan lapangan.
“Saya belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.” Kalimat sederhana itu merangkum skala tragedi yang ia hadapi setiap hari, bahkan setelah bertahun tahun bekerja sejak tahun 2005.
Baca juga: Misi Israel Invasi ke Jalur Gaza
Namun beban terberat bukan hanya jumlahnya. Ia juga harus menguburkan orang orang terdekatnya sendiri. Anak dan saudaranya menjadi bagian dari ribuan korban yang ia tangani. Dalam satu momen yang paling menghancurkan, ia mengambil sendiri jasad anaknya yang tergeletak selama 2 hari di jalan, di bawah ancaman tembakan. Tidak ada batas jelas antara pekerjaan dan kehilangan pribadi.
Ia telah menjadi penggali kubur sejak tahun 2005, tetapi periode ini melampaui semua yang pernah ia alami. Bukan hanya karena jumlah kematian, tetapi karena kecepatan dan skala tragedi yang tidak memberi ruang bagi manusia untuk benar benar berduka. Setiap liang yang ia gali bukan sekadar lubang di tanah, melainkan penanda bahwa satu kehidupan telah berakhir tanpa sempat diceritakan sepenuhnya. (*)
Editor : Bambang Harianto