Petaka Segenggam Rempah Bukan Dimulai Lewat Jalur Perang

Reporter : Redaksi
Perdagangan rempah Nusantara

Kisah penjajahan Indonesia ternyata tidak dimulai di Nusantara, melainkan dari sebuah kota berjarak ribuan kilometer, bernama Konstantinopel.

Pada tahun 1453, kota pusat perdagangan dunia ini jatuh ke tangan Kesultanan Turki Utsmani. Jalur perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa seketika terputus dan diblokade.

Baca juga: Ratusan Ton Komoditas Unggulan dari Jambi Diekspor

Bagi bangsa Eropa kala itu, rempah-rempah seperti cengkeh, lada, dan pala bukanlah sekadar bumbu dapur. Itu adalah komoditas mewah untuk mengawetkan daging saat musim dingin, obat-obatan, hingga simbol status sosial. Harganya bahkan lebih mahal dari emas murni.

Krisis ini memaksa bangsa Eropa untuk memutar otak. Lalu muncullah era Penjelajahan Samudra (Age of Discovery).

Didorong oleh semboyan Gold (kekayaan), Glory (kejayaan), Gospel (agama), pelaut-pelaut nekat dari Portugis dan Spanyol mulai berlayar menyusuri rute mematikan. Misinya satu, mencari sumber rempah langsung ke akarnya di Dunia Timur.

Tahun 1511, Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Malaka, pintu gerbang perdagangan Asia. Tak butuh waktu lama, pada tahun 1512, mereka berhasil menginjakkan kaki di "Surga Rempah-Rempah" yaitu Kepulauan Maluku.

Baca juga: Kronik Mongondow dan Minahasa

Awalnya mereka datang sebagai pedagang, namun niat memonopoli perlahan memicu konflik berdarah dengan kesultanan lokal. Mencium keuntungan yang melimpah, bangsa Belanda tak mau kalah.

Pada tahun 1596, armada Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman berhasil mendarat di Banten. Meski awalnya diusir karena sikapnya yang arogan, kedatangan ini membuka jalan bagi ribuan kapal Belanda lainnya untuk berbondong-bondong datang ke Nusantara.

Untuk menghindari persaingan antar pedagang Belanda sendiri, pada tahun 1602 dibentuklah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Baca juga: Sejarah Berdirinya Negara Depok

VOC bukanlah negara, melainkan sebuah perusahaan kongsi dagang. Namun mereka diberi hak istimewa untuk memiliki tentara, mencetak uang hingga menyatakan perang.

Berbekal senjata, taktik adu domba, dan keserakahan, VOC perlahan berubah dari sekadar tamu pedagang menjadi penguasa lalim. Kerajaan-kerajaan lokal ditaklukkan satu per satu. Dari sinilah, mimpi buruk penjajahan yang akan mencekik Nusantara selama berabad-abad resmi dimulai. (*)

Editor : S. Anwar

Peristiwa
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru